Memotret dunia anak-anak dari sudut pandang orang dewasa seringkali menampilkan sebuah reproduksi yang bias.Seringkali tokoh anak-anak akan muncul secara artifisial,tidak saja lewat karakter yang ingin ditampilkan,tetapi juga dialog anak-anak yang mewarnai setiap adegan .Tokoh anak-anak sering menjebak sang penulis untuk ditampilkan secara tipikal hitam putih. Baik,rajin,penurut,pandai. Atau culas,nakal dan malas. Begitu pula dalam menyusun dialog, yang sering terjadi adalah bukan percakapan dengan logika dan bahasa anak. Di tangan penulis Nening S.Mahendra (57),cerita anak-anak Nyanyian Kembang Tebu (NyKT) dengan setting pedesaan yang berada dikawasan pabrik gula (PG) Pangkah – Tegal ini ,tidak saja unik dan menarik,tetapi natural dan orisinal.
Pabrik gula (PG) adalah bagian dari sejarah panjang kolonialisme di negeri ini yang berlangsung sejak awal abad ke 19. Di kawasan sekitar PG ini berkembang sebuah komunitas dengan budaya yang agak berbeda dengan komunitas lain,karena adanya interaksi sosial dengan struktur industri yang berbeda dengan pola hidup pedesaan yang masih tradisional.Menjadi buruh,berinteraksi dengan tuan-tuan Belanda dan staf pabrik yang biasanya berasal dari daerah lain,yang berlangsung selama beberapa generasi,tentulah membekas dan berpengaruh secara sosial dan budaya. Begitu pula anak-anak yang tinggal di sekitar pabrik gula.Kehadiran sebuah pabrik,cerobong yang tinggi menjulang,deru mesin,lori tebu dengan rel-rel yang melintang ditengah persawahan,tentulah akan menimbulkan sensasi dan imajinasi yang sulit dibayangkan dalam benak mereka.Belum lagi adanya upacara-upacara dan perayaan yang selalu dinantikan oleh anak-anak, yang dalam (NyKT) menjadi bab pembuka yaitu Nonton Methikan dan Pengantin Tebu. Inilah pesta diawalinya musim giling atau produksi di setiap pabrik gula. Pesta yang merupakan pasar malam berlangsung selama beberapa hari dan merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat sekitar pabrik.
Hal-hal itulah yang menjadi sebagian latar belakang potret anak-anak dalam NyKT. Layaknya sebuah novel yang didedikasikan untuk bacaan anak-anak, Nening S.Mahendra dengan terampil meramu pelbagai unsur yang selalu menjadi bumbu penyedap dunia anak-anak,yakni petualangan,persahabatan,perkelahian antar kelompok (Tawuran,Malam yang Mencekam), takhayul,tempat angker,orang sakti,penampakan arwah dan misteri-misteri lainnya (Tuan Halbosh,Misteri Loko Uap Nomor Delapan,Misteri Jembatan Tonggara dsb).Disamping tentu saja pelpagai contoh kebajikan,pendidikan dan ilmu pengetahuan (Pertemuan di Pendopo,Mengunjungi Pabrik,Diskusi Gula Pasir dsb.) yang bekelindan dalam jalinan kisah-kisah yang sangat menarik.Sejarah dan latar belakang pendirian pabrik gula,pengetahuan tentang teknik dan permesinan ,proses produksi dari air tebu menjadi gula pasir,bahkan sistem administrasi pabriki gula juga tidak luput diangkat dalam buku ini.Namun semuanya ditampilkan dalam bingkai yang sangat lentur,sehingga tanpa merasa diberi “pelajaran”,pembaca (anak-anak) akan memahami melalui sebuah alur cerita dan percakapan para tokoh.
Hal lain yang menarik dalam buku ini adalah banyaknya percakapan yang menggunakan dialek Tegal sehingga lebih mengentalkan warna lokal yang hendak ditampilkan.Dialek yang sudah sejak lama sering dijadikan lawakan di media tv ini, adalah sebuah warisan budaya (bahasa ibu) yang kaya dengan idiom - idiom khas . Idiom dan kata seru yang sulit di- Bahasa Indonesia-kan. Bagi penutur bahasa yang dekat dan memahami dialek Tegal, “ramai”-nya dialog Tegalan dalam buku ini tentulah merupakan daya tarik tersendiri. Bagi penutur bahasa yang tidak akrab dengan dialek Tegal mungkin agak terganggu,meskipun diberikan catatan kaki sampai ratusan nomor.
Yang jelas (NyKT) adalah sebuah potret lengkap dunia anak-anak dari sebuah wilayah yang sangat unik dan menarik. Banyak sekali surprise dan hal-hal baru dalam (NyKT) yang jarang atau hampir tidak pernah diangkat dalam khasanah bacaan anak-anak sebelumnya.
Itulah sekedar catatan untuk mendorong minat khalayak pecinta buku,khususnya buku bacaan untuk anak-anak. Selamat membaca !
Sabtu, 25 Juni 2011
Sabtu, 13 Maret 2010
Menanti Kurikulum Pelajaran Bahasa Tegal.
SAMBIL memeringati Hari Bahasa Ibu Internasional tanggal 21 Pebruari, kita layak mengapresiasi pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal yang akan menjadikan bahasa Tegal sebagai kurikulum muatan lokal (SM 29/1). Bahasa Tegal adalah salah satu dari sekitar 700-an bahasa ibu yang (masih) ada di Indonesia. Secara psikologis bahasa Tegal sudah tertanam didalam pikiran anak-anak yang lahir dan dibesarkan di wilayah ini.Secara sosial bahasa Tegal adalah sarana komunikasi dan ekspresi jatidiri “wong” Tegal yang telah berlangsung turun temurun. Salah satu rekomendasi Kongres Bahasa Tegal I (4 April 2006) adalah pembudayaan bahasa Tegal melalui strategi kurikuler. Selama ini sesuai dengan SK Gubernur No.895.5/01/2005 untuk siswa SD/SMP/SMA wilayah Jawa Tengah diberlakukan kurikulum bahasa Jawa sebagai muatan lokal (mulok). Namun bagi siswa yang sehari-hari berbahasa Tegal, pelajaran bahasa Jawa (baku) dirasakan sangat sulit bahkan menjadi momok yang menakutkan. Berdasarkan pengamatan penulis, kebanyakan siswa tidak menguasai materi yang diajarkan. Mata pelajaran (mapel) bahasa Jawa dengan segala bentuk kaidah-kaidah khusus yang rumit,justru tidak membuat siswa (Tegal) mampu berbahasa Jawa dengan baik. Bahasa Jawa seakan-akan identik dengan bahasa asing. Rencana pemberlakuan kurikulum mulok bahasa Tegal, sudah selayaknya disambut positif oleh seluruh pemangku kebijakan pendidikan.Paling tidak bagi para siswa yang sejak lama mengeluhkan sulitnya mapel bahasa Jawa.
Memang masih ada kegamangan bahkan resistensi yang cenderung sinis terhadap rencana tersebut. Tidak saja faktor-faktor legalistik dan pranata teknis yang bakal menjadi kendala, tetapi masih adanya anggapan klasik dan stigmatisasi negatif masyarakat dan orang tua siswa terhadap bahasa Tegal yang katanya “kasar, tidak baku dan tidak mengenal unggah-ungguh”. Belum lagi pertanyaan logis yang sering terlontar: sudah siapkah tenaga pengajar yang kompeten,buku ajar yang sesuai dan metoda yang efektif ?
Pembuatan perda,penyusunan kurikulum,penyediaan buku ajar dan guru pengampu tentu bukan hal yang sederhana. Sebagai produk hukum yang mengatur tata kelola penyelenggaraan pengajaran bahasa yang nota bene adalah poduk budaya, perda tentang kurikulum bahasa Tegal seyogyanya dirancang dengan sangat seksama. Azas manfaatnya dan filosofinya harus mencerminkan nilai-nilai warisan budaya dan kearifan lokal. Begitu juga penyusunan kurikulum yang dengan nyata menunjukkan tujuan secara umum dan khusus, meliputi pengertian dan ruang lingkup yang jelas.Pengajaran bahasa Tegal jangan malah mempersulit para siswa,yang pada gilirannya akan menjadikan mapel bahasa Tegal bernasib sama dengan mapel bahasa Jawa yang semakin dijauhi dan tidak diminati para siswa. Bahasa Tegal harus dikembangkan dalam kerangka menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa ibu tanpa menghilangkan ciri-ciri dan karakternya yang sangat khas.
Berbeda dengan bahasa Jawa yang sudah sejak lama dipelihara dipusat-pusat kebudayaan (baca keraton Surakarta dan Yogyakarta), melalui lembaga-lembaga kesenian serta diajarkan di sekolah selama bertahun-tahun,bahasa Tegal tumbuh dan berkembang secara otonom ditangan para penuturnya. Bahasa Tegal yang lebih sering digunakan sebagai bahasa tutur dan pergaulan katimbang bahasa tulis, menyebabkan sampai saat ini tidak memiliki memiliki ejaan baku. Beragam kosakata dan idiom juga muncul dan hilang begitu saja tanpa sempat dicatat dan didokumentasikan.Kebiasaan berbahasa Indonesia dikalangan kaum muda juga bepengaruh dalam praktek fonetik. Sehingga sering terjadi kerancuan ucap antara [d] dalam kata adol (menjual) dan [dh] dalam kata endhog( telur). Bahkan ada yang samasekali tidak bisa mengucapkan fonem /th/ misalnya bathuk (dahi), karena fonem /th/ tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Bahkan ternyata bahasa Tegal juga tidak memiliki kataganti orang yang bersifat jamak, seperti dalam bahasa Indonesia kami dan kita.Bahasa Tegal hanya mengenal enyong ( aku,saya) dan kowen (engkau,anda).Banyak sekali keunikan dan karakteristik bahasa Tegal yang hanya bisa difahami oleh penutur asli.Barangkali hal-hal semacam ini juga patut menjadi pertimbangan dalam menyusun kurikulum dan buku ajar.Dibutuhkan sebuah lembaga bahasa (Tegal) yang mumpuni,berwibawa dan dipercaya (credible) untuk bisa menjadi rujukan,agar kelak tidak menimbulkan masalah bahasa dan kerancuan budaya.
Kurikulum mulok bahasa Tegal semoga tidak hanya wacana.Untuk mewujudkannya diperlukan kemauan baik dan komitmen dari pelbagai unsur dan stakeholder : eksekutif,
legislatif,kalangan pendidikan,budayawan,para pakar dan praktisi ,para pemerhati dan pecinta bahasa Tegal. Semuanya harus berembuk dengan semangat dan ideologi yang sama. Barangkali agar gagasan mulia tersebut tidak keburu basi, maka kurikulum mulok bahasa Tegal dengan sarana yang ada mulai diuji cobakan dibeberapa sekolah Kalau menunggu terbitnya perda yang sudah dipastikan akan sangat lama,maka sebagai payung hukum, sementara cukup dengan SK Walikota saja. Nah anak-anak, selamat belajar bahasa Tegal !
Memang masih ada kegamangan bahkan resistensi yang cenderung sinis terhadap rencana tersebut. Tidak saja faktor-faktor legalistik dan pranata teknis yang bakal menjadi kendala, tetapi masih adanya anggapan klasik dan stigmatisasi negatif masyarakat dan orang tua siswa terhadap bahasa Tegal yang katanya “kasar, tidak baku dan tidak mengenal unggah-ungguh”. Belum lagi pertanyaan logis yang sering terlontar: sudah siapkah tenaga pengajar yang kompeten,buku ajar yang sesuai dan metoda yang efektif ?
Pembuatan perda,penyusunan kurikulum,penyediaan buku ajar dan guru pengampu tentu bukan hal yang sederhana. Sebagai produk hukum yang mengatur tata kelola penyelenggaraan pengajaran bahasa yang nota bene adalah poduk budaya, perda tentang kurikulum bahasa Tegal seyogyanya dirancang dengan sangat seksama. Azas manfaatnya dan filosofinya harus mencerminkan nilai-nilai warisan budaya dan kearifan lokal. Begitu juga penyusunan kurikulum yang dengan nyata menunjukkan tujuan secara umum dan khusus, meliputi pengertian dan ruang lingkup yang jelas.Pengajaran bahasa Tegal jangan malah mempersulit para siswa,yang pada gilirannya akan menjadikan mapel bahasa Tegal bernasib sama dengan mapel bahasa Jawa yang semakin dijauhi dan tidak diminati para siswa. Bahasa Tegal harus dikembangkan dalam kerangka menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa ibu tanpa menghilangkan ciri-ciri dan karakternya yang sangat khas.
Berbeda dengan bahasa Jawa yang sudah sejak lama dipelihara dipusat-pusat kebudayaan (baca keraton Surakarta dan Yogyakarta), melalui lembaga-lembaga kesenian serta diajarkan di sekolah selama bertahun-tahun,bahasa Tegal tumbuh dan berkembang secara otonom ditangan para penuturnya. Bahasa Tegal yang lebih sering digunakan sebagai bahasa tutur dan pergaulan katimbang bahasa tulis, menyebabkan sampai saat ini tidak memiliki memiliki ejaan baku. Beragam kosakata dan idiom juga muncul dan hilang begitu saja tanpa sempat dicatat dan didokumentasikan.Kebiasaan berbahasa Indonesia dikalangan kaum muda juga bepengaruh dalam praktek fonetik. Sehingga sering terjadi kerancuan ucap antara [d] dalam kata adol (menjual) dan [dh] dalam kata endhog( telur). Bahkan ada yang samasekali tidak bisa mengucapkan fonem /th/ misalnya bathuk (dahi), karena fonem /th/ tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Bahkan ternyata bahasa Tegal juga tidak memiliki kataganti orang yang bersifat jamak, seperti dalam bahasa Indonesia kami dan kita.Bahasa Tegal hanya mengenal enyong ( aku,saya) dan kowen (engkau,anda).Banyak sekali keunikan dan karakteristik bahasa Tegal yang hanya bisa difahami oleh penutur asli.Barangkali hal-hal semacam ini juga patut menjadi pertimbangan dalam menyusun kurikulum dan buku ajar.Dibutuhkan sebuah lembaga bahasa (Tegal) yang mumpuni,berwibawa dan dipercaya (credible) untuk bisa menjadi rujukan,agar kelak tidak menimbulkan masalah bahasa dan kerancuan budaya.
Kurikulum mulok bahasa Tegal semoga tidak hanya wacana.Untuk mewujudkannya diperlukan kemauan baik dan komitmen dari pelbagai unsur dan stakeholder : eksekutif,
legislatif,kalangan pendidikan,budayawan,para pakar dan praktisi ,para pemerhati dan pecinta bahasa Tegal. Semuanya harus berembuk dengan semangat dan ideologi yang sama. Barangkali agar gagasan mulia tersebut tidak keburu basi, maka kurikulum mulok bahasa Tegal dengan sarana yang ada mulai diuji cobakan dibeberapa sekolah Kalau menunggu terbitnya perda yang sudah dipastikan akan sangat lama,maka sebagai payung hukum, sementara cukup dengan SK Walikota saja. Nah anak-anak, selamat belajar bahasa Tegal !
Label:
Artikel
Jumat, 03 Juli 2009
Novel Bahasa Tegal
Surat Saka Bapak
Ater-Ater
“Tak aturaken kanggo jenaté Bapak karo Ibu,sing ora
mung ngukir jiwa lan ragaku, nanging nggulawentah
tatakrama lan tatabasa nganggo Bahasa Ibu,sing
tansah tak rawat lan tak ugemi.
Muga-muga Novel Bahasa Tegal kiyé bisa kanggo
mepeki karya sastra Tegalan sing urip lan ngrembaka
nang tlatah Tegal sing banget-banget tak tresnani”
26 Januar 2009
1
Wulan Maret tahun 2000. Waktu kuwé nyong tèsih mahasiswa semester VI nang Jakarta. Balik kuliah, nembé dhog nang pondhokan, nyong dundang daning Ibu Mila, sing duwé pondhokan. Nyong runtag. Ana apa ya..?.Jebulé nyong olih kiriman surat. Ana surat kilat sing Bapak.Ora pranti-pranti Bapak kirim surat.Apa maning surat kilat. Nrima surat kilat kaya kuwé nyong runtag ora kira-kira. Sajegé nyong kuliah Bapak durung tau kirim surat kaya kuwé. Ana apa èh…?. Kadingarèn nemen, pikiré nyong. Surat langsung tak buka.Atiné nyong mak tratab, bareng weruh suraté Bapak dawa nemen nganti rong kebèt.Sing gawé kagèt tur èram, suraté dudu tulisan tangan,tapi tik-tikan rapi nemen lan difoto kopi. Dadi persis kaya surat dines utawa surat resmi, sing isiné kaya kiyé :
Tegal, Rebo 8 Maret 2000.
Kanggo anak-anakku
1. Drs.Slamet Margono nang Semarang,
2. Dwi Endang Kusrini, nang Purwokerto
3. Ir.Gunadi Santoso, nang Indramayu
4. Drs. Agung Siswondo, nang Pemalang
5. Ragil Pramularso, nang Jakarta
Anak anakku kabèh,sing tak tresnani.Alkhamdulillah, waktu kiyé kahanané Bapak slamet,waras,wiris,ora kurang sawiji apa.Muga-muga anakku kabèh, mantu lan putu putuku sing banget-banget tak tresnani ya mengkono uga kahanané. Mulané Bapak kirim surat kiyé, ana sawiji hal penting sing pan tak sampèkna maring kowen kabèh.
Sajegé ibumu ora nana 8 taun kepungkur, senajan Bapak kuwé anaké akèh, tapi Bapak persasat urip dhèwèkan.Kowen ya weruh dhèwèk,yèn seduluré Bapak mung kari siji bibimu Lasmi sing nang Brebes. Seduluré jenaté ibumu , bibi karo paman-pamanmu ya akèh. Ana sing nang Slawi, nang Tegal, nang Pekalongan . Keponakan ya pirang-pirang. Senajan padha sibuk dhèwèk-dhèwèk , tapi kadhang-kadhang ya ana sing gelem tilik Bapak. Lagi Ibumu tembè baé ora nana, Bapak pancèn ora patia kesepian.Waktu kuwé nang umah iyé èsih ana Wondo karo Pram sing kena kanggo batir. Tapi bareng Wondo karo Pram padha kuliah, Bapak bener-bener krasa yèn Bapak mung urip dhèwèkan. Paling-paling angger awan ana Bi Dasmi sing ngancani Bapak. Lumayan kanggo dikongkon ngliwet karo umbah-umbah pakéan. Tapi kowen kan weruh dhèwèk, Bi Dasmi kuwé saiki wis tuwa nemen.Tenagané ya wis ropoh. Mulané wis nem wulan sapréné Bi Dasmi tak kongkon lirèn. Untungé ana Si Tarmunah , putuné wadon sing sekolah SMP gelem njuguli mboktuwané mbuh seminggu sepisan mbuh apa. Dadi seminggu sepisan adhong dina Minggu utawa liburan Si Tarmunah tak kongkon mréné. Perluné resik-resik umah karo nyapu pekarangan.
Wis 3 taun sapréné, bareng Pram nerusna kuliah nang Jakarta, Bapak sangsaya ngrasa temenan olihé urip dhèwèkan. Waktu kuwé kowen pancèn padha nawani,apa ènaké Bapak manggon nang Purwokerto karo Kus, apa nang Semarang karo Slamet, apa karo Si Gun nang Indramayu. Tapi kabèh tak tolak. Soalé Bapak ora kepèngin ngrèpoti anak.Bapak uga ora kepèngin mbèdak-mbèdakna maring anak siji lan sijiné.Kabèh anak-anakku,mbuh lanang mbuh wadon,mbuh sing uripé kecukupan mbuh sing ora, kabèh tak anggep padha baé.Sebabé mbokan Bapak mèlu anak wadon,mengko anak lanangé kesirian.Mèlu anak sing nang Indramayu,mengko sing nang Semarang kesirian. Bapak ora kepèngin kaya kuwé. Dadi luwih apik Bapak urip dhèwèkan nang kéné. Waktu kuwé pikirané Bapak mung kepèngin ,supaya Bapak parek olihé njukut pensiuné lan parek adhong Bapak kepèngin niliki pesaréané jenaté ibumu. Bapak ya tèsih tetep bisa ngrumat umah lan pekarangan. Toh angger Bapak kangen karo kowen,
sewaktu-waktu Bapak bisa telpon. Semono uga ora kètang seminggu sepisan Bapak olih telpon mbuh sing Semarang,sing Indramayu ,mbuh sing Purwokerto.
Tapi saiki bareng wis setaun Bapak pensiun,lan 8 taun ditinggal Ibumu, tak rasak-rasakna uripé Bapak kayong sangsaya ora kepènak. Bapak ngrasakna, yèn umah sing gedhé kiyé mung dadi beban sing abot nemen. Gemiyèn, lagi kowen kabèh tèsih
padha cilik-cilik tah umah kiyé kayong kurang gedhé. Tapi saiki bareng Ibumu wis ora nana lan kowen kabèh pada bubar,umah kiyé kayong kegedhèn nemen.Bapa rumangsa kaboten olihé ngrumat,mbayar PBB,mbayar listrik, mbayar ledeng,mbayar telpon lan liya-liyané. Mulané lumantar surat kiyé, Bapak ngèin weruh yèn Bapak duwé rencana sing kepèngin tak rundingaken karo kowen kabèh.
Anak-anakku sing tak tresnani. Rencanané Bapak kaya kiyé : umah kiyé arep tak dol. Menurut pandhangané Bapak angger saiki didol regané mesthi larang, wong umahé gedhé,kamar papat,dhapur, kamar mandi pepek,lokasiné nang pinggir dalan gedhé, pekarangané ya amba.Listriké baé 1300 wat. Banyuné ya PAM. Telponé ya ana. Lha mengko angger wis payu dhuwité arep tak bagi-bagi kanggo kowen kabèh. Umah kiyé kan haké kowen kabèh. Bapak pan njaluk sethithik baé kanggo tuku umah cilik-cilikan. Lokasiné ora kudu nang kota, tapi mingser nang kampung mbuh apa,sing penting tenang.Umah cilik sing kamaré cukup loro baé, nggo turu Bapak karo Si Pram mbokan sewaktu-waktu balik liburan.Lha mengko, angger wis duwé umah cilik, Bapak duwé rencana kepèngin duwé pendamping maning, ètung-ètung bisa kanggo kanca urip lan ngopèni Bapak. Nganti mbèsuk yèn wis tekan waktuné Bapak dipundhut daning Sing Maha Kuwasa.
Anak-anakku kabèh sing banget tak tresnani. Gegandhèngan karo apa sing tak tulis nang dhuwur, kowen padha tak arep-arep bisa teka mréné, mengko nang dina Minggu ngarep tanggal 12 Maret . Perluné Bapak arep ngrembug masalah rencana adol umah, ngiras-ngirus kowen kabèh bisa padha kenalan karo calon Ibumu sing anyar.Tak jaluk angger padha teka méné ora usah nggawa keluwarga, sebab sing arep dirembug kuwé masalah intern keluarga dhèwèk.
Anak-anakku,cukup saméné ndisit kabar sing Bapak , muga-muga kowen kabèh padha bisa mangertèni apa sing dadi kekarepané Bapakmu. Ora klalèn Bapak kirim salam kanggo kowen kabèh karo keluwargamu..
Saka Bapakmu sing tansah tresna.
(Ramelan Wirjoatmodjo).
Maca suraté Bapak sing kaya kuwé nyong mung gèdhèg-gèdhèg thok. Perasaané nyong campur adhuk : terharu,melas,bungah,tapi uga kegugu.Bapak kepèngin mbojo maning?. Nyong ora bisa mbayangna,bapané nyong sing umuré wis 56 kepèngin mbojo maning.Terus nyong pan duwé ibu kuwalon?. Lha terus upamané wong wadon kuwé duwé anak,Bapak bakal duwé anak kuwalon?. Terus nyong dadiné duwé sedulur kuwalon…..?. Héhéhéhé….nyong gemuyu dhèwèk. Terus Bapak pan mbojo maning karo sapa?. Lan wong wadon sapa sing bisa ngluluhaken atiné Bapak nganti Bapak bisa duwé kekarepan kepèngin duwé bojo maning ?. Apa Bapak wis bisa ngilangaken kenangan sing manis mbuh sing pait 26 taun suwéné urip karo jenaté Ibu ?. Nyong ora bisa mbayangaken kepribèn reaksiné kakang-kakang lan mbakyuné nyong sawisé maca
suraté Bapak sing kaya kuwé. Terutama Yu Kus,mbakyuné nyong siji-sijiné,sing awit bocah nganti semana tuwané tésih aleman maring Bapak. Yu Kus sing sering ngèin nasehat maring sedulur-sedulur lanangé supaya rumah tanggané padha niru kaya Bapak, sing nganti 26 taun bisa tetep setia lan jujur karo jenaté Ibu. Tapi saiki…. Bareng ditinggal sèda Ibu 8 tahun, Bapak ujug-ujug kepèngin mbojo maning. Akh….Pak…Pak… nyong mung bisa ngundang-undang Bapak sing kadohan…..
Surat tak lempit maning,tak anjingna nang amplopé.Maca suraté Bapak sing dawa lan nyentuh nang ati kaya kuwé, nyong nganti klalèn mangan. Nyong turon ngathang-ngathang nang dipan. Tangané sedhakep nang weteng karo nggegem suraté Bapak. Pikirané nyong mblayang mrana-mrana. Bayangan wajahé Bapak sing umuré wis pan sewidak ujug-ujug katon jelas nang arep mata. Bapak sing rambut karo brengosé wis putih kabèh. Awaké gering.Mlakuné rada bungkuk. Ah, Bapaké nyong sing wis katon tuwa nemen…Karo merem melik nyong nglirik maring potreté Bapak karo jenaté Ibu sing tak pajang nang rak buku. Potret ireng putih. Nang kono Bapak ngadeg gagah nemen nganggo setélan jas ireng,kemejané putih,dasiné ireng.Nang jèjèré, jenaté Ibu njagong nang korsi ukiran, nganggo tapih batikan Solo,klambiné burkat,kudhungé nglawèr. Nang ngarepé Ibu, nyong sing umuré nembé telung taun ngadeg nganggo setèlan putih-putih ana setripé biru nang gulu karo lengené, kaya pakéané matros utawa kelasi kapal.Enyong tèsih kèlingan potret kuwé digawé nang poto studio. Waktu kuwé Bapak karo Ibu balik kondangan sing gedung pertemuan Titi Kawedar sing parek Balaikota. Terus baliké mampir nang studio poto sing ana nang jalan Veteran. Potrèt kuwé potrèt kesayangané
nyong,sing sering tak sawang angger nyong lagi kangen maring Bapak .Utawa angger nyong tes ngimpi ketemu jenaté Ibu. Seringé potret kuwé tak sikep karo tak ambungi. Ah, angger wis kaya kuwé nyong rumangsa kaya dadi bocah cilik maning.
Ora krasa rainé nyong mrekabak,matané teles. Nyong ora ngira babar pisan jebulé Bapak duwé rencana sing anèh lan muskil kaya kuwé.Angger i keberatan ngrumat umah gedhé utawa kepèngin mbagi warisan kanggo anak-anaké tah nyong bisa maklum.Tapi angger Bapak ujug-ujug duwé niat arep adol umah terus pan kawin maning……?.Bener-bener ora ketemu ngakal.Bar mangan awan nyong maring wartel..Inlok Mas Gunadi nang
Indramayu, terus Yu Kusrini nang Purwokerto, Mas Slamet nang Semarang,kabèh tak takoni ihwalé surat sing Bapa.Kaya sing wis tak dhuga, jebulé kakang-kakangé nyong wis padha telpon-telponan mbahas suraté Bapak. Tak jaluk tanggapané, Mas Gun ora komentar apa-apa. Mas Gun kuwé wongé kalem tur pinter.Senajan sedulur sing paling sugih tapi omongané alus ora grusa grusu.
“Kita ora perlu kesusu nanggapi suraté Bapak. Angger Bapak arep adoll umah,ora masalah. Secara ekonomis umahé Bapak saiki niléné pancèn sangsaya dhuwur.Tapi secara praktis,kanggoné Bapak lan sedulur-sedulur kabéh wis ora efektif. Malah dadi beban. Angger sida didol tur bisa payu larang, aku setuju. Dhuwité bisa dimanfaataken kanggo sedulur-sedulur sing mbutuhaken.Wondo nang Pemalang umahé tesih nyicil. Kowen ya studiné tèsih butuh biaya akèh. Masalah Bapak kepèngin mbojo maning,uga ora dadi soal.Asal bisa nggawé Bapak seneng lan bahagia, aku ora keberatan. Apa maning sadurungé Bapa mbojo maning, urusan umah waris haké bocah-
bocah wis dituntasaken.Pokoké mengko dina Minggu tanggal 12 Insya Allah aku balik.Angger kowen kepèngin bareng, ya tak tunggu nang Indramayu, dadi aku ora usah nggawa supir.” kaya kuwé jawabané Mas Gun nang tèlpon.
Angger komentaré Yu Kus wis bisa tak badhèk. Yu Kus kuwé wis sepuluh taun manggon nang Purwokerto. Bojoné asli wong Banyumas, dosèn Unsud ngrangkep dadi wartawan. Mulané angger ngomong senengé nganggo cara Banyumasan, medhok nemen.
“Enak temen mbok. Paling-paling gelem dadi bojoné Bapak mung ngarep-arep warisan thok. Ora. Yu ora setuju. Apa maning dhèwèk kan durung padha weruh kepribèn pribadiné calon bojoné Bapak kuwé. Aja-aja wong wadon ora bener. Saiki kan akèh wong-wong wadon ora bener sing padha golèt mangsa. Golèt dhudha sing dunyané akèh. Engko angger dunyanè wis entong diporoti, langsung didhèpak. Pram, kowen aja setuju ya…Poma, kowen kudu melas maring ramané dhèwèk. Insya Allah, dina Minggu Yuné balik.”, Yu Kus ngomong nang telpon rada emosi. Bar telpon Yu Kus,enyong ngubungi Mas Slamet nang Semarang tapi ora ketemu. Dhèwèké lagi dhines njaba. Mas Wondo tah ora tak hubungi soalé umahé langka telponé.
Ngentèni dina Minggu tanggal 12 Maret nyong kayong ora sabar.Bayangané Bapak persasat terus nyanthèl nang mata.Bapané enyong, pènsiunan Kepala Bagian nang kantor Kabupatèn Tegal sing tekun nyambut gawé, jujur, lempeng,disiplin,gemi lan sederhana. Bapaké nyong mung lulusan SMEP. Ngrintis karir dadi pegawé Kabupatèn awit enom mula taun 60-an. Waktu kuwé kantor Kabupaten Tegal èsih ana nang kota Tegal, nganti taun 1986 dipindah nang kota Slawi. Bapak pensiun taun 1999 sawisé ngabdi nang Kabupaten Tegal luwih sing 35 taun. Pengabdian sing tekun tanpa
11
cacad semono lawasé ndadekna nyong sasedulur padha bangga maring Bapak. Kanggo nyumponi kebutuhan rumah tangga, saliyané dadi PNS Bapak uga ora isin-isin nyambi nyawah utawa ngebon bawang nang sawah warisan Embahé nyong sing ana nang Klampok. Angger ngèmuti kaya kuwé, nyong dadi kèlingan lagi tèsih cilik-cilik.Senajan uripé kecukupan,kabèh padha dilatih prihatin,sregep nyambut gawé,padha gemi lan padha rukun.Sing gedhé kudu bisa nuntun karo ngèin conto maring sing cilik.Alkhamdulillah kabèh padha nurut, langka sing mbedhud utawa mblathang, nganti sekolahé padha tutug. Sing pembarep Mas Slamet Margono lulus IKIP Semarang, Yu Kusrini lulus D3 Akademi Akutansii nang Purwokerto, Mas Gunadi Santoso lulus Fakultas Pertanian UNSUD, Mas Agung Suwondo ya lulus IKIP sing Jogja, nyong dhèwèk saiki wis semester VI Fakultas Sastra nang Jakarta. Saèlingé nyong,Bapak karo jenaté Ibu uripé rukun ora tau tukar padu. Ibu giat nang organisasi PKK lan Pengajian, senajan sering dikritik,sebab anaké akèh tandané ora mèlu KB, programé Pemerintah sing wis pirang-pirang taun digalakaken.Maklum Ibu pancèn turunané keluwarga besar Kyai Makhmud, sing terkenal keluwarga wong sugih lan santri fanatik nang Karanganyar. Sayangé 8 taun kepungkur Ibu ndisiti séda disebabaken penyakit kangker rahim sing ora bisa diatasi. Waktu kuwé nyong èsih kelas 1 SMP, mas Wondo kelas 2 SMA. Mas Gun karo Yu Kus tèsih kuliah nang Purwokerto. Mas Slamet nembé baé lulus Sarjana IKIP,terus dadi pegawe honorer nang Semarang. Untungé Bapak bisa tabah ditinggal Ibu.Biasané angger wong wis tua ditinggal mati bojoné akèhé sering lara,keyungyun, akhiré mèlu nyusul balik maring alam kelanggengan. Tapi rupané Bapak
tèsih kepengin wareg nunggoni anak lan putu-putuné. Kepèngin ngalami anak bontoté lulus dadi Sarjana nganti temekan duwé bojo. Kurang luwih 5 taun Bapak dhèwèkan ngopèni nyong., ibaraté dadi Bapak sekaligus dadi Ibu. Padahal waktu kuwé Bapak durung pensiun.Untungé ana Bi Dasmi, rèwang sing setia nemen awit Bapak karo Ibu nembé duwé anak loro. Mauné tah lagi nembé setaun rong taun ditinggal Ibu, sewulan sepisan Mas Slamet tilik Bapak. Semono uga Yu Kus karo Mas Gun, sing padha kuliah nang Purwokerto sering balik. Tapi saiki bareng wis padha rumah tangga lan padha repot dhèwèk-dhèwèk, kabèh dadi arang-arang niliki Bapak.
Ora krasa maning wis 8 taun Bapak dadi dhudha. Tekané surat kilat sing Bapak, gawé enyong lan kakang-kakang kabèh padha balik maning mikiraken kaanané Bapak. Bapak sing saiki urip dhèwèkan nunggoni umah sing gedhé nemen.Umah sing tau ngèin rasa ayem tentrem lan enget nyong sasedulur lagi tèsih padha cilik-cilik kumpul karo wong tuwa. Ora tak sangka,Bapak sing duwé anak lima ,jebulé saiki ngrasa kesepian. Oh, Bapak….Bapak…
2
Nang pojok jalan Kejambon , ana salah siji umah gedhé model lawas sing lataré amba. Umah kuwé katon sèjèn nemen dibandhingaken karo umah-umah sing ana nang sakiwa tengené.Potongané limasan,wuwungané katon dhuwur. Lawang karo jendelané jati kabèh modèl gemiyèn.Cèté kuning gadhing tapi katon wis rada pucet. Tèmboké sing warnané krèm wis akèh sing padha lècèt, ditambal nganggo semen,dadi katon pating blentong.Pager wesiné uga wis padha karaten. Rupané mauné dicèt biru laut, tapi cèté padha nglothok. Lawang gerbang ngarep modelé surungan, tapi saben dinané mung mbuka sathithik sekadar kena nggo liwat wong.Nang lataré sing amba nemen ana rong wit pelem arumanis.Wité katon wis tuwa,mulané rada dhuwur.Tapi pangé ngrembaka,godhongé ketel,dicagak-cagak nganggo pring sebab kabotan pentil sing mendhot pating grandhul. Nang pojok kiwa ana wit blimbing, wohé uga mendhot gedhé-gedhé akèh sing padha mateng tapi ora diundhuhi nganti akèh sing pada bosok. Saliyané tanduran kuwé ana tanduran pethètan ,mlathi, nusa indah,mangkokan lan liya-liyané pating grumbul endhèp-endhèp. Kabèh tanduran katon lemu-lemu ketara yèn dirawat daning sing duwé.Latar amba sing dilèri watu krosok katon resik nemen.Langka suket lan godhong klèyang sacuwil-cuwila. Umah gedhé sing katon resik lan asri kuwé seringé lawangé tutupan kaya umah suwung.Tapi sabeneré umah kuwé dinggoni dhudha tuwa sing duwé anak lima, tapi milih urip dhèwèkan, yakuwé Pak Ramelan Wirjoatmojo, Bapaké nyong.
Dina Minggu esuk tanggal 12 Maret 2000. Suwasana nang umah kuwé katon sèjèn ora kaya biasané. Lawang gerbangé dibuka amba nganti pol. Nang sebelahé wit pelem ana mobil Kijang anyar sing diparkir jèjèran karo mobil dines jip plat abang. Mobil Kijang anyar wèké Mas Gun sing Indramayu,angger mobil dines jip plat abang wèké Mas Slamet sing Semarang.Nang ngisor jendela sing dibuka , nang antarané pot-pot kembang, ana sepeda motor wèké Mas Wondo sing Pemalang.
Dina Minggu sing cerah, jam setengah sanga.Nuruti prèntahè Bapak sing ana nang surat kilat, èsuk-èsuk nyong sasedulur padha kumpul nang ruang tamu umahé Bapak. Umah lugu sing kebek sejarah lan memori.Kaya sing dipesen daning Bapak, enyong sasedulur teka dhèwèk-dhèwèk ora ngajak keluargané.Bapak katon bungah nemen ditekani anak-anaké. Siji-siji padha ngambung tanganè Bapak terus padha nyikep
kenceng awaké Bapak.Sikep kangen,sikep éman lan hormat maring wong tuwa sing wis ngukir jiwané anak-anaké kabèh,nganti saiki padha baé tuwané.Bi Dasmi, réwang sing mèlu keluwargané nyong wiwit gemiyèn lagi nyong karo sedulur-sedulur èsih cilik-cilik uga teka karo Si Tarmunah putu wadoné.Ora klalèn nggawa kacang asin Bogarès kesenengané mas Gun, karo jangan glothak , yakuwé jangan gembus mèngkrèng ijo sing dicampur balungan kebo klangenané Yu Kus. Setaun ora ketemu,Bi Dasmi katon wis tuwa nemen,mlakuné baé wis gentoyoran.Tapii ketemu karo enyong sasedulur Bi Dasmi bungah nemen.Ora meneng-meneng olihé crita karo guyonan.
Rupané Yu Kus wis ora tahan kepèngin ngarti ihwalé Bapak sing arep mbojo maning.Mulané takon wisikan maring Bi Dasmi , dongé wong wadon sapa sing arep dikawin Bapak. Ditakoni kaya kuwé Bi Dasmi ngrajug,ora njawab,mung nutup lambéné nganggo jenthik penuduh, maksudé aja ngomong masalah kuwé. Yu Kus tak sawang kayong tambah penasaran.
Dina kuwé Bapak katon séhat,awaké seger,rada lemu.Apa maning rambut karo kumisé disemir ireng menges, nganggo kaos biru ndhog asin,clana ireng, ndadèkna Bapak kayong katon gagah lan tambah nom. Mlakuné ya rada ndegèg, ora bungkuk kaya wong-wong tuwa séjéné. Tapi weruh Bapak sing kaya kuwé,kakang-kakangé nyong langka sing komentar,mung enyong sing wanii ngomong semu guyon.
“Bapak kayong manglingi hèh….?”
“Manglingi apané”, jaré Bapak karo gemuyu.
“Saya nom…”
“Ah, masa??”
“Saèstu Pak. Cobi takèn Yu Kus nopo Mas Gun, mesthi padha pangling” jaré nyong maning. Kabèh padha setuju ngiyakna. Dialem kaya kuwé Bapak gemuyu ngèkèk karo ngelus-elus kumisé.Bapak terus ngrangkul pundhaké nyong.Mak sripit nyong mambu parfum sing awaké Bapak .
“Mulané kowen padha tak kon méné,mèn padha weruh yèn Bapakmu tèsih gagah.Héhé…héhé…”. Bapak gemuyu renyah nemen.Untu ndhuwuré Bapak sing mauné ompong saiki katon rapet diganti gigi palsu.Bener.Bapak pancèn katon brobah. Saben-saben ngomong Bapak karo gemuyu.Ya, Bapak dadi sering mèsem.
Suwasana pertemuan waktu kuwé dadi ramé,sumringah.Karo disambi nginung tèh poci pacètané mendhoan lan gethuk gorèng Sokaraja olih-olihé Yu Kus. Bapak karo sedulur-sedulur ramé nemen ngobrol ngalor ngidul lan guyonan werna-werna.Nganti rada suwé Bapak durung nyinggung rencana arepan adoll umah karo mbojo maning. Rupané kabèh kayong wis ora sabar olihé ngentènii Bapak mbuka omongan kaya sing nang surat. Akhiré Yu Kus ndhisiti ngomong.
“Bapak mboten éman-éman, griyo niki badhé disadé, Pak ?”
Krungu omongané Yu Kus kaya kuwé Bapak meneng sawetara,mung nyawang rainé enyong sasedulur siji-siji. Suwasana dadi rada tegang. Sawisé ngun –
njal ambekan Bapak ngomong alon-alon.
“Lha kuwé Nok. Dina kiyé Bapak kepèngin rembugan.Muga-muga padha setuju karo rencanané Bapak. Umah kiyé wis ana sing nganyang 120 juta”
“Lajeng?”, Mas Gun penasaran.
“Terserah kowen kabèh.Kira-kira rega samono cocog apa ora. Aku malah wis ilang ileng,luruh umah maning sing cilik-cilikan. Kebeneran ana umah Perumnas pan didol murah. Umahé tèsih rada apik, njaluké mung 45 juta.Gari direnovasi sethithik, tak kira wis sesuai kanggo Bapak”
Kabèh padha meneng, langka sing ngomong, mung nyawang maring rainé Bapak. Yu Kus katon rada tegang.Mas Slamet njagongé rada gelisah karo terus udud.
“Lajeng ,ngèngingi ….anu…rencanané Bapak,…”, Yu Kus ngomong maning tapi ora tutug.Rupané Bapak maklum.
“O kuwé?. Kaya sing nang surat, aku pancèn duwé rencana, muga-muga kowen padha setuju,aku arep …….mbojo maning”. Ngomong kaya kuwé karo dhèhèm.
“Kalih sinten Pak?”, Mas Wondo sing kawit mau meneng takon serius.
“Ya karo wong wadon”, Bapak ngomong karo gemuyu,maksude bèn suasana ora tegang nemen.Kabèh mèlu gemuyu karo manggut-manggut.
“Arané Bu Neneng, lengkapé Neneng Yunengsih.Lha kiyé mengko, kowen kabèh arepan tak kenalna karo dèwèké. Rencanané mengko jam sanga luwih, dhèwèké arep teka mréné”
Krungu jawaban sing Bapak kaya kuwé,kakang-kakangé nyong mung padha pandeng-pandengan.Suwasana pertemuan tambah kaku.Bapak mandeng maring nyong, kayongèn kepengin nyong mèlu ngomong.Supaya suasana aja tambah kaku ,nyong ngomong karo rada nyrèngès.
“Wah,bakalé duwé ibu maning,kiyéh….Nuwun séwu Pak,Bapak kenal kalih Bu Neneng teng pundi….lajeng, sampun dangu nopo dèrèng?”
Ditakoni kaya kuwé Bapak ora langsung njawab.Sawisé mikir rada suwé Bapak ngomong alon-alon.
“Tak kira masalah Bapak kenal karo Bu Neneng nang endi lan kapan, ora usah dibahas.Kanggo sawetara masalah kuwé bèn dadi rahasiané Bapak karo bu Neneng. Sing penting,Bapak karo bu Neneng wis padha senengé,wis cocog. Wis sepakat olihé arep urip bebrayan”
“Dados…bu Neneng sampun asring mriki?” Yu Kus takon semadan ora percaya karo gèdhèg – gèdhèg.
“Iya. Malahan…ee…angger nang kéné ya sokan ngréwangi bersih-bersih umah, kadang ya masak nggo Bapak. Bu Neneng kuwé pinter masak. Mulané bareng kenal karo Bu Neneng, Bapak ya dadi sering mangan ènak.”, Bapak ngomong karo pèsam-pèsem, katoné seneng nemen ngandhakna kenalané sing arané Bu Neneng Yunengsih.
Pas lagi Bapa ngomong kaya kuwé telpon nang ruang tengah moni kring. Bapak gagiyan manjing nampa telpon. Ora suwé Bapak metu maning, rainé semringah karo ngomong.
“Telpon saka Bu Neneng. Sedhèlat maning teka méné”
Karo ngentèni Bu Neneng,ngobrolé diterusna maning.Tapi Bapak katon ora pati jongjon.Njagongé gelisah,sadhèlat-sadhèlat menyat nglongok manjaba. Rupané Bapak wis ora sabar kepèngin ketemu karo Bu Neneng. Nyawang Bapak kaya kuwé, Yu Kus mènjep karo gèdhèg-gèdhèg. Kakang-kakang sèjèné mung padha meneng. Embuh perasaan apa sing ana nang jero atiné. Ora let suwé keprungu suwara ana bècak mandheg
nang arep umah.Bapak langsung ngadeg,nglongok menjaba,terus ngomong maning semu bungah.
“Lha kaèh,Bu Neneng wis teka”
Terus keprungu suwara langkah rada gancang marani umah saya parek saya parek.Ah, sakedhèpan maning nyong sasedulur bakal weruh wong wadon sing arané Bu Neneng, wong wadon sing gawé penasaran,apamaning jaré bakal dadi ibu kuwaloné. Kabèh padha nglinguk maring lawang. Ujug-ujug atiné nyong krasa mak ser. Embuh perasaan apa sing ujug-ujug manjing nang dhadha.Ora let suwé wong wadon sing arané Bu Neneng manjing ruang tamu karo uluk salam, diiringna Bapak.Dhèwèké langsung ngajak salaman, rainé sumèh, ngumbar èsem. Karo salaman Bapak ngenalna anaké siji-siji,awit sing Mas Slamet ,Yu Kus, Mas Gun, Mas Wondo terus terakhiré nyong.Bar salaman karo
terus mèsem Bu Neneng njagong nang kursi sing tèsih kosong jèjèran karo Bapak. Sawetara kuwé, nyong sasedulur mung meneng thok,nyawang Bu Neneng, ,awit sing jempol sikil nganti pucukèng rambut.Embuh kepribèn perasaané sedulur-seduluré nyong bareng wis njagong adhep-adhepan karo sing arané Bu Neneng.Tapi nyong dhèwèk ora ngira babar blas yèn sing arané Bu Neneng ora kaya sing tak bayangna. Wongé katon tèsih rada nom, umuré sekitar 35 tahunan,awaké tèsih seger,kulité kuning,rainé alus,rambuté sing dipotong sangingsoré pundhak tesih ketel lan ireng. Nganggo klambiné blus lengen dawa kembang-kembang warna abang jambon, roké landhung werna ireng,nganggo kacamata putih, Bu Neneng ora mung katon ayu tapi uga terpelajar.Bapak sing ndelengna anak-anaké pating pendongong langsung mbuka omongan.
“Anak-anakku kabèh, Mamet karo adhi-adhiné. Dina kiyè bungahé Bapak ora
kira-kira, sebab dina kiyé kowen wis padha nuruti kekarepané Bapakmu kaya sing tak tulis nang surat.Dina kiyé uga kowen kabèh wis tak kenalaken karo Bu Neneng.Dadi aku ora arepan ngomong akèh-akèh maning.Aku mung njaluk kowen kabèh bisa rembugan nganti mateng.Sing sepisan soal umah.Mau wis tak omongaken,yèn umah kiyé wis ana sing nganyang 120 juta. Rega semono tak kira wis cukup dhuwur.Terus sing kepindho…ehm..ehm…”, Bapak mandheg ngomongé karo dhèhèm, nglirik maring Bu Neneng.Suwasana nang ruang tamu bener-bener sepi.Mas Slamet nyuled ududé maning.Mas Gun ngelus-elus jènggoté karo nglirik maring jam dinding.Waktu kuwé jam sepuluh kurang seprapat.Yu Kus katon rada gelisah,tangané nyekel saputangan karo diusap-usapna nang irungé. Bu Neneng awit mau tèsih tenang,tetep mèsem,ndadèkna praèné katon manis serasi. Bapak dhèhèm-dhèhèm maning,terus nglanjutna omongané,suwarané rada alon,tapi tetep mantep lan berwibawa kaya biasané.
“Lha sing kepindo, kowen kabèh uga tak jaluk ngrembug nganti tuntas rencanané Bapak sing arepan mbangun rumah tangga maning karo Bu Neneng. Bener ya Bu ?”, ngomong kaya kuwé karo nglirik maring Bu Neneng.Bu Neneng mung manthuk-manthuk karo mèsem.
“Supaya kowen kabèh bisa rembugan sing kepénak lan leluasa,Bapak karo Bu Neneng arep maring Pasar Pagi. Perluné arep blanja sing pepek, terus mengko Bu Neneng arep masak,supaya mengko awan bisa mangan bareng-bareng. Dadi bisa luwih akrab,karo sisan bisa nyicipi masakané Bu Neneng.Bapak ya sisan arep tuku pakan manuk karo ndeleng-ndeleng mbokan ana manuk ocèhan sing apik. Ayo Bu….”, bapa menyat karo nggandhèng tangané bu Neneng
“Sampun rèpot-rèpot lah Bu….dalem kan sampun mbekto dhaharan werni-werni kanggé dhahar siang mangké “, ujug-ujug Yu Kus ngomong kaya kuwé.Rupané mung nggo basa-basi, soalé kabèh mung padha meneng thok. Bapak karo Bu Neneng langsung ngadeg. Karo mlaku metu menjaba, tangan tengené Bapak nang bangkèkané Bu Neneng.
“Nuwun sèwu…”, Bu Neneng pamitan sopan nemen..
Salungané Bapak karo Bu Neneng, nyong sasedulur langsung mulai mbahas masalah adol umah karo rencanané Bapak sing arep kawin karo Bu Neneng.Tapi kayongé tinimbang mbahas rencana adol umah, sulur-sedulur luwih tertarik mbahas rencanané Bapa sing arepan mbojo maning. Kaya sing wis tak sangka, Yu Kus durung acan-acan wis mbuka omongan ora setuju.
“Angger enyong tah ora setuju banget.Nang sawangané enyong, sing arané Bu Neneng kuwé…kayong kepribèn ya…”, Yu Kus ngomong karo ngunjal ambekan.
“Kepribèn apané Nok?”, Mas Slamet nyauri. Awit cilik Mas Slamet angger maring Yu Kus ngundangé Nok, tiru-tiru Ibu karo Bapak.
“Pokoké aku tah kayong ora cocog, Mas Met. Secara fisik, ana perbedaan umur sing mencolok antara Bapak karo Bu Neneng. Apa mengko ora dadi masalah?”
“Bener Nok.Secara psikologis mungkin ora masalah.Tapi secara fisik, … maaf ya, nyong kuwatir Bapak ora mampu mengimbangi. Jaré kowen kira-kira Bu Neneng kuwé umuré pira si …?. Ana 40 ?”
“Tarohlah 40 kurang..Sedangkan Bapak kan wulan Desember mengko bakal jejeg 56 ?. Perbedaan usia 16 tahun. Jaré kowen pribèn Gun?”
Mas Gunadi sing ditakoni Yu Kus malah menyat.Ngadeg nang pinggir jendhéla karo nyawang menjaba.Embuh apa sing ana nang pikirané. Kabèh padha ngentèni apa pendapaté Mas Gun, kakangé nyong sing paling kalem,pinter, langka omongé.Sawisé njagong maning terus nginung banyu putih Mas Gun ngomong.
“Sabeneré aku pèngin krungu pendapaté Wondo karo Pram ndhisit”
“Aku tah tutwuri baé Mas.Terserah sedulur-sedulur. Yu Kus jelas ora ndukung. Mas Slamet ya rupané keberatan.”, Mas Wondo njawab kalem.
“Kowen ya kudu ngèin pendapat Pram”, jaré Mas Gun karo mandeng maring enyong. Ditakoni kaya kuwé nyong rada nggragap,soalé nyong ora bisa mbayangna kepribèn kecéwané Bapak angger kabèh anak-anaké padha ora setuju rencanané Bapak arep mbojo maning.
“Kulo abstain Mas”,nyong njawab sakenané.
“Kaya sidang DPR baé, ana abstain ana apa.Ya wis ora apa-apa , wong masalah kiyé kan dudu masalah sepélé.Aku sing mau ya wis nganalisa sing berbagai sudut, tapi durung bisa nyimpulna secara pas. Mung pendapaté aku rada beda.Memang, Bapak kuwé umuré wis 56.Tapi tak sawang-sawang kondisi fisiké tèsih katon séhat.Coba, mau kan padha weruh dhèwèk. Justru Bapak katon luwih nom,kaya wong umur patang puluhan.Sapa weruh sawisé mbojo maning karo Bu Neneng Bapak tambah séhat lan umuré sangsaya dawa.”
“Berarti Gun setuju Bapa mbojo maning?”, Yu Kus nyelani karo mènjep, suwarané dhuwur karo ndregdheg nahan emosi, matané mandeng mancleng maring Mas Gun “Mengko ndisit Yu. Yuné aja emosi. Aku durung ngomong setuju apa ora setuju. Aku mung kepèngin, Bapak uripé bahagia lan umuré dawa.Soalé akèh contoné lho,
dhudha tuwa kaya Bapak ,bareng duwé bojo maning malah awèt nom lan dawa umurè”
”Bener Gun.Tapi kuwé wong tuwa sing dhasaré mlatar.Wong tuwa sing royal.Bapak kan dudu wong mlatar, dudu wong royal. Bapak kuwé wong sederhana. Ora néka-néka.Iya, Mas Met?”, Yu Kus nyrandu omongané Mas Gun karo njaluk dukungan Mas Slamet.
“Bapak pancen dudu wong mlatar.Awit nom mula bapané dhèwèk kuwé wong sing lugu,lempeng,ora tau macem-macem. Mulané uripé kecukupan,bisa mbiayani anak-anaké nganti sekolahé padha tutug”, jaré Mas Slamet rada mbélani Yu Kus.
“Lha bisané bareng wis sepuh Bapak ka dadi kaya wong mlatar”, Mas Wondo sing awit mau meneng baé, ujug-ujug ngomong kaya kuwé.
“Bener Ndo.Kuwé sing kudu dianalisa.Sebagai pendidik kowen mesthiné duwé pandangan dari aspek psikologis sing luwih komprehensip.Sebabé apa Bapak saiki bisa berobah”
Mas Wondo kuwé kakang cer karo nyong.Lagi jenaté Ibu tèsih urip Mas Wondo dikira arep dadi bocah bontot. Mulané jaré wong-wong Mas Wondo kuwé anak sing paling dièman. Awaké lencir kuning persis kaya jenaté Ibu. Jaré tah lagi cilik mas Wondo rada nakal,tapi sekolahé paling pinter.
“Pandangan psikologis ya aku ana Mas.. Tapi tentuné dudu kapasitasé aku nggo nganalisa Bapaké dhèwèk.Sing jelas, Bapak ndèyan butuh ruang utawa tempat kanggo nyaluraken gagasan,ide, ekspresi… lan …..kasih sayang”
“Maksudé kowen apa Ndo?. Tempat nyaluraken kasih sayang?. Kan kasih
sayangé Bapak bisa disaluraken maring anak, maring putu…”, jaré Yu Kus maning.
“Iya, tapi sèjèn Yu. Maksudé disamping Bapak memberikan kasih sayang, Bapak uga butuh perhatian lan kasih sayang sing wong sèjèn”
“Lho, apa selama ini kita tidak memberikan perhatian dan kasih sayang maring Bapak ?. Kowen dhongé kepribèn sih, Ndo. Aku kayong belih mudheng”, Yu Kus mrekabak nahan emosi. Mas Wondo durung kongsi njawab, Mas Slamet nyela.
“Aku paham maksudé Wondo. Angger nyaluraken kasih sayang maring anak putu tah memang sebuah naluri seorang ayah dan kakèk kepada anak cucunya. Sebuah kewajaran.Dadi wis biasa.Tapi Bapak kan bukan sekadar seorang ayah dan seorang kakèk. Bapak juga seorang pria,wong lanang yang masih memiliki …ehm…apa kuwé…libido.. iya Ndo?”
“Tepat Mas Met. Dan itu normal. Artiné Bapak ora berobah dadi wong mlatar.Bapak èsih tetep wong sing sederhana,bertanggung jawab,mencintai anak-anaknya.Masalah Bapak kepengin mbojo maning, dudu karena Bapak ujug-ujug brobah dadi mlatar.Tapi Bapak butuh penyaluran kaya sing diomongna Mas Slamet”
“Berarti kowen setuju Bapak mbojo maning Ndo…kepribèn si dhongé kowen…Aku tah ora paham….”, Yu Kus bener-bener emosi,ngomong karo nudhing maring mas Wondo.
“Tenang Yu, tenang”, Mas Wondo ngarih-arih mbakyuné. “Kiyèh Yu, masalahé dudu setuju apa ora setuju Bapak pan mbojo maning. Tapi ana soal luwih penting sing kudu dibahas ndisit,yakuwé soal Bu Neneng.Kita sing mau mung pethengthengan
mbahas Bapané dhèwèk,tapi langka sing mbahas masalah Bu Neneng. Bu Neneng kuwé sabeneré sapa, wong endi, kabèh durung jelas.Bu Neneng kuwé masih gadis apa randha?”
“Maksudé kowen, Bu Neneng kuwé…prawan tuwa?”, yu Kus takon judhes.
“Sapa weruh yu. Bapak kan durung njelasna . Anggeré randha terus bekas bojoné sapa?. Apa bojoné mati, apa pegatan?.Terus duwé anak apa ora?.Angger duwé anak, anaké pira ?. Terus saiki anaké padha nang endi ?.Informasi mengenai Bu Neneng sangat minim sekali, padahal itu penting. Sangat penting…” Mas Wondo ngomong, artikulasiné jelas,persis kaya guru sing lagi nerangaken pelajaran nang ngarep kelas. Krungu penjelasané Mas Wondo sing kaya kuwé, kabeh padha manthuk-manthuk.
“Tapi sing jelas, Bu Neneng kuwé dudu wong Jawa. Angger nilik arané, mesthi wong Sunda…wong Jawa Barat lah….”, jaré Yu Kus maning.
“Ora masalah Yu, mbuh wong Sunda mbuh wong Padang. Saiki wis tah wis ora ungsum ngomong masalah kaya kuwé”, Mas Wondo njawab karo nglirik maring mas Gun.Rupané Mas Wondo sadar,yèn omongané Yu Kus bisa menyinggung perasaané Mas Gun.Soalé bojoné Mas Gun sing arané Yu Teti kuwé asli wong Karangampel –Indramayu.
“Berarti kita durung bisa mutusaken, Mas Ndo ?”, enyong melu-melu ngomong, maksudé supaya masalah Bu Neneng sing wong Sunda ora kedawan-dawan.
“Jelas durung ooo…Sadurungé kita gawé keputusan,luwih ndhisit latar belakangé Bu Neneng diusut lan dilacak sing temenan. Angggeré wis jelas,lha tembé kita bisa mutusaken. Setuju apa ora. Bener Mas Gun?”
“Oke…oke…Aku setuju golèt keterangan sing jelas lan lengkap mengenai Bu
Neneng.Tapi aja nganggo istilah dilacak utawa diusut. Mbokan Bapak krungu mengko tersinggung.Bu Neneng kan dudu tersangka kriminal. Aku yakin Bapak pasti wis weruh nemen latar belakangé Bu Neneng. Dadi mengko bisa takon maning sajelas-jelasé maring Bapak. Sing penting kepribèn carané supaya Bapak ora tersinggung. Terutama sampéyan Yu Kus, kudu bisa njaga perasaané Bapak”, Mas Gun ngomong alon.
Kabèh padha setuju gagasané Mas Gun. Ora krasa maning wis jam sewelas luwih.Berarti Bapak karo Bu Neneng maring pasar wis sejam luwih. Rundingan masalah rencana Bapak pan adol umah karo mbojo maning ternyata tèsih ngambang.Tapi secara sama-samar,Mas Gun,Mas Slamet karo Mas Wondo ora patia keberatan.Mung Yu Kus sing tetep ora bisa nyetujoni kekarepané Bapak kepèngin mbojo maning.Angger soal adol umah,awit sing lagi omong-omongan nang tèlpon,kabèh ora kepengin melu campur. Sebab selawasé Bapak èsih urip, kuwé haké bapa sapenuhé.Apa maning kakang-kakangé nyong wis pada duwé umah, kejaba enyong karo Mas Wondo..Malah enyong krungu dhèwèk yèn Mas Gun,Mas Slamet karo YuKus ora arep njaluk bagéan. Kabèh padha iklas yèn bagéané diwèkna enyong karo Mas Wondo.
Karo ngentèni Bapak karo Bu Neneng teka sing pasar nyong nerusna ngobrol-ngobrol. Suasana sing mau rada kaku, wis mulai èncèr maning. Tapi nganti jam rolas luwih, Bapak karo Bu Neneng durung teka. Kabèh gelisah. Ujug-ujug keprungu suwara adzan dhuhur sing mushola parek umah. Mas Slamet ngajak solat bareng nang mushola. Mlaku runtung maring mushola, nyong dadi kelingan maring jenaté Ibu.Gemiyen lagi padha cilik-cilik, anggeré krungu adzan langsung Ibu nyurung-nyurung anak-anaké
gagiyan padha maring mushola. Maklum Ibu kuwé keluwarga santri, putuné Kyai Makhmud sing terkenal nang daerah Karanganyar.
Bar sholat ora klalèn nyong kirim donga kanggo Ibu khusyuk nemen. Sawisé ndonga, karo nangis nggrentes nyong wadul, ngresula,ngajak ngomong karo jenaté Ibu sing wis sèda 8 taun kepungkur. Ibu….angger panjenengan tèsih urip tah….ora bakal ana masalah sing ruwed kaya kiyé. Ora bakal Bapak duwé rencana pan adol umah.Apa maning rencana arep mbojo maning. Ora bakal enyong sasedulur dina kiyé nandhang kèder sing ora kira-kira ,gara-gara wong wadon sing arané Bu Neneng. Karo sesambat kaya kuwé,nyong ngglosor nang pojok musola karo nangis ngguguk-ngguguk…
3
Balik sing mushola,durung manjing umah nyong krungu suwarané Yu Kus nangis nggriyeng. Gagiyan nyong kabèh padha mlayu manjing umah.Yu Kus nang kamar tengah lagi turon,rainé ditutupi bantal.Bi Dasmi nang iringané njagong karo mijeti pundhaké. Mas Slamet gagiyan nubruk Yu Kus, karo takon.
“Kenang apa Nok…..kowen kenang apa?”. Sing ditakoni ora semaur.Malah nangisé sangsaya seru.Nyong dadi kuwatir,mbokan ana kabar sing ora apik.
“ Bi Dasmi, kiyé Yuné kenang apa?”, nyong takon maring Bi Dasmi. Bi Dasmi
29
ngomong karo gemeter,suwarané lirih pedhot-pedhot.
“Niku Mas, Nok Kus kuwatos,daning Bapaké kalih Bu Neneng ka ngantos wayamènten dèrèng kondur.Mangké lha wonten alangan nopo kepripun…….”
“Mas Met, aja padha ayem baé…mana sih Bapak digolèti. …Lokèn maring pasar nganti telung jam luwih?”, Yu Kus ngomong karo mèwèk-mèwèk, banyumatané dlawèran. Nyong nembé sadar, yèn Bapak karo Bu Neneng wis suwé nemen maring pasar durung balik-balik.Mas Gun ndeleng arlojiné,terus nyebut : “Astaghfirullah…, hayuh Pram,Bapak dogolèti”. Gagiyan Mas Gun njukut konci mobil, diwèkna nyong, terus mlayu metu. Mas Wondo ora weruh maning wis nyèmplak motoré, langsung ngebut maring dalan gedhé. Nyong karo Mas Gun nututi nang mburiné. Waktu kuwé dalan wis rada sepi.Maklum wis awan, apa maning dina Minggu. Karo nyetir nyong mung meneng thok. Mas Gun tak lirik rainé katon buthek.Embuh apa sing ana nang jero atiné. Nyong ya mung bisa mbatin pitakonan siji sing abot nemen , pitakonan sing ora bisa tak jawab dhèwèk : Ya, dhongé saiki Bapak karo Bu Neneng maring endi?. Nyong ora yakin yèn Bapak karo Bu Neneng tèsih ana nang pasar. Malah saklèbatan ana pikiran ala. Aja-aja mau Bapak cèkcok karo Bu Neneng , gara-gara bareng wis ketemu karo anak-anaké Bapak, Bu Neneng brobah pikiran. Nang bayangané nyong, Bu Neneng ora sida blanja, tapi balik maring umahé. Terus Bapak akhiré mélu maring umahé Bu Neneng. Bapak mbujuk maring Bu Neneng supaya dhèwèké aja mbatalaken rencanané Bapak .Kaya kuwé nang bayangané nyong karo nyetir mobil. Akh, muga-muga baé aja nana kedadiyan sing ora apik….
Nyong karo Mas Gun gaiyan manjing pasar. Pasar wis sepi, wong blanja wis
langka .Mung ana siji loro wong dodol sing durung kukud. Nyong mlaku jlang-jlangan
nang lurung-lurung sing ana nang antara los-los sing jèjèr-jèjèr. Wong dodol sing durung kukud padha ndelengna nyong karo Mas Gun.Ndèyan padha èram, dhongé wong loro lagi pan tuku apa,ka awan-awan padha manjing pasar karo matané jlalatan. Akhiré nyong tekan lawang mburi pasar, terus nyabrang dalan cilik marani kios burung. Jebul Mas Wondo wis nang kono, lagi ngobrol karo salah siji pedagang manuk. Nyong gagiyan marani .
“Mas Gun, kiyé Pak Sa’il. Tukang manuk langganané Bapak” jaré Mas Wondo ngenalna Pak Sa’il maring Mas Gun.
“Pripun Pak,nopo wau Pak Ramelan mriki?”, Mas Gun takon ora sabar.
“Enggih. Wau antawis jam sedoso, Pak Ramelan mriki tumbas pur pakan manuk.Ngantos dangu lenggah teng ngriki. Ketingalipun gelisah.Mlebet teng peken,lajeng medal malih.Mlebet malih,medal malih ngantos ping pinten-pinten”
“Lajeng?”
“Lajeng pamit.Malahan pakan manuké mboten dibekto. Lha niki taksih tak simpen”
“Lajeng, Pak Ramelan kèsah teng pundi?”, Mas Wondo takon ora sabar.Sing ditakoni meneng, ora langsung njawab. Rupané dhèwèké lagi ngèling-èling. Terus ngomong alon-alon, kayong ora pati yakin.
“Menawi mboten lepat …wau nyegat becak, sanjang badhé teng terminal”
“Teng terminal?. Pak Sa’il mboten takèn badhé teng pundi?”
“Maap mas, kulo mboten takèn.Tapi ketingalé kiyambaké buru-buru”
Krungu jawabané Pak Sa’il kaya kuwé, nyong kabèh ngrajug. Mas Gun narik tangané nyong,ngajak gagiyan maring terminal.
“Mengko ndisit Mas. Angger Bapak bener maring terminal, kan ora mesti arep numpak kendaraan umum?. Sapa weruh umahé Bu Neneng kuwé parek terminal…”
“Pokoké gagiyan maring terminal. Filingé aku, Bapak mesthi arep numpak bis…Sapa weruh, Bapak tèsih nang terminal”.
“Mas Gun, terminal Tegal kuwé jurusané telu.Ngétan jurusan Semarang.Ngidul jurusan Purwokerto.Angger ngulon jurusan Cirebon. Terus tujuané Bapak maring endi?” Mas Gun ora njawab. Mas Wondo ndisiti lunga nyèmplak motoré. Nyong karo Mas Gun mlaku cepet-cepet maring ngarep pasar maning,njokot mobil nang parkiran terus nyusul Mas Wondo maring terminal. Manjing terminal nyong nembé sadar, yèn terminal Tegal sing anyar kuwé ambané nemen. Sebagian nang sisih kidul nggo terminal angkot karo tuyul. Tuyul kuwé istilahé wong Tegal angger ngarani bis cilik utawa bis telungprapat. Sing sebagian maning, nang sisih loré kios-kios dinggo terminal bis antar kota. Mas Wondo tak deleng lagi wira-wiri nang terminal angkot. Nyong karo Mas Gun manjing terminal bis antar kota ngliwati ngarepé kios sing jèjèr-jèjèr akèh nemen. Ndeleng bis-bis gedhé sing padha jèjèr pirang-pirang, nyong tambah kèder. Mas Gun ilang-ileng nang sisih kiwa, nyong nang sisih tengen. Saben bis tak longok.Saben ana wong lanang sing kedelengé tuwa, tak pareki. Tapi wis luwih seprapat jam nganti sikilé jèmpèr, nyong ora nemokna Bapak. Akhiré wong loro metu sing terminal nggoleti Mas Wondo. Sing digolèti lagi nginung tèh botol,kringeté dlawèran.
“Dhongé Bapak maring endi ya?”, nyong ngomong dhèwèkan. Aja-aja bener
dugaané nyong. Bapak karo Bu Neneng ora sida blanja tapi malahan tukaran. Aja-aja Bu
Neneng balik maring umahé, terus Bapak nyusul. Tapi umahé nang endi ?. Pitakonan kuwé sing gawé nyong tambah mumet lan panik. Saking paniké,akhiré nyong golèt wartel nelpon maring umah ngabari Mas Slamet. Mas Slamet kongkon wong telu padha balik baé. Mengko dirunding nang umah kepribèn énaké.
Akhiré wong telu balik. Tekan ngumah wis jam telu luwih.. Berarti wis nem jam Bapak ninggalaken umah. Nembé dhog tekan ngumah, Yu Kus nggumbel karo nangis mèwèk-mèwèk.
“Pram…Dhongé Bapak maring endi ya ?. Dhongé kan Bapak bisa telpon ngabari maring umah, Bapak saiki nang endi…Bapak…Bapak….Panjenengan ka ana-ana baé…wong wis sepuh ka ana kepèngin mbojo maning ana apa…akhiré kaya kiyé”
“Wis wis….Yuné meneng, aja nangis. Muga- muga baé Bapak ora kenang apa-apa. Angger kenang apa-apa, mesthi Bapak telpon.”, Mas Gun ngeneng-eneng Yu Kus.Padahal dhèwèké uga katon panik.
“Bisané kowen padha nggoleti Bapak nang terminal si ?” , Yu Kus takon.
“Kaya kiyé Yu..Mau lagi nang pasar, aku olih informasi sing tukang manuk. Menurut tukang manuk langganané bapa sing arané Pak Sa’il, antarané jam sepuluh bapa mondar-mandir manjing metu pasar nggolèti Bu Neneng. Tapi ora ketemu. Akhiré, jaré Pak Sa’il, Bapak numpak becak maring terminal. Terus tanpa pikir panjang aku karo Pram karo Wondo maring terminal. Sapa weruh Bapak esih ana nang kono. Terus wong telu mubeng-mubeng nggolèti.Terminal angkot karo terminal bis tak ubek-ubek.Tetep ora ketemu”, jaré Mas Gun gamblang nyritakna olihé padha nggolèti Bapak awit sing
pasar nganti terminal.
“Coba saiki pada di-analisa… Bapak ngentèni Bu Neneng nang kios burung. Terus Bapak bolak balik manjing metu pasar nggolèti Bu Neneng. Berarti Bu Neneng ora sida blanja tapi lunga ninggalaken Bapak. Terus Bapak nggolèti Bu Neneng maring terminal. Berarti umahé Bu Neneng ora nang Tegal,tapi nang luar kota.Sayang mau ora takon Bapak, Bu Neneng kuwé umahé nang endi…”, Mas Slamet ngomong alon-alon katon gela. Ujug-ujug Yu Kus ngomong seru karo tangané nggeblag méja.
“Kuwèh…jaré aku si apa !. Bu Neneng kuwé jelas dudu wong bener. Masa mangkat bareng maring pasar, janjiné pan masak,ééé…ditinggal Bapak tuku pakan manuk, terus minggat. Wong wadon apa kaya kuwé ?. Tapi aku wa-ni totohan, Bu Neneng mesthi lunga mengulon….”
Yu Kus emosi temenanan. Weruh Yu Kus emosi kaya kuwé,kabèh padha meneng. Kabèh wis padha ngarti, angger YuKus lagi emosi , langka sing wani ngadhepi.Bisa-bisa dadi tukaran lan salin musuh. Mas Gun menyat manjing jero njukut banyu putih sing kulkas,terus njagong maning karo nginung. Mas Wondo nyuled udud. Weruh sedulur-seduluré padha meneng langka sing ngomong,Yu Kus ngomong maning.
“Sing mau, gèn sing mau !. Aku kan mau èsuk ngomong. Wondo ya ngomong. Mari kita lacak dan kita usut latar belakang dan asal usul Bu Neneng…Tapi Si Gun ora setuju. Moniné ora etis. Mbokan Bapak tersinggung.Buktiné ??..Wis saiki kaya kiye baé. Kita kudu cepet golèt informasi.Kalau perlu kamaré Bapak dibuka. Kalau perlu lemariné sisan….”, jaré Yu Kus atos.
“Maksudé?”, Mas Slamet takon.
“Sapa weruh ana surat ….utawa catetan …utawa tulisan. Pokoké apa baé barang
sing bisa nggo petunjuk,Bu Neneng kuwé sejatiné sapa, terus alamaté nang endi…”
Pancèn. Pendapaté Yu Kus masuk akal. Tapi angger kudu mbuka kamar karo lemariné Bapak?. Wah, nyong ya ora pati setuju..Awit cilik mula, awit Ibu tèsih urip, kamaré Bapak karo Ibu ibaraté panggonan sing suci.Maksudè ora sembarang waktu enyong sasedulur manjing mono.Embuh sebabé apa.Tapi sikap kaya kuwé ndèyan wujud rasa hormaté nyong kabèh maring wong tuwa.Rumangsa yèn seduluré ora pati setuju, Yu Kus ngomong maning. Nadané serius karo mandeng sedulur-seduluré siji-siji.
“Mas Met…Gun..,aku dudu kewanén utawa kurang ajar maring wong tuwa.. Tapi kiyé kondisiné darurat. Demi keslamatan bapa, apapun harus kita lakukan”.
Suwasana dadi sepi. Kaku. Mung suwara jam dinding baé sing kayong keprungu. Waktu kuwé wis jam setengah papat.Ujug-ujug Yu Kus gemboran ngundang-undang Bi Dasmi sing lagi nang dapur .Bi Dasmi gagiyan marani.Praèné katon wedi campur bingung.Apa maning awit mau dhèwèké weruh yèn Yu Kus lagi emosi. Bi Dasmi dikongkon njagong nang sebelahé Yu Kus.
“Bi Dasmi !. Kiyèh njagong kéné !.Nyong pan ngomong karo sampéyan. Sampéyan ngarti o ya, saiki lagi ana masalah sing pelik. Masalah sing gawat.Saiki aku arep takon. Bi Dasmi weruh oya, Bu Neneng sering mréné ?”
“Enggih Nok, tapi arang-arang. Sing sering sumerep Si Tarmunah”
“Tar !. Méné !”, Yu Kus ngundang Tarmunah,putuné Bi Dasmi sing lagi nyiram tanduran nang latar. Tarmunah gagiyan mlayu marani. Dhèwèké ora wani manjing, mung ngadeg amping-amping nang pinggir lawang.Weruh wong-wong padha kumpul, apa
maning ndeleng mboktuwané uga ana nang kono, Tarmunah katon wedi. Rainé tegang.
“Kiyèh Tar…Jawab sing bener ya. Kowen sering weruh o ya, Bu Neneng sokan mréné?”. Tarmunah manthuk. “Terus, angger Bu Neneng mréné, kowen weruh o ya,dhèwèké sokan manjing kamaré Bapaké ?”. Tarmunah manthuk maning. “Coba Mas,…wong séjén baé wani-wani manjing kamaré Bapak…lha ka anak-anaké ka langka sing wani ?”, jaré Yu Kus maning, ngèin argumentasi sing pas nemen.
“Tar,kowen weruh umahé Bu Neneng nang endi?”,Mas Slamet ganti sing takon.
“Trosé teng Crebon”
“Nang Cirebon….?”, Yu Kus ngomong setengah njerit. Nyong kabèh padha kaget.Ora ngira babar pisan yèn Bu Neneng umahé nang Cirebon. Tapi Cireboné nang endi?. Apa nang kota,apa nang kabupaten…Terus nang jalan apa..kampung apa..Cirebon kan luas?. Tapi Tarmunah weruhé mung nang Cirebon. Alamaté nang endi , ora ngarti. Yu Kus sangsaya napsu kepèngin ngarti luwih jelas latar belakangé Bu Neneng. Tarmunah dikongkon manjing, terus dikongkon njagong nang ngingsor.Tarmunah diinterogasi persis kaya tahanan sing lagi dipriksa daning pulisi. Tarmunah ditakoni werna-werna ,sing nyangkut hubungané Bapak karo Bu Neneng. Apa baé ditakokna. Nyong ora ngira jebulé akèh nemen hal-hal sing ora tak sangka sing bisa terungkap. Malahan Tarmunah uga crita yèn Bu Neneng uga wis tau nginep. Bu Neneng malah tau crita maring Tarmunah yèn dhèwèké duwé anak loro. Wadon karo lanang. Sing wadon wis kerja dadi artis nang Jakarta. Sing lanang tèsih cilik umuré 5 taun. Tarmunah,bocah wadon sing umuré nembé rolas taun, tèsih murni, njawab apa anané. Apa maning Yu Kus olihé takon ndhedhes-ndhedhes njlimet nemen.
“Kowen ya ngarti yèn Bu Neneng arep dibojo daning Bapaké?”
Tarmunah ora langsung njawab. Nglirik maring mboktuwané. Tapi akhiré ngomong karo ndregdheg.
“Enggih,ngertos. Tapi sing sanjang Bu Neneng piyambak. Bapaké tah mboten naté sajang”.
“Umah kiyé pan didol ya kowen ngarti?”
“Ngertos. Malah trosé Bu Neneng , mangké angger Bapaké sampun nikah badhé dijak pindhah teng Cirebon….”
“Adong wis kawin pan dijak pindhah maring Cirebon ??. Edan !. Dhasar wong wadon ora bener… Mas Met,Gun,Ndo karo Pram…..Krungu dhèwèk oya..rencana busuké Bu Neneng??”, Yu Kus ngomong suwarané dhuwur karo tangané geblag-geblag méja. Tarmunah kewedinen, rainé pucet. Bi Dasmi kagèt.Lambéné gemeter karo ngomong “Tar-Tar…jebulé kowen weruh kabèh.? .Bisané kowen ora tau crita..??” Tarmunah ndhingkluk karo matané dlawèran. Nangis ngguguk-ngguguk.
Saiki kabèh wis gamblang.Cetha wèla-wèla.Informasi ngenani BuNeneng mulai jelas. Tarmunah ora mungkin goroh. Weruh Tarmunah nangis Yu Kus ngongkon metu nerusna nyiram tanduran. Bi Dasmi melu metu terus ngrangkul putu wadoné.
“Berarti bener. Bapak maring terminal pan maring Cirebon.Muga-muga baé Bapak bisa ketemu karo Bu Neneng”, Mas Gun ngomong maring nyong.
“Filing-é aku ya cocog Mas. Bapak mesthi nyusul Bu Neneng. Tapi sing tak kuwatiri Bu Neneng ora balik maring umahé. Bu Neneng sengaja menghindar.Akhiré Bapa mung muter-muter nang Cirebon”, jaré mas Wondo.
“Ya, tapi sing tak suwun muga-muga baé Bapak bisa ketemu Bu Neneng,terus masalahé bisa di-klir-aken. Dadi Bapak bisa cepet-cepet balik”, nyong ngomong nggo ngadhem-ngadhemi sedulur. Tapi Yu Kus ora bisa nrima omongané nyong.
“Tapi aku malah kuwatir. Bareng teka nang umahé Bu Neneng Bapak digandhuli ora olih balik, terus dipaksa nginep”
“Terus maksudé apa Yu ?”
“Pram, Pram…, sapa weruh Bu Neneng duwé rencana jahat. Kiyèh sedulur-sedulur….aku duwé firasat ala. Sing mau kepèngin tak omongna, tapi aku kuwatir sedulu-sedulur ora percaya. Bareng situasiné wis ruwed kaya kiyé, aku kudu ngomong. Sebabé apa Bu Ning ninggalaken bapa nang pasar ?”, Yu Kus ngomong kaya kuwé karo mripaté mendelik, nyawang rainé seduluré siji-siji. Terus ngomong maning, suwarané alon tapi tegas.“Firasaté aku, Bu Neneng menggunakan kesempatan lunga maring pasar kanggo meres Bapak”. Nyong karo kakang-kakang lanang njimprak. Kagèt kaya kesetrum listrik.
“Yuh, disimak maning sing tliti kesaksiané Tarmunah. Bu Neneng kan tau ngomong maring Tarmunah : mengko adhong wis kawin, Bapak arep pindhah maring Cirebon.Apa artiné?. Artiné, angger umah kiyé wis payu,dhuwit sing 45 juta bagiané Bapak ora pan nggo tuku umah cilik sesuai kepènginé Bapak. Tapi Bapak pan ngalih maring Cirebon, mèlu Bu Neneng karo nggawa dhuwit sing semono akèhé…… Terus……angger dhuwit wis dikuwasai Bu Neneng , Bapaké dhèwèk didepak. Wong wadon modèl Bu Neneng kuwé tipu muslihaté macem-macem.Canggih.Sementara, Bapaké dhèwèk kan wongé lugu,jujur,lempeng”
Nyong ora ngira Yu Kus duwé logika lan analisa sing landhep kaya kuwé. Senajan ujung-ujungé nglahiraken kecurigaan sing ala, tapi nang jero ati nyong ngalem maring sedulur wadon sing duwé pemikiran luas kaya kuwé. Mas Slamet awit mau mung meneng nggethem. Mas Gun karo Mas Wondo ya katoné ora wani komentar.Muga-muga kabèh bisa nrima pemikirané Yu Kus. Suwasana balik maning adhem.Kabéh klelep manjing maring angen-angené dhèwèk-dhèwèk. Weruh seduluré mung padha meneng thok, Yu Kus ngomong maning.
“Mulané ,ayo padha mbuka kamaré Bapak. Muga-muga bisa nemokna titik terang apa sing sabeneré terjadi antara Bapak karo Bu Neneng. Sapa weruh ana petunjuk sing bisa njelasaken,nang endi alamat lengkapé Bu Neneng nang Cirebon”
Mas Slamet ndhisiti menyat , kabèh padha mèlu marani kamaré Bapak. Jebulé kamaré Bapak ora dikunci. Wong lima sek-sekan manjing kabèh nang kamaré Bapak. Kamar sing ukurané gedhé, kabèh katon rapi. Dipan jati sing dilapisi formika modhel lawas, sprei karo sarung bantalé batik Pekalongan. Nang pojokan kasur ana slimut lèrèk,sarung plékat sing dilempit rapi. Nang kapstok nduwur dipan ana klambi koko putih karo cindung. Ambu balsem gandapura campur aroma parem beras kencur krasa khas nyogok nang cungur. Ambu sing nandhakna kamaré wong tuwa. Terus ana lemari gèndhong kayu jati,jèjèr karo meja rias. Nang meja rias, ana potrèté Bagus karo Sunu,anak-anaké Mas Slamet. Terus ana maning potrèté anak-anaké Yu Kus, Yayang karo Vina. Anak wadoné Mas Gun sing arané Salsa. Potrèt putu-putuné Bapak, bocah cilik-cilik sing lucu-lucu. Nang pareké potrèt sing dijèjèr-jèjèr ana pomid,lenga wangi klonyo, semir rambut,lenga gandapura,pupuh mata lan barang-barang cilik sèjèné. Nang
dhuwur meja tulis cilik ana mesin tik portabel. Persis nang dhuwuré meja ana potrèté Bapak karo Ibu digantung rada endhep. Dadi angger Bapak lagi nulis utawa ngetik,bisa karo nyawang potret kuwé. Bapak nganggo seragam dines Kabupaten, ibu nganggo seragam Dharma Wanita.Nang jèjèr mesin tik ana tumpukan majalah,koran karo map sing isiné kertas. Mas Slamet mriksa map karo kertas-kertas , terus ujug-ujug dhèwèké kaget karo ndhodhokna 2 lembar surat tik-tikan. Jebulé surat kuwé tik-tikan asli sing fotokopiné dikirim maring enyong karo sedulur-sedulur. Terus sing jero map ana maning kertas fotokopi sertipikat umah karo selembar surat kuwasa.
“Wah..Kiyé ana surat penting nemen. Ternyata Bapa ngéin surat kuasa maring Bu Neneng”, Mas Slamet ngomong serius nemen.
“Bu Neneng dingèin surat kuasa?. Surat kuasa nggo apa ?. Wadhuh,wadhuh,…”, Yu Kus takon kayong ora percaya. Mas Slamet nyekel surat kuwé,terus diwaca.“Tenang Nok…tenang kowen aja ribut ndhisit. Kiyèh rongokna”, Mas Slamet maca alon-alon.
“Yang bertandatangan dibawah ini, Nama…Ramelan Wirjoatmodjo, Umur 56 tahun, pekerjaan Pensiunan Pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal, alamat Jalan Kejambon Tegal…dengan ini memberi kuasa penuh kepada nama, Ny. Neneng Yunengsih, umur 36 tahun ,pekerjaan ibu rumah tangga,alamat….lha kiyé sing penting…Jalan Kilari Nomer 18 RT 7/IV Kelurahan Palimanan, Kecamatan Palimanan Kabupatèn Cirebon. Untuk pertama,menawarkan penjualan sebuah rumah berikut tanah pekarangan yang terletak ..lan saterusé…..terus kedua, melakukan transaksi penjualan atas rumah sebagaimana tercantum…lan saterusé”. Bar maca kertas kuwé Mas Slamet gèdhèg-gèdhèg. Weruh kaya kuwé, Yu Kus balik maning mucu-mucu.
“Anèh…ora masuk akal. Dhongé Bapak diapakaken karo sing arané Bu Neneng. Masa ujug-ujug Bapak ngèin surat kuasa nggo ngadolna umah maring wong wadon sing Cirebon?. Pasti ora sawajaré…aja-aja Bapak wis kena guna-guna .Bener jaré wong-wong. Sing arané wong wadon Cirebon kuwé pinter-pinter ilmuné….”
“Mengko ndhisit Yu. Aja langsung nudhuh sing kaya kuwé”, Mas Gun sing
bojoné wong Karangampel krungu Yu Kus ngomong kaya kuwé rada tersinggung. “Kiyèh..surat kuasa kuwé angger tak saring-saring, pancèn poin-poin-é kayong ora lazim. Coba Mas Slamet,poin kedua diwaca maning. Angger ora salah, moniné…..melakukan transaksi penjualan, .. berarti…….Bu Neneng berhak juga dong, menerima pembayaran…iya Mas Gun?”, Mas Wondo ngomong serius nemen, nggawé sing ngrongokna padha kagèt.
“Dadi …?? Menurut kowen minggaté Bu Neneng, kemungkinan besar disebabna umah wis payu.Sudah terjadi transaksi penjualan, dan uang sudah diterima Bu Neneng Wadhuh, cilaka angger kaya kuwé tah…”,Yu Kus ngomong kethus.
“Tenang si Yu,tenang. Ora segampang kuwé melaksanakan sing arané transaksi jual beli rumah . Aja su’udon ndhisit. Untuk melakukan transaksi penjualan umah karo tanah ,paling ora kudu disetujui karo anak-anaké Bapak. Kuwé kan harta gono-gini-né Bapak karo almarhumah Ibu. Sedangkan Bapak karo Ibu meninggalkan keturunan utawa ahli waris. Dadi ora bisa gampangan kaya kuwé”, Mas Gun ngadhem-ngadhemi Yu Kus karo Mas Wondo.
Rupané Mas Slamet mbatesi pengglèdhan kamar ora nganti mbuka lemari karo ngudhal-udhal laci. Sing penting wis olih informasi soal Bu Neneng. Kabèh padha metu
sing kamar.Nyong sing paling kari.Apèn-apèn mbèrèsi tumpukan kertas, nyong mbuka laci meja tulis sing paling sor.Nyong kagèt weruh ana amplop surat..Mbuh kenang apa, waktu kuwé nyong reflek njukut amplop sing rada kandel kuwé terus tak anjingna sak clana.Nyong gaiyan metu,nggabung maning karo sedulur-sedulur nang ruang tamu.
“Kaya kiyé baé”, Mas Slamet mbuka omongan.”Kita nunggu tekané Bapak nganti jam lima. Sukur-sukur sadurungé jam lima Bapak wis nelpon.Angger nganti jam lima durung ana kabar sing Bapak , Gun karo Pram nyusul Bapak maring Cirebon. Alamaté Bu Neneng kan wis padha weruh… “
Kabèh setuju usulané Mas Slamet. Waktu kuwé wis jam setengah lima.Bi Dasmi karo Tarmunah wis rampung bersih-bersih pekarangan karo nyiram tanduran. .Yu Kus ngandhani Bi Dasmi karo Tarmunah aja balik ndhisit, bareng-bareng ngentèni tekané Bapak. Ngentèni Bapak teka??. Ya, muga-muga baé Bapak teka temenan….
4
Jam 4.50. Soré wis mudhun nang Jalan Kejambon.
Soré sing ngudhunaken rasa gelisah ngrasup maring atiné anak-anaké Bapak.Enyong karo Mas Gun wis tata-tata arep maring Cirebon. Ora bisa mbayangaken apa sing bakalé tak tamoni mengko 2 jam maning angger nyong karo Mas Gun wis tekan Palimanan. Atiné nyong wis mantep yèn nyong kudu bisa ketemu karo Bapak bengi kuwé. Ora mung ketemu, tapi nyong kudu ngarti apa sing wis kedadian antarané Bapak karo Bu Neneng. Terus bisa olih jawaban sebabé apa Bapak karo Bu Neneng pisahan nang Pasar Esuk lan wong loro padha ngilang nganti enyong sasedulur padha ribut dhèwèk..Nang jero ati nyong ora yakin maring penemuné Yu Kus,yèn Bu Neneng kuwé minggat nggawa dhuwit olih hasil mayokna umah.Nyong babar pisan ora percaya.
Lagi pikirané nyong mblayang kaya kuwé, ujug-ujug nyong krungu suwarané Bi Dasmi sing gemboran karo kèprèh-kèprèhan.
“Nok Kus, Mas Met…Mas Gun !. Niki Bapaké…Bapaké kondur….!!”..Wong lima gagiyan padha mlayu metu sing umah. Nang lawang gerbang kedeleng ana becak manjing pekarangan. Tukang becaké mudhun,terus becak disurung tekan ngarep lawang. Yu Kus karo Mas Slamet gagiyan nggandhéng tangané Bapak mudhun sing becak. Bapak dituntun manjing, dijagongna nang dipan sing ana nang ruang tengah,sing biasa nggo lèsèhan karo nonton TV. Kabèh padha ngrubung.Bapak katon lesu nemen,rainé pucet.Bi Dasmi nggawa banyu putih terus dinungna Bapak.
“Bapak sing pundi mawon si Pak…daning ngantos sonten?.Sagedé Bapak mboten telpon…kulo sedoyo kan dadosé panik…?”, Yu Kus takon karo nyikep tangané Bapak. .Bapak meneng ora nyauri.Mung gèdhèg karo ngunjal ambekan..
“Dalem sedaya sami kuwatos Pak. Bapak mboten kènging napa-napa Pak ? Terus saniki Bu Neneng teng pundi?”, nyong takon, maksudé supaya Bapa gagiyan kandha, sebabé apa Bapa lunga nganti suwé nemen.Sawisé nyawang anaké siji-siji,Bapak ngomong alon-alon,suwarané gemeter.
“Embuh Pram, Bapak dhèwèk ora ngarti….Bapak bingung…kèder.Mau ésuk kan aku lunga bareng karo Bu Neneng. Sing umah langka masalah apa-apa. Bapak malahan seneng nemen.Bisa ngenalaken Bu Neneng karo kowen kabèh. Apa maning Bu Neneng kandha arep masak soto kesenengané Bapak.Bareng wis ngater Bu Neneng manjing los
pasar, aku maring kios manuk pan tuku pur karo kroto.Janjiné angger wis rampung blanja, dhèwèké nyamper nang kios burung”. Tekan semono ngomongé Bapak mandheg. Nyong kabèh padha pating pendongong, ora sabar ngentèni crita saterusé .Bapak dhèhèm-dhèhèm. Ambekané rèngosan. Rupané Bapak nahan perasaan sing abot nemen. “Terus Bapak ngentèni nang kios burung.Nganti suwé nemen,.Bu Neneng ora teka-teka.Tarus bapa nggolèti mubeng-mubeng nang jero pasar.Ya ora ketemu. …”
“Lajeng Bapak wangsul malih teng kios burung.Ngentosi teng ngriku ngantos dangu. Lajeng ?”, Mas Wondo nerusna critané Bapak padha karo sing dicritakna tukang burung sing arané Pak Sa’il.
“Bapak ya bingung. Terus Bapak takon-takon karo tukang-tukang becak sing padha mangkal nang kono, mbokan ana sing weruh Bu Neneng. Kebeneran tukang becak langganané bapa sing arané Si Nur kandha yèn dhèwèké mau tes ngaterna Bu Neneng maring terminal”
“Dados Si Nur niku tepang kalih Bu Neneng?”,nyong takon.
“Ya kenal, wong Bu Neneng sering numpak becaké Si Nur. Krungu kandhané Si Nur yèn dhèwèké tes ngater Bu Neneng maring terminal, bapa kagèt nemen. Dhongé Bu Neneng kenang apa?. Bapa bingung. Penasaran. Mulané tanpa mikir maning Bapak gagiyan nyusul maring terminal . Sapa weruh Bu Neneng durung numpak bis”
“Bu Neneng niku griyané teng pundi?”, Mas Gun apèn-apèn takon.
“Lho,dadi durung padha ngarti umahé Bu Neneng ?”
“Dèrèng. Wong Bapak dèrèng ngendika…”
“Bu Neneng kuwé umahé nang Palimanan, sing Cirebon ngulon.Kurang luwih pitulas kilometer. Bareng nyong tekan terminal Bu Neneng wis ora nana. Ya wis, aku langsung numpak bis jurusan Bandung maring Palimanan”
“Lajeng?. Bapak kepanggih BuNeneng teng griyané ?”
Suwé Bapak ora njawab. Karo ngunjal ambekan jero nemen,akhiré Bapak ngomong.
“Tekan kana, Bu Neneng ora nana. Malahan umahé kuncinan. Jarè tangganè, Bu Neneng lunga awit wingènané. Ya wis…Bapak tambah mumet”
“Lajeng Bapak kondur dhateng Tegal malih?”
“Iya. Bapak nganti kesel nemen..kesel…Aku kesel…”. Bapak ngomong alon-alon, suwarané lirih, mèh ora keprungu. Bar ngomong kaya kuwé, matané Bapak merem. Ketara yèn dhèwèké bener-bener kesel kentongan tenaga.Rupané ora mung fisiké sing loyo tapi mentalé Bapak uga anjlog. Yu Kus sing njagong nang iringané Bapak ora mampu nahan perasaané. Kontan dhèwèké nangis ngguguk-ngguguk , rainé nang pangkuané Bapak. Mas Gun karo Mas Wondo ndhodhok nang ngisor padha nyekel sikilè Bapak. Mas Slamet ngadeg sedhakep karo mbrebes mili. Nyong sing njagong nang korsi ora tegel nyaksèni adegan sing ngenes kaya kuwé. Nyong ora ngira babar pisan yèn rencanané Bapak akhiré mung ndadèkna Bapak nemoni kesedhihan sing jero nemen. Ora mung Bapak sing menderita remuk ancur lair kelawan batin. Tapi anak-anaké Bapak sing mauné duwé pengarep-arep sing gedhé nemen. Pengarep-arep olihé padha kepèngin weruh uripé Bapak luwih bahagia nganti tutup yuswa. Bayangna…wolung jam luwih , awit jam sanga ésuk nganti wayaméné nyong kabèh terlibat maring konflik batin lan adu pendapat karo sedulur sing ora genah ujung pangkalé.Adu pendapat sing kaya-kaya bisa
gawé renteng wutuhé seduluran sing wis dipupuk awit tesih padha cilik-cilik. Saiki mung bisa nyaksèni Bapak sing tak kira tèsih sehat perkasa, jebulé mung sosok tuwa sing wis loyo , lèmpoh ora duwé daya…..
Suwara watuké Bapak mecahna suwasana soré sing sintru nang ruang tengah.Bapak mbuka mripaté. Yu Kus njenggèlèk terus nyekel tangané Bapak.
“Bapak siram rumiyin nggih Pak. Bapak kedah istirahat. Bapa kan dèrèng dhahar?. Monggo Pak, siram toya anget, terus mangké dhahar sareng-sareng”
Yu Kus ngajak bapa manjing kamar salin pakéan. Terus dituntun maring kamar mandi. Tarmunah nggawa èmbèr banyu panas. Bapa adus ditunggoni YuKus nang ngarep kamar mandi.
Mas Slamet ngajak nyong ,Mas Gun karo MasWondo maring ruang tamu.Kabèh katon rainé padha pesuh. Mas Slamet njaluk pendapaté adhi-adhiné gandhèng karo kondisiné Bapak.Terus takon kapan pan padha balik.Soalé ngèsuk dina Senen mesthiné kabèh kudu padha manjing kerja.Akhiré disepakati ,ana sing balik,ana sing kudu ditinggal nunggoni Bapak sing kesehatané nguwatiraken. Rencanané Mas Slamet arep balik maring Semarang bubar subuh. Mas Wondo sing umahé parek nang Pemalang pan balik engko bengin-bengian. Dhèwèké ora tega ninggalna bojoné karo bayi sing nembé telung wulan. Mas Gun ya rencanané balik rada awan jam wolunan.Nyong karo Yu Kus sing ditinggal nganti kondisiné bapa stabil..
“Aja klalèn kowen disempatna golèt informasi mengenai Bu Neneng. Palimanan kan parek sing Indramayu”, Mas Slamet ngomong rada wisikan maring Mas Gun.”Tapi aja sampé yang bersangkutan ngarti.Pokoké sing rapi”
“Kebeneran aku duwé kanca nang Palimanan. Aku bisa takon-takon utawa kongkonan kanca nggo nyelidiki Bu Neneng. Pokoké bèrès. Mengko kabèh tak ngèin kabar”
“Muga-muga background-é Bu Neneng bisa diungkap sajelas-jelasé Mas.Aku ya berusaha ngarti sapa anak wadoné Bu Neneng sing nang Jakarta. Sukur-sukur nyong bisa kenal dadi luwih lengkap”, nyong ngomong karo ndukung nemen gagasané sedulur-sedulur. Nyong dadi kèlingan amplop surat sing tak jukut sing laci meja tulisé Bapak. Amplop kandel sing nganti saiki tèsih tak sak durung kober tak waca.
“Aku sing mau kepikiran maring pekerjaan Bu Neneng sing ditulis nang surat kuwasa. Ibu Neneng Yunengsih, umur 38 taun , pekerjaan Ibu rumah tangga. Berarti dudu randa dong?”, jaré Mas Wondo.
“Ibu rumah tangga kuwé bisa bersuami juga bisa janda. Pati-pati arep nikah karo Bapak berarti ya randa”, Mas Slamet nyelani.
“Sing jelas, dhèwèké relatif tèsih katon nom. Tèsih katon ayu,terpelajar.Terus saiki arep dikawin seorang pensiunan sing umuré sèket nem .Anaké lima, putuné nem. Akh…Kayong ora manjing akal. Kecuali ana sesuatu hal sing istimewa. Pribén jaré sampéyan Mas Met?”, MasWondo ngomong wisikan karo matané sadhèlat-sadhèlat nglirik maring lawang, mbokan Yu Kus metu..
“Wis, masalah kuwé aja dibahas ndhisit.Sing penting saiki kepribèn memulihkan kondisiné Bapak. Mulané mengko angger Bapak wis dhahar karo istirahat,dirembug sing alus.”
Ora let suwé keprungu Adzan Maghrib sing mushola.Buru-buru enyong kabèh padha adus terus sholat bareng nang pesholatan. Bapak karo Yu Kus ya mèlu sholat. Mas Slamet sing ngimami. Embuh wis pirang taun nyong sasedulur ora sokan diparingi kesempatan sholat bareng kaya kuwé. Rasa sedih,bangga,terharu campur adhuk dadi siji mujudaken suwasana khusyu’ sing luar biasa. Kabèh sujud temungkul, pasrah nang ngarsané Gusti Allah. Maghrib kuwé nyong sholat karo mbrebes mili. Sawisé salam nyong sasedulur ora mung ngambung tangané Bapak, tapi padha sujud nyembah nang dhengkulé Bapak. Terus kabèh padha rerangkulan,sikep-sikepan. Bapak rupané terharu,ndeleng anak-anaké tetep padha rukun . Tak deleng Bapak ngusapi mripaté sing
ngecembong banyu mata.
Suwasana rukun ,padha saling éman lan bebrayan, diterusna maning nang acara mangan bengi. Yu Kus ngusulna bengi kuwé mangan nang jaba. Kabèh padha setuju ngajak Bapak mangan soto Sedep Malem nang Talang.. Nganggo mobilé Mas Gun wong nem mangkat maring Talang. Kanggo sawetara kabèh kepèngin padha ngilangakèn masalah ruwed sing ujug-ujug teka ngglibed nang keluawargané nyong. Embuh wis pirang taun nyong karo sedulur-sedulur ora tau kumpul njajan soto bareng kaya bengi kuwé. Maklum bareng wis padha rumah tangga lan manggon pisah-pisahan, kabèh padha sibuk urusané dhèwèk-dhèwèk. Mulané bengi kuwé nyong kabèh kepèngin padha seneng-seneng, terutama nyenengna atiné Bapak sing katoné tèsih kecewa daning peristiwa mau awan. Mas Slamet nyoba nggawé suwasana supaya gembira.
“Aku dadi kèlingan lagi pertama olih bayaran. Sebagai karyawan honorer nang kantor P dan K nang Semarang , bayaranku mung 16 èwu.. Leres nggih Pak ?”. Bapa ora
njawab mung mèsem thok.
“Terus mas Met ngajak nyoto.. o ya..?. Waktu kuwé sapa baé ya?”, Yu Kus kèlingan..
“Waktu kuwé kabèh mèlu kepèngin ditraktir.Persis kaya saiki…..”, nyong sing njawab.
“Iya,ya.Lucuné,bareng arep mbayar jebulé dhuwité kurang. Akhiré Bapak sing nombok…nggih Pak..?”. Mas Slamet gemuyu ngakak.Wong semobil gemuyu kabèh.
“Dadi kiyé mengko sapa sing mbayar?. Mas Met maning apa Mas Wondo?”, nyong nyoba nglucu.
“Aja….Pegawé negri ora olih nraktir.Sing mbayar…bos urang baé”, jaré Mas Wondo nglèdèk Mas Gun. Kabèh gemuyu ger-geran..Mas Gun, sedulur paling sugih sing sering dijuluki bos urang mung manthuk-manthuk karo gemuyu.
Balik sing nyoto suwasana wis rada èncèr. Bengi kuwé nang ruang tamu padha ngobrol sing lucu-lucu, mbagi pengalamané masing-masing, kayong rakhat nemen.Yu Kus nyedhiakna tèh poci karo martabak Lebaksiu olih tuku nang pasar Banjaran. Ditambah pilus karo krupuk anthor Ujungrusi olih nggawané Bi Dasmi ndadèkna obrolan sangsaya luged. Sadurungé padha ngomong rencana kapan pan padha balik, Bapak wis ndhisiti takon. Bareng krungu rencanané Mas Slamet karo Mas Gun arep balik mbesiki, Mas Wondo pan balik mengko bengi-bengian,nyong karo YuKus sing arep balik kèri, bapa ngomong.
“Lhah, daning rundingan rencanané Bapak durung rampung wis pan padha balik”. Rada suwé ora nana sing njawab. Yu Kus langsung rainé brobah.Mas Gun
njagongé mulai gelisah.Mas Wondo nyuled udud. Bapak ngomong maning.
“Sabeneré Bapak ora kepènak karo kowen kabèh. Apa sing mauné tak bayangaken bakal nggawé bungah,jebulé malah dadi padha susah.Aku gela nemen.Tapi muga-muga baé kapan-kapan bisa dirunding maning nganti mateng”
“Maksudipun Bapak…..?”, Yu Kus takon.
“Ya,muga-muga baé Bu Neneng gagiyan teka mréné. Bapak kepèngin ngarti sing sabeneré. Mulané pan tak entèni sedina loro.Aku yakin Bu Neneng pasti teka mréné.”
“Dados Bapak saèstu mboten ngertos sebabé nopo Bu Neneng ngantos ninggalaken Bapak teng peken ?. Nopo Bapak kalih Bu Neneng wau mboten cekcok, utawi salah paham,utawi tersinggung..nopo kadospundi?. Dados, saèstu panjenengan mboten ngaertos sebabé?”
“Ora ngarti babar blas, Nok. Mulané aku penasaran. Aku wis paham nemen wateké Bu Neneng .Bu Neneng kuwé selalu terbuka maring Bapa Dadi ora mungkin dhèwèké duwé pikiran sing macem-macem. Pasti ana sesuatu masalah sing banget-banget penting. Embuh masalahé apa …Bapa justru kuwatir maring Bu Neneng, mbokan kenang apa-apa”
Krungu jawabané Bapak kaya kuwé nyong dadi kèlingan amplop surat sing tak jukut saka laci meja tulisé Bapak. Amplop sing nganti saiki durung kober tak waca. Mung nyong sempet mbuka sadhèlat,isiné surat-surat sing Bu Neneng. Malahan ana fotoné Bu Neneng karo anak-anaké.Ah, ndéyan angger nyong wis sempat maca surat-suraté Bu Neneng tah nyong bisa ngarti, apa bener Bu Neneng kuwé kaya sing diomongna Bapak. Nyong malah kuwatir, aja-aja Yu Kus bakal ngomong, yèn kabèh
wis padha weruh sapa sejatiné Bu Ning kuwé. Dhèwèké umuré 38, anaké loro, terus nyekel surat kuwasa adol umah lan saterusé. Bisa-bisa angger pribadiné Bu Neneng kaya sing diomongna Tarmunah diungkap nang ngarepé Bapak, Bapak malah tambah frustasi. Untung Mas Slamet tanggap situasi.Dhèwèké langsung ngomong.
“Dados rencanané Bapak salajengé kados pundi?”
“Bapak tetep arep ngentèni Bu Neneng.Bapak kepèngin klarifikasi.Angger nganti rong dina ora mréné, Bapak pan nggoleti nang umahé maning.Bapak kan weruh wong tuwané karo sanak familiné kabèh. Lha mengko angger wis jelas duduk perkarané,Bapak ngabari kowen kabèh”
“Lajeng perkawis sadé griyo ?. Nopo Bapak sampun kepanggih langsung kaliyan calon pembeli?. Nopo nganggé calo utawi perantara ?”, Yu Kus takon. Enyong ngarti arah omongané Yu Kus. Mas Slamet,mas Gun karo mas Wondo kayané mbadhèk, yèn Yu Kus bakal mbuka omongan perkara surat kuwasa sing dicekel Bu Neneng.Mulané tak deleng rainé padha tegang. Padha kuwatir mbokan bapa tersinggung.Tapi jebulé ora. Ditakoni Yu Kus kaya kuwé Bapak malahan mèsem. Sawisé ngunjal ambekan dawa nemen Bapak ngomong.
“O ya, Bapak durung sempat njelasna. Sabeneré, antara penjualan umah karo rencana pernikahané aku karo Bu Neneng kuwé ana hubungané. Ana gandhèng cèwèngé. Saling berkaitan satu sama lain”
“Maksudipun Bapak ?”, Mas Gun takon.
“Dadi kaya kiyé. Mauné Bapak babar pisan ora duwé pikiran arep ngadol umah. Lha bareng sangsaya parek hubungan karo Bu Neneng,terus duwé
rencana kepèngin urip bareng, suwé-suwé timbul niat pan adol umah”
“Nuwun sèwu Pak……”, Yu Kus ujug-ujug ngandheg omongané bapa.”Rencana sadé griyo niku,saleresé inisiatifé Bapak nopo Bu Neneng?”
“Inisiatifé wong loro.Inisiatifé Bapak timbul saka pemikiran-pemikiran kaya sing tak tulis nang surat.Umah kiyé wis kurang manfaat tumrapé Bapak.Bapak ora butuh umah sing saméné gedhéné.Ibaraté, umah kiyé malah dadi beban. Lha Bu Neneng duwé pemikiran sing apik. Apik nemen. Bu Neneng rumangsa ora kepènak angger wis nikah karo Bapak, terus manggon nang umah kiyé. Mesthiné kowen ya padha keberatan. Umah kiyé kan tinggalané jenaté ibumu. Dadi supaya mbésuk-mbésuk aja dadi masalah, umah kiyé apiké didol. Sebagian nggo Bapak kanggo tuku umah maning sing luwih cilik.Sebagian arep tak serahna kowen kabèh”
Penjelasané Bapak sing rada ngalem maring Bu Neneng ,ndadèkna nyong sangsaya penasaran maring sosok sing arané Bu Neneng. Disamping kuwé, ana pitakonan sing muncul, bisané Bu Neneng sing dingèin surat kuasa nggo ngadol umah kiyè?. Tapi nyong ora wani takon maring Bapak. Kabèh kakangé nyong ya padha baé. Langka sing wani nakokna masalah surat kuasa.Padhahal kabèh mesthi kepèngin weruh apa sebabé. Maning-maning mung Yu Kus sing wani takon, senajan takoné mlipir-mlipir ora langsung maring sasaran.
“Lajeng, Bapak pados pembeli piyambak nopo nganggé perantara?”
“Mmm…kebeneran bu Neneng kuwé akèh relasiné. Pejabat-pejabat pemerintahan, mantan pejabat, pengusaha-pengusaha….akèh sing kenal. Dadi
Bapak njaluk tulung Bu Neneng tak kongkon masarna. Angger sing mayokna Bu Neneng
kan ora kudu ngèin komisi……”, jaré Bapak karo gemuyu tapi cemplang. “Malah wis ana calon pembeliné , kaya sing wis tak omongana. Arané Pak Tomas , distributor pabrik jamu sing Solo. Minggu mau Pak Tomas karo staf-é wis ngontrol mréné.Langsung cocog.Jaré tah arep nggo mes karyawan karo gudang. Pak Tomas kuwé sing nganyang 120 juta. Tapi bapa tetep njaluk 125 juta”.
“Tapi nuwun séwu Pak. Biasané kan menawi tiyang dados perantara kedah nganggé surat kuasa,lajeng mbekto fotokopi sertifikat. Nopo Bapak nggih maringi surat kuwasa dateng Bu Neneng?”, yu Kus takon maning, tapi nada suwarané ketenger curiga.
“O ya..Apa maning bu Neneng kan wong berpendidikan.Dadi ora gelem sembara-ngan. Sabeneré Bu Neneng kuwé dudu perantara lho.Dudu maklar. Dadi ya ora nganggo komisi-komisian. Niyaté mung kepèngin mbantu Bapak supaya umah gelis payu”, Bapak njawab pitakoné Yu Kus. Krungu omongané Bapak karo Yu Kus sing kurang énak kaya kuwé, Mas Gun nyoba nengahi.
“Yuné kepribèn si, Bapak kan pensiunan pegawé Pemda.Wis tau dadi Mantri Pulisi.Dadi peraturan jual beli tanah wis paham nemen.Nggih Pak ?.Terus kaya kiyé Yu. Mengko adhong transaksi nang kecamatan utawa PPAT, dhèwèk ya mesthi nyaksèni. Dadi Yuné ora usah kuwatir. Leres Pak?”. Bapak meneng baé mung manthuk-manthuk.Yu Kus ngomong maning semadan ngèyèl.
“Aku dudu kuwatir masalah surat kuasa Gun. Tapi sing tak kuwatirna justru wong sing nyekel surat kuasa kuwé, sing arané Bu Neneng. Wongé saiki nang endi ?.”
Krungu Yu Kus karo Mas Gun ngomong rada pethengthengan, apa maning nganti nyinggung-nyinggung masalah Bu Neneng, Bapak kayong ora bombong. Kedeleng
carané Bapak njagong, saiki rada mundur,gigiré nyèndhèh karo tangané sedhakep. Suwasana ndadak dadi kaku. Nyong ora ngarti kudu kepribèn. Kabèh dadi serba salah. Nyong ya maklum,sabeneré Yu Kus ora kepèngin nyinggung atiné Bapak. Omongané Yu Kus sing nggawé Bapak semadan ora pas, sejatiné mung didorong rasa prihatin lan rasa éman maring wong tuwa. Rasa èman sing jero nemen.
“Bapak mau wis ngomong. Soal Bu Neneng nyekel surat kuwasa ora perlu digawé kuwatir. Mulané , Si Nok karo Pram aja balik ndhisit. Dadi angger ngésuk mbuh mbèn dhong urusané Bu Neneng wis klir, kowen bisa weruh dhèwèk…Bapak yakin, kabèh bakal bèrès”, jaré Bapak optimis nemen. Bapak nglirik jam dinding. Jam sepuluh luwih.Suwasana nang jaba wis sepi.
“Saiki wis bengi. Ngèsuk Slamet karo Gun arep padha balik. Dhongé Wondo ya aja balik saiki. Padha istirahat baé ”, bapa ngomong alon-alon. Tapi Mas Wondo maksa arep balik, moniné melas sing nang umah. Bojoné langka kancané. Apa maning anaké sing èsih cilik angger bengi sokan rèwèl.Sawisé pamitan,ngambung tangan karo nyikep Bapak kenceng nemen, Mas Wondo metu diterna nyong karo Yu Kus tekan lawang gerbang. Bapak nutupi gorden
karo matèni lampu ruang tamu, terus manjing kamar. Sawetara suwara motoré Mas Wondo keprungu sangsaya adoh – sangsaya adoh , bengi sangsaya sepi.
5
Dina Senen èsuk tanggal 13 Maret 1994. Nembé jam nem,tapi dalan Kejambon wis molai ramé.Ora kaya dina-dina sèjèné,dina Senen pancèn dina sing khusus kanggoné pegawé pemerentah lan bocah sekolah. Biasané saben dina Senen èsuk nang sekolahan dianakna upacara bendera. Mulané dalan Kejambon sing ciut nemen dikebeki kendaraan,awit sing mobil,angkot,motor,sepeda,becak lan bocah-bocah sekolah sing padha mlaku.Kabèh runtung-runtung cepet-cepetan marani panggonan pegawéan lan sekolahan.Apa maning nang ujung wètan dalan Kejambon, parek karo turunan
brug Perpil karo pasar wedhus Langon, rombongan pegawé karo bocah sekolah sing perumahan Mejasem katon welur nemen.
Karo manasi mobilé Mas Gun, nyong nyawang dalan Kejambon ngarep umah sing lagi ramé-raméné. Kelingan lagi sekolah nang SMA Negeri sing ana nang Tegalsari,angger dina Senen nyong kebirit-birit mangkat sekolahé.Soalé angger nganti telat tekan sekolahan, terus upacara wis molai, lawang gerbang sekolah ditutup. Sing tekané padha telat kudu ngadhep guru pembimbing, dingèin pengarahan. Angger nganti telat ping telu, wong tuwané dikirimi surat kongkon teka nang sekolahan,dingèin peringatan. Ndeleng ana bocah SMA sing nganggo seragam putih abu-abu numpak motor boncèngan lanang wadon , nyong dadi kèlingan pacaré nyong sing arané Dewi . Dewi Agustina sing saiki kuliah nang Australia. Kèlingan maring bapané Dewi, pemborong paling sugih sa Tegal,sing ora seneng anaké pacaran karo nyong.Gara-garané waktu kuwé Dewi sering tak jak latihan teater.Biasa,angger bocah teater padha sok seniman.Dewi ya melu-melu kaya seniman. Latihan nang Gedung Wanita nganti bengi, pakéané kumel, nganggo sandal jepit karo nyangklèk tas klasa.. Akhiré nyong diancam daning bapané supaya putus karo Dewi. Malahan bapané Dewi kongkonan preman nggo nggertak nyong. Diancam kaya kuwé nyong wedi nemen. Hubungané nyong karo Dewi apèn-apèn putus. Tapi terus pacaran umpet-umpetan. Istilahé backstreet. Akhiré bareng lulus SMA Dewi langsung dikirim maring luar negeri, kuliah nang Melbourne. Akh…angger kèlingan lagi jaman SMA. Urip kayong manis nemen. Tapi lamunan lagi waktu sekolah ora nganti kedawan-dawan.Mas Gun sing wis tata-tata arep balik maring Indramayu marani karo ngomong.
“Pram, kowen dundang Yu Kus nang ruang makan”
Nyong gagiyan marani Yu Kus. Weruh rainé Yu Kus rada sepet,nyong kaget.Ana apa maning hèh?. Srog, nyong njagong nang sebelahé. Mas Gun ya mèlu jagong.
“Pram, aku kuwatir maring Bapak. Nganti wayamènè durung tangi. Padahal wis tak gawèkna susu , nganti susuné adhem”, Yu Kus ngomong alon-alon.
“Iya Pram. Sing mau kamaré tak dhodhog-dhodhog, aku arep pamit, ya Bapak meneng baé”, jaré Mas Gun. Dikandhani kaya kuwé nyong dadi runtag.
“Waduh, aja-aja Bapak lara.Nyong ya mau bengi weruh dhèwèk Bapak
ora saré - saré. Nyong kan turu nang ruang tengah nggelar karpet.Nganti jam siji Bapak tèsih melek. Malahan Bapak bolak balik metu sing kamar terus nelpon.Tapi rupané sing dihubungi telponé ora diangkat.Tak takoni nelpon sapa, bapa meneng baé”,nyong ngomong lirih.
“Paling-paling ya nelpon Bu Neneng, si nelpon sapa maning. Hh, aku tah kayong sèwot. Bener bener, Bu Neneng kuwé arep gawé rusak Bapaké dhèwèk. Coba Gun…angger Bapak nganti sakit parah tuli pribèn ?. Dasar wong Cerbon…akèh mistikè….”, yu Kus ora nerusna omongané.Rupané dhèwèké sadar, yèn bojoné mas Gun sing arané Yayu Teti uga asli wong Indramayu sing èsih klebu wong Cirebon. Krungu Yu Kus ngala-ala wong Cirebon kaya kuwé nyong rada kuwatir aja-aja Mas Gun tersinggung. Tapi Mas Gun malah mèsem. Rupané mas Gun ngarti yèn mbakyuné lagi emosi, dadi kelepasan omong kaya kuwé. Ora let suwé krungu suwara Bapak dhèhèm – dhèhèm. Krungu suwara dhèhèmé bapa, Yu Kus ngomong maning.
“Mana Pram…gagiyan manjing. Matur Bapak, Gun arep pamit”.
Nyong gagiyan manjing kamaré Bapak. Jebulé Bapak lagi nulis. Weruh nyong manjing Bapak mandheg olihé nulis, terus mandeng maring rainé nyong. Dipandeng Bapak kaya kuwé atiné nyong mak tratab. Pandengané Bapak ora kaya biasané. Pandengané katon adhem nemen, kosong ora nana ekspresi babar pisan. Nyong njagong nang pinggir ranjang, cangkemé nyong kayong ngunci ora ngarti mbuh pan ngomong apa. Ujug ujug Bapak menyat sing korsi terus njagong nang jèjèré nyong. Tangané ngranggèh tangané nyong terus nyekel rada kenceng.Tangan sing kriput,gering,tak rasakna atis nemen.
“Pram…”, bapa ngomong alon-alon suwarané serak.
“Dalem Pak”
“Si Nok karo Gun lagi apa?”
“Teng wingking.Saweg badhé sarapan. Tapi ngentosi Bapak diaturi dhahar sarapan sareng-sareng. Mas Gun nggih badhé pamitan” . Bapak nglirik jam. Jam setengah wolu. Bapak menyat terus ngajak metu. Nyong nginthil nang mburiné.Tapi nyong apèn-apèn kèri. Bapak tak kongkon metu ndhisit.Alesané nyong pan mbèrèsi peturoné sing pating slayah. Pancén sarung karo andhuké Bapak nglambruk nang pojok. Gagiyan nyong nglempiti sarung karo klambiné Bapak. Terus lhes…cepet nemen amplop surat sing tak gèmbal-gèmbol nang sak clana tak balèkna maning nang laci meja tulisé Bapak. Nyong ngrasa blong, akhiré nyong bisa mbalèkna amplop surat sing wingi tak jokot lagi nyong bareng-bareng ngglèdhah kamaré Bapak . Muga-muga baé Bapak ora ngarti yèn surat-suraté Bu Neneng sing disimpen nang laci wis tau tak jukut lan tak waca. Gagiyan nyong metu maning karo nggawa andhuk lan slimuté Bapak ,terus tak pé nang péméan.
Bapak marani meja makan terus njagong adhep-adhepan karo Yu Kus karo Mas Gun . Nyong njagong nang jèjèré . Nang meja makan pepek nemen ,ana kopi susu, teh manis, kamir,ketan gemblong,sega lengko karo jajan sèjèné. Kabèh padha nyawang maring Bapak sing katon lesu,rainé pucet,beda nemen karo Bapak sing wingi. Wingi tah padha bungah ndeleng Bapak sing katon seger,gembira lan katon luwih nom.
“Daning durung padha sarapan”, Bapak mbuka omongan karo nyruput kopi susu.
“Nggih , sami ngentosi Bapak. Kepèngin sarapan sareng kaliyan Bapak”. Yu Kus ngomong karo nyediakana sega lèngko Pi’an kesenengané Bapak. Kabèh padha mangan.Meneng langka sing ngomong.Yu Kus sing biasané ngomongé cemruwèt ya meneng baé.Embuh padha nduwé perasaan sing kepribèn maring Bapak. Tentuné kabèh padha prihatin maring kondisiné Bapak sing kaya kuwé.
Bar pada sarapan bareng , Mas Gun pamitan. Nuruti penjaluké Bapak, Yu Kus karo enyong ora arep balik ndhisit, tapi nunggu sedina mbuh rong dina maning. Maksudé supaya bisa weruh perkembangan kedadian sing wingi, sebabé apa Bu Neneng lunga ninggalaken Bapak ora pamit, terus saiki Bu Neneng nang endi. Apa maning sedulur sedulur padha ngarti yèn Bu Neneng dingèin kuwasa sing Bapak kanggo adol umah. Nyong uga luwih penasaran maning sawisé maca surat-suraté Bu Neneng sing tak jukut nang laci meja tulisé Bapak. Apa maning Yu Kus, ketara yèn dhèwèké ora sabar nemen olihé gagiyan kepèngin ngarti kepribèn tutugé kedadian sing wingi awan. Sing gawé luwih penasaran maning, Bapak tèsih tetep ngarep-arep Bu Neneng teka maning. Padahal nyong ngarti mau bengi Bapak bolak balik interlokal, ndèyan pan ngubungi Bu Neneng, tapi ora bisa nyambung.
Nganti jam wolu, senanjan Mas Gun wis pamitan tapi rupané tèsih kepèngin ngobrol bareng. Sepisan maning Mas Gun negesaken maring Bapak yèn nyong kabèh wis setuju Bapak arep adol umah. Terus padha ndongakaken muga-muga Bapak sehat lan masalahé Bu Neneng bisa cepet rampung. Malahan Mas Gun takon apa dhèwèke olih mampir maring umahé Bu Neneng nang Palimanan, soalé angger maring Indramayu Mas Gun sokan liwat Palimanan. Dadi ngiras ngirus. Mulané Mas Gun apèn-apèn njaluk alamat lengkapé Bu Neneng. Tapi Bapak ora ngidini. Jaréné ora kepèngin ngrèpoti mas Gun. Urusané Bu Neneng bèn Bapak baé sing ngrampungaken.
Lagi ngobrol kaya kuwé sing ngarep umah keprungu suwara mobil mandheg terus suwara wong thothok thothok lawang. Nyong gagiyan mengarep.Jebulé ana tamu wong loro, takon Bapak. Wong sing siji,sing katon gagah ngaku arané Pak Tomas. Dheg, nyong kèlingan maring omongané Bapak yèn sing arep pan tuku umah arané Pak Tomas. Sawisé tak manggakaken njagong, nyong manjing maning ngomong karo Bapak, yèn ana tamu Pak Tomas. Bapak gagiyan menyat karo ngomong.
“Pak Tomas karo stafé sing arané Agus. Sing arep tuku umah. Kebeneran Gun durung mangkat. Ayuh ditemoni bareng”
“Mangké rumiyin Pak. Pak Tomas niku sampun nganyang pinten”, jaré Mas Gun.
“Tomas kuwé nembé nganyang 120 juta. Bapak kan pasang harga 125 juta. Kepribèn jaré kowen.Apa diwèkna 120 , apa tetep njaluk 125”.
“Menawi Bapak sampun mathok regi 125 ,nggih sampun kirang. Pokoké 125 juta bersih, sampun nyukani komisi teng perantara. Iya Gun?”, jaré Yu Kus. Mas Gun
meneng baé.
“Gun… Kowen aja meneng baé o”, yu Kus ngomong maning rada sèwot.
“Terserah Bapak lah”,mas Gun semaur.
“Wis wis..aja ribut. Ayo ditemoni bareng-bareng”, Bapak ngomong kayong kurang bombong. Wong papat metu maring ruang tamu.Pak Tomas karo Agus ngadeg terus ngajak salaman. Bapa ngenalna anaké siji-siji.
“Bagaimana Pak Ramelan ?. Sehat? Ibu mana?”, Pak Tomas langsung takon maring Bapak. Ditakoni kaya kuwé Bapak katon kaget,ora njawab mung mung mèsem thok. Enyong sasedulur ora kurang kurang kagèté. Ibu ?. Bisané Pak Tomas takon : “ibunya mana?”. Wong telu padha pandeng pandengan.Bapak rupané tanggap.Karo dhèhèm-dhèhèm bapa ngomong.
“Anu Pak Tomas…kemaren kan anak anak pada kumpul semua. Lima limanya datang. Tapi yang dua sudah pulang. Maklum mereka PNS. Yang satu di Semarang, satunya di Pemalang”
“O, jadi sudah musyawarah keluarga…Bagus..bagus.. kalau begitu…”
“Iya Pak Tomas. Saya anak nomer dua ,perempuan satu-satunya. Saya tinggal di Purwokerto, suami saya dosen Unsud.Saya dan saudara-saudara sudah sepakat untuk menjual rumah ini”, jaré Yu Kus.
“O,ya…trimakasih…”
“Tinggal masalah harga saja. Saya kira mumpung kami yang tiga orang masih disini,sekarang bisa dirundingkan..Ngoten nggih Pak ?”, Yu Kus ngomong maning karo nglirik maring Bapak .Bapak manthuk-manthuk setuju. Tapi Pak Tomas karo Agus katon
bingung ,lingak-linguk.
“Maaf, …Bu…?”, pak Tomas ngomong maring Yu Kus.
“Saya Bu Kusrini”
“Bu Kusrini,maaf ya. Maksud Ibu,masalah harga yang bagaimana?”
“Lho katanya Pak Tomas baru menawar 120 juta”
“Betul. Waktu itu saya menawar 120 juta. Saya kira sudah cukup tinggi.Begitu ya Pak Ramelan?”, ditakoni kaya kuwé Bapak manthuk, terus ngomong kaya kiyé.
“Saya sudah sampeken anak-anak saya.Mereka keberatan harga segitu”
“Lho, kok keberatan bagaimana?. Apa Bapak nggak keliru?. Gus,coba mana kwitansinya”
Agus mbuka tas terus njukut salembar kwitansi, diserahna maring pak Tomas.Bapak karo nyong sasedulur ngrajug.
“Pak Ramelan,ini kan kwitansi tanda jadi. Hari Saptu kemaren Ibu sudah setuju melepas rumah ini dengan harga 120 juta.Kemudian sebagai tanda jadi Ibu minta persekot 20 juta sebagai tanda jadi. Dan sesuai janji Ibu, hari ini saya akan mengajak Pak Ramelan dan anak-anak Bapak ke Notaris…Ini kwitansinya” Pak Tomas nyerahna kwitansi maring Bapak .Bapak nampani karo tangané gemeter.Kwitansi diwaca, diwolak-walik,diwaca maning,dileng-ileng. Lambéné gemeter. Yu Kus sing njagong nang iringané Bapak melu maca. Ujug-ujug dhèwèké njerit, karo ngrebut kwitansi sing tangané Bapak.
“Ya Allaaah….,Pak…daning kados niki……Gun,kiyé kepribèn..kiyé..??”
Weruh kaya kuwé, rainé Pak Tomas karo Agus katon tegang,wong loro pandeng-
pandengan.Kwitansi diserahna maring Mas Gun,nyong ya mèlu-mèlu maca.Sakal nyong kagèt ora kira-kira,kaya keprungu suwarané bledheg nang waktu awan sing padhang njingglang. Kwitansi sing nang ngingsoré ditempèli meterai isiné kaya kiyé.
“Telah terima dari Sdr. Tomas Setiawan ,alamat Wonogiri Solo, uang sebanyak Rp.20.000.000 (Duapuluh Juta Rupiah ) ,untuk pembayaran sebagai uang muka penjualan sebuah rumah berikut pekarangan yang terletak di Jalan Kejambon no…Kotamadya Tegal.dari harga yang disepakati sejumlah Rp.120.000.000,-,-(Seratus Duapuluh Juta Rupiah). NB.Sisanya akan dilunasi pada tanggal 13 Maret 2000”
Nang ngingsor kiwa jelas ditulis angka Rp.20.000.000,- nang sisih tengen sing ditempeli meterai ana tandatangan karo aran jelas Neneng Yunengsih.
“Bagaimana Pak Ramelan?. Betul kan, Ibu sudah mengambil persekot?”, Pak Tomas takon maning. Bapak meneng baé, nyopot kacamatané, terus tangan loroné nutupi rainé, istighfar karo ngunjal ambekan dawa nemen.
“Pak Tomas…Bu Neneng itu bukan Ibu kami.Ibu kami kan sudah lama meninggal”, Mas Gun coba njelasaken.
“Sudah meninggal?. Lha waktu datang kekantor saya menawarkan rumah kan Bu Yunengsih mengaku rumah ini milik beliau. Terus waktu saya dan staf saya Agus ini datang kemari untuk memeriksa rumah ini, Bu Yunengsih juga ada disini. Malahan beliau juga ikut menerima kami dan ikut menunjukkan sertifikat asli rumah ini. Yang minta harga 125 juta juga beliau. Betul kan Pak Ramelan?. Makanya waktu hari Saptu dia datang kekantor saya mengatakan
bapak dan anak-anak setuju rumah ini dilepas dengan harga 120 juta, terus beliau minta uang muka tanda jadi 20 juta, ya saya percaya.”. jaré Pak Tomas, èsih katon bingung. Bapak ora njawab. Mung Yu Kus sing nangis karo nggumbel Bapak,ngomong karo mèwèk-mèwèk.
“Kadospundi si Pak ?. Sing leres kados pundi..??”. Bapak èsih meneng baé, sirahé sangsaya nundhuk mengingsor. Weruh kaya kuwé nyong dadi runtang campur bingung. Bisané, Bu Neneng ka duwé pokal sing kaya kuwé?. Ora maido yèn Yu Kus dadi emosi . Mas Gun uga katon bingung lan kecewa. Agus sing awit mau mung meneng thok,akhiré mèlu ngomong.
“Begini Bu Kusrini dan Pak Gun. Kami tadinya percaya sekali dengan Pak Ramelan.Tapi kalau akhirnya begini kan kami merasa ditipu”
“Jadi pak Agus menuduh Bapak saya penipu ?.Pak Agus, sudah saya jelaskan Bu Neneng Yunengsih itu bukan ibu kami.Juga bukan istri Bapak kami.Kami baru kenal kemaren.Itupun tidak lebih dari sepuluh menit. Jadi Bapak kami tidak pernah menerima uang persekot sepeserpun…”, jaré mas Gun.
“Lha terus Ibu Yunengsih itu sekarang dimana?. Pak Ramelan !. Bagaimana ini ??..” Agus ora nerusna omongané, sebab ujug-ujug Bapak nglumpruk,njagongé mlorod nganti arep tiba nang jogan.Mas Gun gagiyan tangi nyikep sikilé Bapak. Tangané Bapak nglamprèh, lemes dhedhes ora duwé daya.Kabéh padha panik.Nyong karo Pak Tomas mèlu-mèlu nggotong Bapak maring kamar. Bapak diturokna nang ranjang. Yu Kus nangis sangsaya seru karo terus ngundang-undang Bapak. Mas Gun karo nyong panik campur kèder ora ngarti pan kudu kepribèn. Pak Tomas kongkon nyong golèt balsem
mbuh lenga kayuputih.Untungé nang meja rias ana obat macem-macem, ana balsem,minyak angin,minyak gandapura karo kayuputih. Enyong mijeti sikilé Bapak tak gosok-gosok balsem.Mas Gun mijeti jempol karo èpèk-èpèk tangan, Yu Kus nggosoki awak nganggo lenga kayu putih.Ngemèk sikilé Bapak sing atis nemen kaya bancèt, terus nyawang rainé sing pucet,mripaté merem, ambekané pedhot-pedhot ora teratur,nyong dadi lemes dhedhes ora karuan.Bayangané nyong sing ora-ora. Sènggané…sènggané Bapak nganti keterusan ilang nyawané….Akh…Bapak…Bapak……panjenengan ka melasi neme.Dhongé Gusti Allah arep maringi cobaan apa maning maring Bapané nyong sing wis tua kiyé ?. Ya Allah, mbokan Bapak duwé kesalahan maring jenaté Ibu, ya muga-muga Ibu sing wis ana nang ngarsané Panjenengan gelem ngapura Ya Allah…., nyong mung bisa nyenyuwun, karo nangis sajeroning ati. Maning-maning nyong kèlingan maring Bu Neneng..kèlingan maring surat-suraté sing maring Bapak …surat-surat sing mung nyong dhèwèk sing tau maca…surat surat sing isiné durung nganti tak bahas karo sedulur-seduluré nyong…akh Bapak….Bapak…bisané bareng wis sepuh..ka panjenengan diparingi kudu nglakoni riwayat sing kaya kiyé…??.
Nganti sawetara waktu Bapak durung sadar.Nyong karo Mas Gun ora mandheg-mandheg istighfar,karo nyebut maring Gusti Allah. Pak Tomas karo Agus metu sing kamar. Rupané ora kepènak ndeleng suwasana sing sedih kaya kuwé. Wong loro njagong maning nang ruang tamu.Embuh pirang menit suwéné Bapak ora sadar. Yu Kus terus ngambungi rainé Bapak karo terus nangis ngguguk-ngguguk.
Bareng wis rada suwé, ujug-ujug bapa dhèhèm,terus tangané nyekel sirahé Yu Kus. Yu Kus mandheg olihé ngambungi Bapak,terus padha nyawang maring rainé Bapak.
Alon-alon Bapak mbuka mripaté sing katon jero nemen karo tangané grayangan nggolèt kacamatané. Yu Kus njukut kacamata sing didokon nang meja rias. Bapak nglirik ngiwa nengen,ndeleng maring anak-anaké sing lagi padha njagong nang pinggiré. Alkhamdulillah,Bapak rupané wis sadar.
“Pak, Bapak mboten nopo-nopo Pak…?” Yu Kus takon karo mingseg-mingseg. Bapak meneng mung mripaté baé sing kedhèp-kedhèp. Tapi weruh Bapak wis sadar kaya kuwé nyong bungah ora kira-kira.Rada suwé rupané Bapak ngumpulna angen-angené. Terus Bapak njagong. Mas Gun ngongkon Yu Kus gawé wedang kopi anget. Bareng wis dininungi kopi rong cegukan, Bapak ngomong alon-alon.
“Bapak ora apa-apa. Kowen ora usah kuwatir masalah Bu Neneng”
“Nggih Pak..mboten kuwatos..Sing penting Bapak sampun gerah”, jaré Mas Gun.
“Ora. Aku ora lara, mung bingung, kesel..lemes…”
Yu Kus arep mèlu ngomong tapi Mas Gun ngèin kode supaya Yu Kus meneng ndhisit. Mas Gun rupané kuwatir mbokan Yu Kus nakokna urusané Bu Neneng sing wis nrima dhuwit persekot umah 20 juta sing Pak Tomas.Nyong ya kuwatir mbokan Bapak dadi syok maning angger nyingung-nyinggung masalah kuwé. Apa maning Pak Tomas karo Agus èsih padha njagong nang ruang tamu. Kèlingan maring Pak Tomas karo Agus nyong menyat terus metu maring ruang tamu.
“Bagaimana dik?. Bapak sudah sadar?”, Pak Tomas takon.Enyong njawab goroh Bapak tèsih durung sadar.Mulané nyong njaluk masalah jual beli umah ditunda ndhisit. Tapi Pak Tomas ora gelem.Maksa supaya dirampungaken waktu kuwé uga. Nyong takon, arep dirampungna kepribèn?.Wong nyatané Bapak ora nrima dhuwit, tapi sing nrima Bu
Neneng. Padahal wis dijelasaken yèn Bu Neneng kuwè dudu apa-apané keluwargané nyong. Bu Neneng kuwé wong sèjèn dudu sanak dudu kadang, apa maning bojoné Bapak ,luwih-luwih ibuné nyong.
“Ya, tapi mengapa Pak Ramelan dulu sering menyebut Ibu kepada Bu Yunengsih ?.Ini yang saya anggap Pak Ramelan ikut bersekongkol menipu kami.Uang 20 juta itu tidak sedikit lho dik.Dan itu bukan uang kami.Itu uang perusahaan.Kami hanya menjalankan tugas mencari rumah di Tegal untuk kantor dan gudang. Tapi kok akhirnya begini..Seharusnya Pak Ramelan ikut bertanggung jawab.Setidaknya bisa menunjukkan dimana Bu Yunengsih sekarang”
Tak pikir bener uga pendapaté Pak Tomas karo Agus. Tapi nyong lagi kuwatir mikirna kondisiné Bapak. Lagi bingung kaya kuwé Mas Gun metu. Pak Tomas ngomong maning masalah dhuwit persekot 20 juta sing wis ditrima Bu Neneng.Malahan maring Mas Gun, Pak Tomas ngomongé rada ngancam.Angger ora dirampungna waktu kuwé uga arep lapor polisi.
“Tenang dulu Pak Tomas.Saya kira masalah ini bisa diselesaikan dengan baik-baik,tanpa harus melibatkan yang berwajib. Pram…kamu masuk saja. Tungguin Bapak supaya tenang. Urusan ini biar aku yang tèkel”, Mas Gun ngomong kalem kaya biasané. Nyong mauné kepèngin mèlu-mèlu rundingan,tapi Mas Gun tetep nglarang.Akhiré nyong manjing maning.Bapak èsih njagong silah nang ranjang. Yu Kus njagong nang korsi karo rainé temungkul. Weruh nyong manjing, Yu Kus arep ngomong,tapi nyong ngèin isarat aja ngomong maning.Nyong njukut korsi njagong nang jèjèré Yu Kus. Rainé nyong tak gawé sumèh, karo mèsem nyong ngajak ngobrol , masalah sèjèné. Bapak tak
slimur supaya ora kèlingan maring Bu Neneng karo Pak Tomas.
“Bapak mangké siang kepèngin dhahar nopo, Pak?. Dalem mangké badhé medal tumbas latopia kaliyan kacang asin kanggé angsal-angsal keluwargané Mas Gun ”.
“Aku lagi ora kepèngin mangan apa-apa. Terserah kowen baé, pan mangan apa”.
“Dalem tah kepènginé soto Sokaraja. Yu Kus bisa o ya, nggawé soto Sokaraja?”, nyong terus ngomong ngalor ngidur supaya Bapak keslimur.Yu Kus rupané paham maksudé nyong . Dhèwèké uga mèlu-mèlu ngomong werna-werna. Tapi Bapak mung api-api ora, njawab sekadaré baé. Lagi kaya kuwé keprungu suwara mobilé Mas Gun disetater. .Nyong gagiyan metu kepèngin weruh ana apa. Jebulé Pak Tomas karo Agus wis ora nana. Nyong gagiyan ngudag Mas Gun sing wis ana nang njero mobilé. Mas Gun mung ngomong cepetan karo njalana mobilé metu sing pekarangan.
“Kowen nunggoni Bapak baé. Angger Bapak takon,moni baé aku lagi tuku bensin !”
Mobilé Mas Gun nginthil nang mburiné mobilé Pak Tomas, runtung-runtung embuh pan padha maring endi. Nyong manjing maning maring kamar. Rupané Yu Kus ya padha baé bingung krungu suwarané mobilé Mas Gun metu maring dalan gedhé. Yu Kus nglinguk maring enyong, nyong mung bisa ngangkat pundak.
Rupané Bapak ngarti nyong karo Yu Kus sing lagi kéder, Bapak njaluk mudun metu maring ruang tamu. Dituntun Yu Kus, Bapak mlaku alon-alon. Katon yén awaké lemes nemen. Enyong kagèt campur kuwatir, kepribèn reaksiné Bapak angger weruh Pak Tomas karo Agus wis ora nana. Apa maning Mas Gun uga lunga mbuh pan maring endi.Bener baé. Durung njagong nang korsi,Bapak wis takon.
“Pak Tomas karo Agus maring endi?”.
Nyong karo yu Kus ora njawab,kèder mbuh pan ngomong apa.Srog Bapak njagong nang korsi panjang sing mau dijagongi.Nyong karo Yu Kus njagong nang iringané Bapak.
“Pak Tomas karo Agus si padha maring endi?!”
“Kadosé wangsul,Pak”, nyong njawab saolihé.
“Balik?. Kan urusan dhuwit persekot sing ditrima Bu Neneng durung rampung?.”
“Nggih Pak. Tapi niku kan urusané Bu Neneng kaliyan Pak Tomas.Sanès urusané Bapak. Nyatané Bu Neneng sasampuné nampi yatra 20 juta terus minggat…..”, Yu Kus nyauri,nada suwarané ketara nyalahna Bu Neneng.
“Nok !. Kowen dhongé kepribèn si?”, Bapak ngomong nyentak,karo mripaté mendelik , lambéné gemeter. Nyata yèn bapa bener-bener dhugal maring Yu Kus. Disentak kaya kuwé Yu Kus kagèt.Rainé mrekabak,terus nangis.
“Kowen kuwé bisané mung nyalah-nyalahna. Nyalahna Bapak…nyalahna Bu Neneng…!. Angger Pak Tomas ora trima,terus nglaporna Bu Neneng maring pulisi, kan Bapak uga mèlu di-kèlèr-kèlèr…Nok , Nok....kowen apa ora melas karo Bapak?”. Bapak ngunjal ambekan jero nemen terus ngomong maning.Suwarané lirih,ngrintih memelas nemen.
“Ya Allaaaah…Gusti…Kepribèn dhongé….nasibé aku ka kaya kiyé temen… Neneng..Neneng…kowen nang endi sih…?.Bisané kowen ka ora teka teka…Angger nganti Pak Tomas lapor pulisi terus kepribèn ?. Aku isin…isin maring anak-anakku… Apa maning mengko wong-wong padha weruh
masalah kiyé…Ya Allah Gusti..kulo isin…isiiin….”, suwarané Bapak sangsaya lirih sangsaya nelangsa karo nangis ngguguk-ngguguk.Ambekané krungu sangsaya alon…terus ujug-ujug breg..Bapak niba ngglosor nang jogan.Yu Kus njerit. Enyong panik.Sakuwat kuwat tenaga nyong karo Yu Kus nggotong Bapak maring kamar. Sawetara kuwé nyong ora ngarti Mas Gun embuh lunga maring endi.
6
Paviliun Nusa Indah Rumah Sakit Umum Kardinah Tegal
sing ana nang sisih lor wis sepi nyenyet. Jam siji luwih. Bengi kuwé wis manjing dina Jum’at. Dalan Sultan Agung sing ana nang sisih wètan rumah sakit uga sepi nemen, langka wira wiriné lalu lintas. Sepisan pisan mung ana siji loro bis malam jurusan Tegal-Purwokerto sing liwat.Prapatan Kejambon sing ana nang pojok kidul wetan, sing angger awan raméné por, bengi kuwé uga ora katon sepi. Kios-kios sing ana nang pojok pasar Kejambon mung ana siji loro sing tèsih buka .Pancèn akèh becak sing padha mangkal nang ngarep rumah sakit,tapi tukang bécaké padha ngringkuk kemulan sarung nang bécaké dhèwèk-dhèwèk.
Nang salah siji kamar, Bapak wis patang dina dirawat. Kondisiné wis molai
pulih. Ketara turuné lali angler nganti keprungu ngoroké seru nemen. Jam 9 mau dokter Bambang sing ngontrol wis ngidini mbesiki Bapak olih balik. Patang dina nang rumah sakit Bapak wis ngresulah ora betah . Sabeneré Bapak ora lara apa-apa.Jaré dokter Bapak mung “stress berat lan kecapean”. Sawisé istirahat patang dina lan pikirané tenang ,Bapak wis normal maning. Yu Kus sing olih telung dina telung bengi nginep nunggoni Bapak, ngangluh masuk angin. Mulané bengi kuwé turu nang umah dikancani Bi Dasmi. Mas Gun awit Bapak manjing rumah sakit dina Senen èsuk persasat ora tau istirahat. Wingènané balik maring Indramayu,nginep sawengi,esuké wis teka maning. Pancèn sasuwéné patang dina mung wong telu thok sing sibuk nunggoni Bapak . Awit Bapak manjing rumah sakit, Mas Gun langsung nyekel tanggung jawab kabèh masalah lan urusané Bapak. Ora mung urusan biaya rumah sakit, tapi ana sing luwih penting,yakuwé masalah Bu Neneng sing ngilang sawisé njokot panjer 20 juta sing Pak Tomas. Pancèn masalah kuwé sing ndadèkna Bapak syok nganti kudu dirawat nang rumah sakit. Sing ngagètna, Mas Gun njaluk persetujuané Yu Kus karo nyong, supaya masalah Bu Neneng aja nganti metu nang jaba. Maksudé aja nganti keweruhan wong sèjèn. Malahan dirawaté Bapak nang rumah sakit, Mas Slamet karo Mas Wondo ora perlu dikabari. Mesthi baé Yu Kus mencak-mencak ngganyami Mas Gun saporèté.
“Dhongé kowen kepribèn si Gun. Masa wong tuwa lara manjing rumah sakit, ora ngabari Mas Slamet karo Wondo. Lha mengko angger ana apa-apané kepribèn?”
“Tenang Yu. Yuné percaya maring aku, Bapak ora apa-apa. Bapak mung perlu istirahat. Bapak ora kepèngin masalah Bu Neneng karo Pak Tomas nganti metu nang njaba. Termasuk keluwargané dhèwèk ya aja padha ngarti.
Cukup wong telu baé sing ngarti. Aku, Yuné karo Si Pram. Poma rong poma masalah kiyé aja nganti metu nang njaba”, jaré Mas Gun waktu kuwé.
Jelas Yu Kus ora setuju. Kepènginé Yu Kus kabèh anak-anaké Bapak karo keluwargané padha ngarti yèn Bapak lagi dirawat nang rumah sakit. Amgger bisa malah padha kumpul. Jaré Yu Kus angger Bapak ditunggoni anak-mantu karo putu-putuné,atiné Bapak bakal bungah lan bisa ndadèkna gelis waras. Yu Kus ora bisa nrima gagasané Mas Gun. Yu Kus kepèngin larané Bapak diuwar-uwarna supaya saben wong padha ngarti. Angger perlu saben wong kudu dingèin weruh yèn larané Bapak disebabaken daning polahé wong wadon siji sing arané Bu Neneng. Nang matané Yu Kus, Bu Neneng kuwé wong wadon sing ora bener, sing arep ngancuraken uripé Bapak. Wong wadon sing jahat, busuk,penipu lan saterusé. Mulané Yu Kus sing atiné keras, ora bisa nrima babar blas sikapé Mas Gun. Apamaning bareng Mas Gun usul yèn biaya rumah sakit arep ditanggung Mas Gun dhèwèk, Yu Kus tambah tersinggung. Karo mrengut Yu Kus ngomong maring enyong.
“Pram, aku tah sèwot maring si Gun. Kadiran sugih dhèwèk. Iloken pantes,wong tuwa lagi lara ngatang-ngathang nang rumah sakit, anaké ana sing ora dingèin weruh. Wis kaya kuwé, jaré biaya rumah sakit arep ditanggung dhèwèk thok. Lha aku, Mas Slamet, Wondo terus dianggep apa. Pribèn mbuh pribèn kabèh kan anaké Bapak. Kecuali angger kabèh wis ora mampu, lha pantes njaluk sokongan maring sing sugih….”
Krungu omongané Yu Kus sing kethus kaya kuwé,nyong mung meneng ora komentar.Weruh sikapé kakang-kakangé nyong kaya kuwé ndadèkna nyong prihatin nemen. Nyong nyoba nengahi,ngomong alon-alon maring Yu Kus.
“Pancèn Yu,larané Bapak disebabna daning tingkah polahé Bu Neneng.Bapak lara jalaran kecewa. Kecewa berat.Wong wadon sing mauné dialem-alem jebulé mung gawé kecewa, malahan gawé isin.Tapi Yuné kudu kèlingan, sadurungé Bapak pingsan lagi dina Senen èsuk ,sesambaté Bapak kan kaya kiyé : Aku isin,isin maring anak-anakku. Anggeré mengko Pak Tomas lapur pulisi terus kepriben.Apa maning nganti wong-wong padha weruh…Aku isin Ya Allah…aku isin. Yuné kèlingan oya…Bapak sesambat maring Gusti Allah kaya kuwé”
Sethithik – sethithik rupané Yu Kus bisa nrima kenangapa Mas Gun nganti wanti-wanti persoalan kiyé supaya disidhem, aja nganti keweruhan sapa-sapa. Tapi senajan Yu Kus bisa nrima, rupané tèsih ana sing ngganjel nang atiné mbakyuné nyong sing sipaté keras. Yu Kus tetep nakokna kelanjutan hubungané Bapak karo Bu Neneng. Terus kelanjutané dhuwit panjer umah 20 juta sing digawa minggat Bu Neneng. Terus umpamané Pak Tomas lapur pulisi lan Bapak kudu dadi saksi, kepribén?.Kan masalahé bakal dadi dawa lan ramé?. Waktu Yu Kus takon kaya kuwé nyong ora bisa njawab.
Wengi nang paviliun Nusa Indah Rumah Sakit Kardinah sangsaya nglangut, sangsaya sepi. Lagi turu-turu ayam, antarané turu karo melèk, nyong sing lagi njongkot dhèwèkan nang jaba kamar keprungu suwara dhèhèmé Bapak. Nyong gagiyan manjing.Jebulé Bapak lagi njagong.
“Bapak daning tangi. Badhé teng wingking Pak?”,nyong takon mbokan Bapak arep maring kamar mandi.Biasané angger arep maring kamar mandi njaluk dituntun.
“Ora.Wis jam pira Pram?”
“Jam setengah kalih langkung”, nyong njawab karo nglirik jam dinding sing ana
nang dhuwur lawang.
“Wis bengi nemen.Daning kowen durung turu?”
“Nggih. Namung ngantuk wau teng jawi”
Biasané angger nunggoni Bapak nyong sokan turu nang ngingsor nggelar kasur cilik, gentenan karo Yu Kus.Tapi bengi kuwé nyong sengaja mung njagong nang jaba dhèwèkan. Mas Gun ya rupané kesel dadi turu nang umah. Rada suwé Bapak meneng mung nyawang rainé nyong,kayong ana sing kepèngin diomongna.Pancèn.Salawasé nang rumah sakit,nyong rumangsa yén Bapak sering katon kepèngin ngomong dhèwèkan karo nyong. Tapi rupané nembé bengi kuwé ana kesempatan nyong mung dhèwèkan karo Bapak. Mulané nyong
gagiyan narik korsi terus njagong parek nang ngarepé Bapak.
“Bapak badhé sanjang nopo Pak ?”. nyong takon lirih.Bapak meneng ora nyauri.Ujug-ujug tangané ngrangkul nang pundhaké nyong.
“Pram,sabeneré akèh nemen sing kepèngin tak omongna maring kowen.Tapi omongané Bapak akèh sing sipaté wadi utawa rahasia”
“Rahasia?. Maksudé Bapak?”, nyong kagèt campur èram.
“Mesthiné kowen wis ngarti maksudé Bapak.Malah luguné kowen ya wis weruh kabèh…..sapa sabeneré Bapakmu….”, suwarané Bapak gemeter. Dheg. Nyong kèlingan maring surat-surat sing tak “colong” sing laci mejatulis nang kamaré Bapak, malikané sedulur-seduluré nyong ngglédhah kamaré Bapak pirang dina kepungkur.
“Nuwun sèwu ….dalem mboten sengaja…maos serat-seraté Bu Neneng”
“Ora apa-apa. Aku malahan seneng kowen wis maca surat-surat kuwé. Aku
seneng.Apa maning kowen wis bisa nyimpen nganti primpen apa-apa sing kowen weruhi sapa sejatiné Bapakmu,lan sapa sejati Bu Neneng. Kowen duwé watek persis kaya jenaté ibumu.Bisa nyimpen wadiné wong liya,ora gampang ngumbar alané wong sèjèn”.
Krungu omongané Bapak kaya kuwé nyong mung ndomblong thok.Nyong ora ngira babar pisan yèn sabeneré Bapak ngarti yèn surat-surat pribadiné Bu Neneng wis tak waca kabèh. Surat-surat sing tak gèmbal-gèmbol nang sak clana , kadang-kadang tak selipna nang jero kaos, tak waca karo umpetan nang kamar mandi. Surat – surat sing nggawé nyong bingung,ora percaya, sedih,getun lan nelangsa….ééé…ora ngira…jebulé bapané nyong duwé rahasia sing kaya kuwé….….Kadhang-kadhang atiné nyong njerit,nyong protes,bisané ka bapané nyong sing wis tuwa,sing katoné wis ayem – tentrem olihé bakal ngentongnya umuré, kudu nglakoni lelakon sing babar pisan ora tak nyana-nyana.
Kadhang-kadhang nyong kepèngin ngomong maring sedulur-sedulur,apa sing sabenenré tak weruhi sawisé nyong maca surat-suraté Bu Neneng. Tapi nyong kèder kepribèn cara ngomongé. Apa maning angger kudu ngomong maring Yu Kus,akh,nyong ora bisa mbayangna kepribèn reaksiné mbakyuné nyong sing wis wanci nemen nganti ceri cemeri maring Bu Neneng. Tapi bengi kuwé,nyatané Bapak dhèwèk sing mbuka masalah surat-suraté Bu Neneng.
“Pram, sabeneré ora mung kowen sing wis ngarti hubungan sing sabeneré antarané Bapak karo Bu Neneng….Masmu Gun uga wis ngarti…..” Krungu omongé Bapak kaya kuwé sapisan maning nyong mendongong, ora ngarti kudu ngomong apa. Jebulé Mas Gun wis ngarti?. Lha terus, sing wis padha ngarti sapa baé?. Mas Wondo,Mas Slamet?. Angger Yu Kus tah ora mungkin.Weruh sikapé Yu Kus sing bener-bener
antipati maring Bu Neneng,ora mungkin Yu Kus uga wis ngarti wadi pribadiné Bapak.Weruh nyong mendongong kaya wong kèder,Bapak ngomong maning..
“Aku ya bangga maring Gun.Gun ya wateké kaya jenaté ibumu.Cerdas,sabar,ulet. Angger ana masalah cepet dirampungna”.
“Dados Mas Gun nggih sampun ngertos?”
“Ora mung ngarti.Tapi rupané Gun sing paling tanggap bisa mrantasi masalahé Bapak. Masalah sing ruwed nemen. Bapak bangga lan bahagia kabèh wis bisa diatasi karo Gun”, Bapak ngomong kaya kuwé karo ngunjal ambekan.Suwarané lirih.Tak sawang mripaté Bapak ngruwicèh.
“Nuwun sèwu Pak. Lajeng perkawis Bu Neneng kaliyan Pak Tomas ?. Teras perkawis arto 20 juta ingkang sampun dipendhet Bu Neneng?.
“Alkhamdulillah…Jaréné Gun wis ora nana masalah. Sing penting Bapak sehat. Muga-muga sawisé kedadiyan kiyé suasana keluargané dhèwèk bisa balik maning tentrem kaya sing uwis-uwis”
“Insya Allah Pak. Nanging ketingalipun Yu Kus taksih dèrèng saged nampi gagasanipun Mas Gun.Yu Kus taksih nakèkaken perkawis Bu Neneng, Pak Tomas,arto 20 juta….”
“Iya. Mbakyumu pancèn atiné keras. Gun ora mungkin bisa nglumèraken atiné Kus. Sing bisa nglumèraken atiné Kus ya mung Slamet…..”
“Nanging Mas Slamet kan dèrèng ngertos perkawis Bu Neneng lan Pak Tomas. Nopo Mas Gun wantun ngaturi wawasan dateng Mas Slamet?”
“Gun mesthi ora wani karo Slamet. Sing wani karo Slamet ya mung Bapak….
Dadi mengko Bapak sing bisa ngandhani Slamet ….”
“Lajeng Mas Wondo?”
“Wondo tah gampang.Angger Kus wis nurut,Wondo ya nurut”
Krungu omongané Bapak kaya kuwé nyong mung bisa menthuk-manthuk. Omongané Bapak bener kabèh. Nyong tembé sadar, yèn sabeneré nyong sasedulur èsih tetep rukun lan èsih padha saling ngormati antara sing nom maring sing luwih tuwa.Kesadaran sing ndadèkna nyong luwih tresna lan luwih hormat maring Bapak lan maring kakang-kakangé nyong kabèh. Ora krasa maning nyong temungkul nganti bathuké nyong niba nang dhengkulé Bapak.Sawetara tangané Bapa krasa anget ngelus - elus githok. Embuh nganti sapira suwéné nyong klelep nang perasaan haru lan bahagia sing campur adhuk, nganti lamat-lamat keprungu suwara wong ngaji sing masjid-masjid lan musola sing parek rumah sakit.Gragap nyong tangi,ucek-ucek mata,kagèt ora kira-kira. Weruh-weruh mas Gun karo Mas Wondo wis ana nang kamar. Kagèté nyong durung ilang, ujug-ujug Mas Gun ngomong.
“Pram, Ndo….gagiyan barang-barangé Bapak dibèrèsi. Bapak pan kondur saiki. Monggo Pak..”
Kagèt krungu omongané Mas Gun kaya kuwé, enyong karo Mas Wondo lingak-linguk karo pandeng-pandengan. Tapi Bapak mung mèsem thok. Bapak mudhun sing dipan terus salin nganggo clana. Karo bèrès-bèrès sandhangané Bapak, enyong takon maring Mas Gun,bisané baliké saiki,apa ora kesalahan.
“Lho, Bapak kan wis waras. Enggih Pak?. Dokter Bambang ya wis ngijini balik. Biaya perawatan lan sèjèn-sèjèné ya wis tak lunasi…Aku ya wis pamit karo dokter Bambang lan perawat sing jaga”
Kebeneran barang-barangé Bapak ora akèh, mung sa-tas thok. Sadurungé metu sing kamar,Mas Gun ngrogoh sak clana, ngetokna kunci cilik terus diwèkna Bapak.
“Niki kunci laci meja tulisé Bapak”, jaré Mas Gun karo nglirik maring enyong. Nyong kaget,satlérapan kèlingan maring surat-surat pribadiné Bu Neneng sing disimpen nang laci meja tulisé Bapak. Nang ati nyong takon,bisané ka salawasé Bapak dirawat kunci laci ana nang tangané Mas Gun. Pitakonan sing ora perlu dijawab. Sing penting bungahé nyong ora kira-kira, èsuk kuwé Bapak wis metu sing paviliun Nusa Indah Rumah Sakit Kardinah Tegal. Bapak digandhèng karo Mas Wondo, di-iringna Mas Gun karo nyong sing nyangklèk tas. Wong papat mlaku gancang ngliwati lurung-lurung rumah sakit sing sepi. Pas anjog nang plataran parkir sisih wètan, keprungu adzan subuh sing mesjid Baiturrahiem sing ana nang kidul prapatan Kejambon….(Ana tutugé)
Sebabé apa Bu Neneng minggat ?
Terus minggaté maring endi ?
Sapa sabeneré Bu Neneng ?
Tunggu baé nang Episode 2 : "Bu Neneng....Oh Bu Neneng"
Ater-Ater
“Tak aturaken kanggo jenaté Bapak karo Ibu,sing ora
mung ngukir jiwa lan ragaku, nanging nggulawentah
tatakrama lan tatabasa nganggo Bahasa Ibu,sing
tansah tak rawat lan tak ugemi.
Muga-muga Novel Bahasa Tegal kiyé bisa kanggo
mepeki karya sastra Tegalan sing urip lan ngrembaka
nang tlatah Tegal sing banget-banget tak tresnani”
26 Januar 2009
1
Wulan Maret tahun 2000. Waktu kuwé nyong tèsih mahasiswa semester VI nang Jakarta. Balik kuliah, nembé dhog nang pondhokan, nyong dundang daning Ibu Mila, sing duwé pondhokan. Nyong runtag. Ana apa ya..?.Jebulé nyong olih kiriman surat. Ana surat kilat sing Bapak.Ora pranti-pranti Bapak kirim surat.Apa maning surat kilat. Nrima surat kilat kaya kuwé nyong runtag ora kira-kira. Sajegé nyong kuliah Bapak durung tau kirim surat kaya kuwé. Ana apa èh…?. Kadingarèn nemen, pikiré nyong. Surat langsung tak buka.Atiné nyong mak tratab, bareng weruh suraté Bapak dawa nemen nganti rong kebèt.Sing gawé kagèt tur èram, suraté dudu tulisan tangan,tapi tik-tikan rapi nemen lan difoto kopi. Dadi persis kaya surat dines utawa surat resmi, sing isiné kaya kiyé :
Tegal, Rebo 8 Maret 2000.
Kanggo anak-anakku
1. Drs.Slamet Margono nang Semarang,
2. Dwi Endang Kusrini, nang Purwokerto
3. Ir.Gunadi Santoso, nang Indramayu
4. Drs. Agung Siswondo, nang Pemalang
5. Ragil Pramularso, nang Jakarta
Anak anakku kabèh,sing tak tresnani.Alkhamdulillah, waktu kiyé kahanané Bapak slamet,waras,wiris,ora kurang sawiji apa.Muga-muga anakku kabèh, mantu lan putu putuku sing banget-banget tak tresnani ya mengkono uga kahanané. Mulané Bapak kirim surat kiyé, ana sawiji hal penting sing pan tak sampèkna maring kowen kabèh.
Sajegé ibumu ora nana 8 taun kepungkur, senajan Bapak kuwé anaké akèh, tapi Bapak persasat urip dhèwèkan.Kowen ya weruh dhèwèk,yèn seduluré Bapak mung kari siji bibimu Lasmi sing nang Brebes. Seduluré jenaté ibumu , bibi karo paman-pamanmu ya akèh. Ana sing nang Slawi, nang Tegal, nang Pekalongan . Keponakan ya pirang-pirang. Senajan padha sibuk dhèwèk-dhèwèk , tapi kadhang-kadhang ya ana sing gelem tilik Bapak. Lagi Ibumu tembè baé ora nana, Bapak pancèn ora patia kesepian.Waktu kuwé nang umah iyé èsih ana Wondo karo Pram sing kena kanggo batir. Tapi bareng Wondo karo Pram padha kuliah, Bapak bener-bener krasa yèn Bapak mung urip dhèwèkan. Paling-paling angger awan ana Bi Dasmi sing ngancani Bapak. Lumayan kanggo dikongkon ngliwet karo umbah-umbah pakéan. Tapi kowen kan weruh dhèwèk, Bi Dasmi kuwé saiki wis tuwa nemen.Tenagané ya wis ropoh. Mulané wis nem wulan sapréné Bi Dasmi tak kongkon lirèn. Untungé ana Si Tarmunah , putuné wadon sing sekolah SMP gelem njuguli mboktuwané mbuh seminggu sepisan mbuh apa. Dadi seminggu sepisan adhong dina Minggu utawa liburan Si Tarmunah tak kongkon mréné. Perluné resik-resik umah karo nyapu pekarangan.
Wis 3 taun sapréné, bareng Pram nerusna kuliah nang Jakarta, Bapak sangsaya ngrasa temenan olihé urip dhèwèkan. Waktu kuwé kowen pancèn padha nawani,apa ènaké Bapak manggon nang Purwokerto karo Kus, apa nang Semarang karo Slamet, apa karo Si Gun nang Indramayu. Tapi kabèh tak tolak. Soalé Bapak ora kepèngin ngrèpoti anak.Bapak uga ora kepèngin mbèdak-mbèdakna maring anak siji lan sijiné.Kabèh anak-anakku,mbuh lanang mbuh wadon,mbuh sing uripé kecukupan mbuh sing ora, kabèh tak anggep padha baé.Sebabé mbokan Bapak mèlu anak wadon,mengko anak lanangé kesirian.Mèlu anak sing nang Indramayu,mengko sing nang Semarang kesirian. Bapak ora kepèngin kaya kuwé. Dadi luwih apik Bapak urip dhèwèkan nang kéné. Waktu kuwé pikirané Bapak mung kepèngin ,supaya Bapak parek olihé njukut pensiuné lan parek adhong Bapak kepèngin niliki pesaréané jenaté ibumu. Bapak ya tèsih tetep bisa ngrumat umah lan pekarangan. Toh angger Bapak kangen karo kowen,
sewaktu-waktu Bapak bisa telpon. Semono uga ora kètang seminggu sepisan Bapak olih telpon mbuh sing Semarang,sing Indramayu ,mbuh sing Purwokerto.
Tapi saiki bareng wis setaun Bapak pensiun,lan 8 taun ditinggal Ibumu, tak rasak-rasakna uripé Bapak kayong sangsaya ora kepènak. Bapak ngrasakna, yèn umah sing gedhé kiyé mung dadi beban sing abot nemen. Gemiyèn, lagi kowen kabèh tèsih
padha cilik-cilik tah umah kiyé kayong kurang gedhé. Tapi saiki bareng Ibumu wis ora nana lan kowen kabèh pada bubar,umah kiyé kayong kegedhèn nemen.Bapa rumangsa kaboten olihé ngrumat,mbayar PBB,mbayar listrik, mbayar ledeng,mbayar telpon lan liya-liyané. Mulané lumantar surat kiyé, Bapak ngèin weruh yèn Bapak duwé rencana sing kepèngin tak rundingaken karo kowen kabèh.
Anak-anakku sing tak tresnani. Rencanané Bapak kaya kiyé : umah kiyé arep tak dol. Menurut pandhangané Bapak angger saiki didol regané mesthi larang, wong umahé gedhé,kamar papat,dhapur, kamar mandi pepek,lokasiné nang pinggir dalan gedhé, pekarangané ya amba.Listriké baé 1300 wat. Banyuné ya PAM. Telponé ya ana. Lha mengko angger wis payu dhuwité arep tak bagi-bagi kanggo kowen kabèh. Umah kiyé kan haké kowen kabèh. Bapak pan njaluk sethithik baé kanggo tuku umah cilik-cilikan. Lokasiné ora kudu nang kota, tapi mingser nang kampung mbuh apa,sing penting tenang.Umah cilik sing kamaré cukup loro baé, nggo turu Bapak karo Si Pram mbokan sewaktu-waktu balik liburan.Lha mengko, angger wis duwé umah cilik, Bapak duwé rencana kepèngin duwé pendamping maning, ètung-ètung bisa kanggo kanca urip lan ngopèni Bapak. Nganti mbèsuk yèn wis tekan waktuné Bapak dipundhut daning Sing Maha Kuwasa.
Anak-anakku kabèh sing banget tak tresnani. Gegandhèngan karo apa sing tak tulis nang dhuwur, kowen padha tak arep-arep bisa teka mréné, mengko nang dina Minggu ngarep tanggal 12 Maret . Perluné Bapak arep ngrembug masalah rencana adol umah, ngiras-ngirus kowen kabèh bisa padha kenalan karo calon Ibumu sing anyar.Tak jaluk angger padha teka méné ora usah nggawa keluwarga, sebab sing arep dirembug kuwé masalah intern keluarga dhèwèk.
Anak-anakku,cukup saméné ndisit kabar sing Bapak , muga-muga kowen kabèh padha bisa mangertèni apa sing dadi kekarepané Bapakmu. Ora klalèn Bapak kirim salam kanggo kowen kabèh karo keluwargamu..
Saka Bapakmu sing tansah tresna.
(Ramelan Wirjoatmodjo).
Maca suraté Bapak sing kaya kuwé nyong mung gèdhèg-gèdhèg thok. Perasaané nyong campur adhuk : terharu,melas,bungah,tapi uga kegugu.Bapak kepèngin mbojo maning?. Nyong ora bisa mbayangna,bapané nyong sing umuré wis 56 kepèngin mbojo maning.Terus nyong pan duwé ibu kuwalon?. Lha terus upamané wong wadon kuwé duwé anak,Bapak bakal duwé anak kuwalon?. Terus nyong dadiné duwé sedulur kuwalon…..?. Héhéhéhé….nyong gemuyu dhèwèk. Terus Bapak pan mbojo maning karo sapa?. Lan wong wadon sapa sing bisa ngluluhaken atiné Bapak nganti Bapak bisa duwé kekarepan kepèngin duwé bojo maning ?. Apa Bapak wis bisa ngilangaken kenangan sing manis mbuh sing pait 26 taun suwéné urip karo jenaté Ibu ?. Nyong ora bisa mbayangaken kepribèn reaksiné kakang-kakang lan mbakyuné nyong sawisé maca
suraté Bapak sing kaya kuwé. Terutama Yu Kus,mbakyuné nyong siji-sijiné,sing awit bocah nganti semana tuwané tésih aleman maring Bapak. Yu Kus sing sering ngèin nasehat maring sedulur-sedulur lanangé supaya rumah tanggané padha niru kaya Bapak, sing nganti 26 taun bisa tetep setia lan jujur karo jenaté Ibu. Tapi saiki…. Bareng ditinggal sèda Ibu 8 tahun, Bapak ujug-ujug kepèngin mbojo maning. Akh….Pak…Pak… nyong mung bisa ngundang-undang Bapak sing kadohan…..
Surat tak lempit maning,tak anjingna nang amplopé.Maca suraté Bapak sing dawa lan nyentuh nang ati kaya kuwé, nyong nganti klalèn mangan. Nyong turon ngathang-ngathang nang dipan. Tangané sedhakep nang weteng karo nggegem suraté Bapak. Pikirané nyong mblayang mrana-mrana. Bayangan wajahé Bapak sing umuré wis pan sewidak ujug-ujug katon jelas nang arep mata. Bapak sing rambut karo brengosé wis putih kabèh. Awaké gering.Mlakuné rada bungkuk. Ah, Bapaké nyong sing wis katon tuwa nemen…Karo merem melik nyong nglirik maring potreté Bapak karo jenaté Ibu sing tak pajang nang rak buku. Potret ireng putih. Nang kono Bapak ngadeg gagah nemen nganggo setélan jas ireng,kemejané putih,dasiné ireng.Nang jèjèré, jenaté Ibu njagong nang korsi ukiran, nganggo tapih batikan Solo,klambiné burkat,kudhungé nglawèr. Nang ngarepé Ibu, nyong sing umuré nembé telung taun ngadeg nganggo setèlan putih-putih ana setripé biru nang gulu karo lengené, kaya pakéané matros utawa kelasi kapal.Enyong tèsih kèlingan potret kuwé digawé nang poto studio. Waktu kuwé Bapak karo Ibu balik kondangan sing gedung pertemuan Titi Kawedar sing parek Balaikota. Terus baliké mampir nang studio poto sing ana nang jalan Veteran. Potrèt kuwé potrèt kesayangané
nyong,sing sering tak sawang angger nyong lagi kangen maring Bapak .Utawa angger nyong tes ngimpi ketemu jenaté Ibu. Seringé potret kuwé tak sikep karo tak ambungi. Ah, angger wis kaya kuwé nyong rumangsa kaya dadi bocah cilik maning.
Ora krasa rainé nyong mrekabak,matané teles. Nyong ora ngira babar pisan jebulé Bapak duwé rencana sing anèh lan muskil kaya kuwé.Angger i keberatan ngrumat umah gedhé utawa kepèngin mbagi warisan kanggo anak-anaké tah nyong bisa maklum.Tapi angger Bapak ujug-ujug duwé niat arep adol umah terus pan kawin maning……?.Bener-bener ora ketemu ngakal.Bar mangan awan nyong maring wartel..Inlok Mas Gunadi nang
Indramayu, terus Yu Kusrini nang Purwokerto, Mas Slamet nang Semarang,kabèh tak takoni ihwalé surat sing Bapa.Kaya sing wis tak dhuga, jebulé kakang-kakangé nyong wis padha telpon-telponan mbahas suraté Bapak. Tak jaluk tanggapané, Mas Gun ora komentar apa-apa. Mas Gun kuwé wongé kalem tur pinter.Senajan sedulur sing paling sugih tapi omongané alus ora grusa grusu.
“Kita ora perlu kesusu nanggapi suraté Bapak. Angger Bapak arep adoll umah,ora masalah. Secara ekonomis umahé Bapak saiki niléné pancèn sangsaya dhuwur.Tapi secara praktis,kanggoné Bapak lan sedulur-sedulur kabéh wis ora efektif. Malah dadi beban. Angger sida didol tur bisa payu larang, aku setuju. Dhuwité bisa dimanfaataken kanggo sedulur-sedulur sing mbutuhaken.Wondo nang Pemalang umahé tesih nyicil. Kowen ya studiné tèsih butuh biaya akèh. Masalah Bapak kepèngin mbojo maning,uga ora dadi soal.Asal bisa nggawé Bapak seneng lan bahagia, aku ora keberatan. Apa maning sadurungé Bapa mbojo maning, urusan umah waris haké bocah-
bocah wis dituntasaken.Pokoké mengko dina Minggu tanggal 12 Insya Allah aku balik.Angger kowen kepèngin bareng, ya tak tunggu nang Indramayu, dadi aku ora usah nggawa supir.” kaya kuwé jawabané Mas Gun nang tèlpon.
Angger komentaré Yu Kus wis bisa tak badhèk. Yu Kus kuwé wis sepuluh taun manggon nang Purwokerto. Bojoné asli wong Banyumas, dosèn Unsud ngrangkep dadi wartawan. Mulané angger ngomong senengé nganggo cara Banyumasan, medhok nemen.
“Enak temen mbok. Paling-paling gelem dadi bojoné Bapak mung ngarep-arep warisan thok. Ora. Yu ora setuju. Apa maning dhèwèk kan durung padha weruh kepribèn pribadiné calon bojoné Bapak kuwé. Aja-aja wong wadon ora bener. Saiki kan akèh wong-wong wadon ora bener sing padha golèt mangsa. Golèt dhudha sing dunyané akèh. Engko angger dunyanè wis entong diporoti, langsung didhèpak. Pram, kowen aja setuju ya…Poma, kowen kudu melas maring ramané dhèwèk. Insya Allah, dina Minggu Yuné balik.”, Yu Kus ngomong nang telpon rada emosi. Bar telpon Yu Kus,enyong ngubungi Mas Slamet nang Semarang tapi ora ketemu. Dhèwèké lagi dhines njaba. Mas Wondo tah ora tak hubungi soalé umahé langka telponé.
Ngentèni dina Minggu tanggal 12 Maret nyong kayong ora sabar.Bayangané Bapak persasat terus nyanthèl nang mata.Bapané enyong, pènsiunan Kepala Bagian nang kantor Kabupatèn Tegal sing tekun nyambut gawé, jujur, lempeng,disiplin,gemi lan sederhana. Bapaké nyong mung lulusan SMEP. Ngrintis karir dadi pegawé Kabupatèn awit enom mula taun 60-an. Waktu kuwé kantor Kabupaten Tegal èsih ana nang kota Tegal, nganti taun 1986 dipindah nang kota Slawi. Bapak pensiun taun 1999 sawisé ngabdi nang Kabupaten Tegal luwih sing 35 taun. Pengabdian sing tekun tanpa
11
cacad semono lawasé ndadekna nyong sasedulur padha bangga maring Bapak. Kanggo nyumponi kebutuhan rumah tangga, saliyané dadi PNS Bapak uga ora isin-isin nyambi nyawah utawa ngebon bawang nang sawah warisan Embahé nyong sing ana nang Klampok. Angger ngèmuti kaya kuwé, nyong dadi kèlingan lagi tèsih cilik-cilik.Senajan uripé kecukupan,kabèh padha dilatih prihatin,sregep nyambut gawé,padha gemi lan padha rukun.Sing gedhé kudu bisa nuntun karo ngèin conto maring sing cilik.Alkhamdulillah kabèh padha nurut, langka sing mbedhud utawa mblathang, nganti sekolahé padha tutug. Sing pembarep Mas Slamet Margono lulus IKIP Semarang, Yu Kusrini lulus D3 Akademi Akutansii nang Purwokerto, Mas Gunadi Santoso lulus Fakultas Pertanian UNSUD, Mas Agung Suwondo ya lulus IKIP sing Jogja, nyong dhèwèk saiki wis semester VI Fakultas Sastra nang Jakarta. Saèlingé nyong,Bapak karo jenaté Ibu uripé rukun ora tau tukar padu. Ibu giat nang organisasi PKK lan Pengajian, senajan sering dikritik,sebab anaké akèh tandané ora mèlu KB, programé Pemerintah sing wis pirang-pirang taun digalakaken.Maklum Ibu pancèn turunané keluwarga besar Kyai Makhmud, sing terkenal keluwarga wong sugih lan santri fanatik nang Karanganyar. Sayangé 8 taun kepungkur Ibu ndisiti séda disebabaken penyakit kangker rahim sing ora bisa diatasi. Waktu kuwé nyong èsih kelas 1 SMP, mas Wondo kelas 2 SMA. Mas Gun karo Yu Kus tèsih kuliah nang Purwokerto. Mas Slamet nembé baé lulus Sarjana IKIP,terus dadi pegawe honorer nang Semarang. Untungé Bapak bisa tabah ditinggal Ibu.Biasané angger wong wis tua ditinggal mati bojoné akèhé sering lara,keyungyun, akhiré mèlu nyusul balik maring alam kelanggengan. Tapi rupané Bapak
tèsih kepengin wareg nunggoni anak lan putu-putuné. Kepèngin ngalami anak bontoté lulus dadi Sarjana nganti temekan duwé bojo. Kurang luwih 5 taun Bapak dhèwèkan ngopèni nyong., ibaraté dadi Bapak sekaligus dadi Ibu. Padahal waktu kuwé Bapak durung pensiun.Untungé ana Bi Dasmi, rèwang sing setia nemen awit Bapak karo Ibu nembé duwé anak loro. Mauné tah lagi nembé setaun rong taun ditinggal Ibu, sewulan sepisan Mas Slamet tilik Bapak. Semono uga Yu Kus karo Mas Gun, sing padha kuliah nang Purwokerto sering balik. Tapi saiki bareng wis padha rumah tangga lan padha repot dhèwèk-dhèwèk, kabèh dadi arang-arang niliki Bapak.
Ora krasa maning wis 8 taun Bapak dadi dhudha. Tekané surat kilat sing Bapak, gawé enyong lan kakang-kakang kabèh padha balik maning mikiraken kaanané Bapak. Bapak sing saiki urip dhèwèkan nunggoni umah sing gedhé nemen.Umah sing tau ngèin rasa ayem tentrem lan enget nyong sasedulur lagi tèsih padha cilik-cilik kumpul karo wong tuwa. Ora tak sangka,Bapak sing duwé anak lima ,jebulé saiki ngrasa kesepian. Oh, Bapak….Bapak…
2
Nang pojok jalan Kejambon , ana salah siji umah gedhé model lawas sing lataré amba. Umah kuwé katon sèjèn nemen dibandhingaken karo umah-umah sing ana nang sakiwa tengené.Potongané limasan,wuwungané katon dhuwur. Lawang karo jendelané jati kabèh modèl gemiyèn.Cèté kuning gadhing tapi katon wis rada pucet. Tèmboké sing warnané krèm wis akèh sing padha lècèt, ditambal nganggo semen,dadi katon pating blentong.Pager wesiné uga wis padha karaten. Rupané mauné dicèt biru laut, tapi cèté padha nglothok. Lawang gerbang ngarep modelé surungan, tapi saben dinané mung mbuka sathithik sekadar kena nggo liwat wong.Nang lataré sing amba nemen ana rong wit pelem arumanis.Wité katon wis tuwa,mulané rada dhuwur.Tapi pangé ngrembaka,godhongé ketel,dicagak-cagak nganggo pring sebab kabotan pentil sing mendhot pating grandhul. Nang pojok kiwa ana wit blimbing, wohé uga mendhot gedhé-gedhé akèh sing padha mateng tapi ora diundhuhi nganti akèh sing pada bosok. Saliyané tanduran kuwé ana tanduran pethètan ,mlathi, nusa indah,mangkokan lan liya-liyané pating grumbul endhèp-endhèp. Kabèh tanduran katon lemu-lemu ketara yèn dirawat daning sing duwé.Latar amba sing dilèri watu krosok katon resik nemen.Langka suket lan godhong klèyang sacuwil-cuwila. Umah gedhé sing katon resik lan asri kuwé seringé lawangé tutupan kaya umah suwung.Tapi sabeneré umah kuwé dinggoni dhudha tuwa sing duwé anak lima, tapi milih urip dhèwèkan, yakuwé Pak Ramelan Wirjoatmojo, Bapaké nyong.
Dina Minggu esuk tanggal 12 Maret 2000. Suwasana nang umah kuwé katon sèjèn ora kaya biasané. Lawang gerbangé dibuka amba nganti pol. Nang sebelahé wit pelem ana mobil Kijang anyar sing diparkir jèjèran karo mobil dines jip plat abang. Mobil Kijang anyar wèké Mas Gun sing Indramayu,angger mobil dines jip plat abang wèké Mas Slamet sing Semarang.Nang ngisor jendela sing dibuka , nang antarané pot-pot kembang, ana sepeda motor wèké Mas Wondo sing Pemalang.
Dina Minggu sing cerah, jam setengah sanga.Nuruti prèntahè Bapak sing ana nang surat kilat, èsuk-èsuk nyong sasedulur padha kumpul nang ruang tamu umahé Bapak. Umah lugu sing kebek sejarah lan memori.Kaya sing dipesen daning Bapak, enyong sasedulur teka dhèwèk-dhèwèk ora ngajak keluargané.Bapak katon bungah nemen ditekani anak-anaké. Siji-siji padha ngambung tanganè Bapak terus padha nyikep
kenceng awaké Bapak.Sikep kangen,sikep éman lan hormat maring wong tuwa sing wis ngukir jiwané anak-anaké kabèh,nganti saiki padha baé tuwané.Bi Dasmi, réwang sing mèlu keluwargané nyong wiwit gemiyèn lagi nyong karo sedulur-sedulur èsih cilik-cilik uga teka karo Si Tarmunah putu wadoné.Ora klalèn nggawa kacang asin Bogarès kesenengané mas Gun, karo jangan glothak , yakuwé jangan gembus mèngkrèng ijo sing dicampur balungan kebo klangenané Yu Kus. Setaun ora ketemu,Bi Dasmi katon wis tuwa nemen,mlakuné baé wis gentoyoran.Tapii ketemu karo enyong sasedulur Bi Dasmi bungah nemen.Ora meneng-meneng olihé crita karo guyonan.
Rupané Yu Kus wis ora tahan kepèngin ngarti ihwalé Bapak sing arep mbojo maning.Mulané takon wisikan maring Bi Dasmi , dongé wong wadon sapa sing arep dikawin Bapak. Ditakoni kaya kuwé Bi Dasmi ngrajug,ora njawab,mung nutup lambéné nganggo jenthik penuduh, maksudé aja ngomong masalah kuwé. Yu Kus tak sawang kayong tambah penasaran.
Dina kuwé Bapak katon séhat,awaké seger,rada lemu.Apa maning rambut karo kumisé disemir ireng menges, nganggo kaos biru ndhog asin,clana ireng, ndadèkna Bapak kayong katon gagah lan tambah nom. Mlakuné ya rada ndegèg, ora bungkuk kaya wong-wong tuwa séjéné. Tapi weruh Bapak sing kaya kuwé,kakang-kakangé nyong langka sing komentar,mung enyong sing wanii ngomong semu guyon.
“Bapak kayong manglingi hèh….?”
“Manglingi apané”, jaré Bapak karo gemuyu.
“Saya nom…”
“Ah, masa??”
“Saèstu Pak. Cobi takèn Yu Kus nopo Mas Gun, mesthi padha pangling” jaré nyong maning. Kabèh padha setuju ngiyakna. Dialem kaya kuwé Bapak gemuyu ngèkèk karo ngelus-elus kumisé.Bapak terus ngrangkul pundhaké nyong.Mak sripit nyong mambu parfum sing awaké Bapak .
“Mulané kowen padha tak kon méné,mèn padha weruh yèn Bapakmu tèsih gagah.Héhé…héhé…”. Bapak gemuyu renyah nemen.Untu ndhuwuré Bapak sing mauné ompong saiki katon rapet diganti gigi palsu.Bener.Bapak pancèn katon brobah. Saben-saben ngomong Bapak karo gemuyu.Ya, Bapak dadi sering mèsem.
Suwasana pertemuan waktu kuwé dadi ramé,sumringah.Karo disambi nginung tèh poci pacètané mendhoan lan gethuk gorèng Sokaraja olih-olihé Yu Kus. Bapak karo sedulur-sedulur ramé nemen ngobrol ngalor ngidul lan guyonan werna-werna.Nganti rada suwé Bapak durung nyinggung rencana arepan adoll umah karo mbojo maning. Rupané kabèh kayong wis ora sabar olihé ngentènii Bapak mbuka omongan kaya sing nang surat. Akhiré Yu Kus ndhisiti ngomong.
“Bapak mboten éman-éman, griyo niki badhé disadé, Pak ?”
Krungu omongané Yu Kus kaya kuwé Bapak meneng sawetara,mung nyawang rainé enyong sasedulur siji-siji. Suwasana dadi rada tegang. Sawisé ngun –
njal ambekan Bapak ngomong alon-alon.
“Lha kuwé Nok. Dina kiyé Bapak kepèngin rembugan.Muga-muga padha setuju karo rencanané Bapak. Umah kiyé wis ana sing nganyang 120 juta”
“Lajeng?”, Mas Gun penasaran.
“Terserah kowen kabèh.Kira-kira rega samono cocog apa ora. Aku malah wis ilang ileng,luruh umah maning sing cilik-cilikan. Kebeneran ana umah Perumnas pan didol murah. Umahé tèsih rada apik, njaluké mung 45 juta.Gari direnovasi sethithik, tak kira wis sesuai kanggo Bapak”
Kabèh padha meneng, langka sing ngomong, mung nyawang maring rainé Bapak. Yu Kus katon rada tegang.Mas Slamet njagongé rada gelisah karo terus udud.
“Lajeng ,ngèngingi ….anu…rencanané Bapak,…”, Yu Kus ngomong maning tapi ora tutug.Rupané Bapak maklum.
“O kuwé?. Kaya sing nang surat, aku pancèn duwé rencana, muga-muga kowen padha setuju,aku arep …….mbojo maning”. Ngomong kaya kuwé karo dhèhèm.
“Kalih sinten Pak?”, Mas Wondo sing kawit mau meneng takon serius.
“Ya karo wong wadon”, Bapak ngomong karo gemuyu,maksude bèn suasana ora tegang nemen.Kabèh mèlu gemuyu karo manggut-manggut.
“Arané Bu Neneng, lengkapé Neneng Yunengsih.Lha kiyé mengko, kowen kabèh arepan tak kenalna karo dèwèké. Rencanané mengko jam sanga luwih, dhèwèké arep teka mréné”
Krungu jawaban sing Bapak kaya kuwé,kakang-kakangé nyong mung padha pandeng-pandengan.Suwasana pertemuan tambah kaku.Bapak mandeng maring nyong, kayongèn kepengin nyong mèlu ngomong.Supaya suasana aja tambah kaku ,nyong ngomong karo rada nyrèngès.
“Wah,bakalé duwé ibu maning,kiyéh….Nuwun séwu Pak,Bapak kenal kalih Bu Neneng teng pundi….lajeng, sampun dangu nopo dèrèng?”
Ditakoni kaya kuwé Bapak ora langsung njawab.Sawisé mikir rada suwé Bapak ngomong alon-alon.
“Tak kira masalah Bapak kenal karo Bu Neneng nang endi lan kapan, ora usah dibahas.Kanggo sawetara masalah kuwé bèn dadi rahasiané Bapak karo bu Neneng. Sing penting,Bapak karo bu Neneng wis padha senengé,wis cocog. Wis sepakat olihé arep urip bebrayan”
“Dados…bu Neneng sampun asring mriki?” Yu Kus takon semadan ora percaya karo gèdhèg – gèdhèg.
“Iya. Malahan…ee…angger nang kéné ya sokan ngréwangi bersih-bersih umah, kadang ya masak nggo Bapak. Bu Neneng kuwé pinter masak. Mulané bareng kenal karo Bu Neneng, Bapak ya dadi sering mangan ènak.”, Bapak ngomong karo pèsam-pèsem, katoné seneng nemen ngandhakna kenalané sing arané Bu Neneng Yunengsih.
Pas lagi Bapa ngomong kaya kuwé telpon nang ruang tengah moni kring. Bapak gagiyan manjing nampa telpon. Ora suwé Bapak metu maning, rainé semringah karo ngomong.
“Telpon saka Bu Neneng. Sedhèlat maning teka méné”
Karo ngentèni Bu Neneng,ngobrolé diterusna maning.Tapi Bapak katon ora pati jongjon.Njagongé gelisah,sadhèlat-sadhèlat menyat nglongok manjaba. Rupané Bapak wis ora sabar kepèngin ketemu karo Bu Neneng. Nyawang Bapak kaya kuwé, Yu Kus mènjep karo gèdhèg-gèdhèg. Kakang-kakang sèjèné mung padha meneng. Embuh perasaan apa sing ana nang jero atiné. Ora let suwé keprungu suwara ana bècak mandheg
nang arep umah.Bapak langsung ngadeg,nglongok menjaba,terus ngomong maning semu bungah.
“Lha kaèh,Bu Neneng wis teka”
Terus keprungu suwara langkah rada gancang marani umah saya parek saya parek.Ah, sakedhèpan maning nyong sasedulur bakal weruh wong wadon sing arané Bu Neneng, wong wadon sing gawé penasaran,apamaning jaré bakal dadi ibu kuwaloné. Kabèh padha nglinguk maring lawang. Ujug-ujug atiné nyong krasa mak ser. Embuh perasaan apa sing ujug-ujug manjing nang dhadha.Ora let suwé wong wadon sing arané Bu Neneng manjing ruang tamu karo uluk salam, diiringna Bapak.Dhèwèké langsung ngajak salaman, rainé sumèh, ngumbar èsem. Karo salaman Bapak ngenalna anaké siji-siji,awit sing Mas Slamet ,Yu Kus, Mas Gun, Mas Wondo terus terakhiré nyong.Bar salaman karo
terus mèsem Bu Neneng njagong nang kursi sing tèsih kosong jèjèran karo Bapak. Sawetara kuwé, nyong sasedulur mung meneng thok,nyawang Bu Neneng, ,awit sing jempol sikil nganti pucukèng rambut.Embuh kepribèn perasaané sedulur-seduluré nyong bareng wis njagong adhep-adhepan karo sing arané Bu Neneng.Tapi nyong dhèwèk ora ngira babar blas yèn sing arané Bu Neneng ora kaya sing tak bayangna. Wongé katon tèsih rada nom, umuré sekitar 35 tahunan,awaké tèsih seger,kulité kuning,rainé alus,rambuté sing dipotong sangingsoré pundhak tesih ketel lan ireng. Nganggo klambiné blus lengen dawa kembang-kembang warna abang jambon, roké landhung werna ireng,nganggo kacamata putih, Bu Neneng ora mung katon ayu tapi uga terpelajar.Bapak sing ndelengna anak-anaké pating pendongong langsung mbuka omongan.
“Anak-anakku kabèh, Mamet karo adhi-adhiné. Dina kiyè bungahé Bapak ora
kira-kira, sebab dina kiyé kowen wis padha nuruti kekarepané Bapakmu kaya sing tak tulis nang surat.Dina kiyé uga kowen kabèh wis tak kenalaken karo Bu Neneng.Dadi aku ora arepan ngomong akèh-akèh maning.Aku mung njaluk kowen kabèh bisa rembugan nganti mateng.Sing sepisan soal umah.Mau wis tak omongaken,yèn umah kiyé wis ana sing nganyang 120 juta. Rega semono tak kira wis cukup dhuwur.Terus sing kepindho…ehm..ehm…”, Bapak mandheg ngomongé karo dhèhèm, nglirik maring Bu Neneng.Suwasana nang ruang tamu bener-bener sepi.Mas Slamet nyuled ududé maning.Mas Gun ngelus-elus jènggoté karo nglirik maring jam dinding.Waktu kuwé jam sepuluh kurang seprapat.Yu Kus katon rada gelisah,tangané nyekel saputangan karo diusap-usapna nang irungé. Bu Neneng awit mau tèsih tenang,tetep mèsem,ndadèkna praèné katon manis serasi. Bapak dhèhèm-dhèhèm maning,terus nglanjutna omongané,suwarané rada alon,tapi tetep mantep lan berwibawa kaya biasané.
“Lha sing kepindo, kowen kabèh uga tak jaluk ngrembug nganti tuntas rencanané Bapak sing arepan mbangun rumah tangga maning karo Bu Neneng. Bener ya Bu ?”, ngomong kaya kuwé karo nglirik maring Bu Neneng.Bu Neneng mung manthuk-manthuk karo mèsem.
“Supaya kowen kabèh bisa rembugan sing kepénak lan leluasa,Bapak karo Bu Neneng arep maring Pasar Pagi. Perluné arep blanja sing pepek, terus mengko Bu Neneng arep masak,supaya mengko awan bisa mangan bareng-bareng. Dadi bisa luwih akrab,karo sisan bisa nyicipi masakané Bu Neneng.Bapak ya sisan arep tuku pakan manuk karo ndeleng-ndeleng mbokan ana manuk ocèhan sing apik. Ayo Bu….”, bapa menyat karo nggandhèng tangané bu Neneng
“Sampun rèpot-rèpot lah Bu….dalem kan sampun mbekto dhaharan werni-werni kanggé dhahar siang mangké “, ujug-ujug Yu Kus ngomong kaya kuwé.Rupané mung nggo basa-basi, soalé kabèh mung padha meneng thok. Bapak karo Bu Neneng langsung ngadeg. Karo mlaku metu menjaba, tangan tengené Bapak nang bangkèkané Bu Neneng.
“Nuwun sèwu…”, Bu Neneng pamitan sopan nemen..
Salungané Bapak karo Bu Neneng, nyong sasedulur langsung mulai mbahas masalah adol umah karo rencanané Bapak sing arep kawin karo Bu Neneng.Tapi kayongé tinimbang mbahas rencana adol umah, sulur-sedulur luwih tertarik mbahas rencanané Bapa sing arepan mbojo maning. Kaya sing wis tak sangka, Yu Kus durung acan-acan wis mbuka omongan ora setuju.
“Angger enyong tah ora setuju banget.Nang sawangané enyong, sing arané Bu Neneng kuwé…kayong kepribèn ya…”, Yu Kus ngomong karo ngunjal ambekan.
“Kepribèn apané Nok?”, Mas Slamet nyauri. Awit cilik Mas Slamet angger maring Yu Kus ngundangé Nok, tiru-tiru Ibu karo Bapak.
“Pokoké aku tah kayong ora cocog, Mas Met. Secara fisik, ana perbedaan umur sing mencolok antara Bapak karo Bu Neneng. Apa mengko ora dadi masalah?”
“Bener Nok.Secara psikologis mungkin ora masalah.Tapi secara fisik, … maaf ya, nyong kuwatir Bapak ora mampu mengimbangi. Jaré kowen kira-kira Bu Neneng kuwé umuré pira si …?. Ana 40 ?”
“Tarohlah 40 kurang..Sedangkan Bapak kan wulan Desember mengko bakal jejeg 56 ?. Perbedaan usia 16 tahun. Jaré kowen pribèn Gun?”
Mas Gunadi sing ditakoni Yu Kus malah menyat.Ngadeg nang pinggir jendhéla karo nyawang menjaba.Embuh apa sing ana nang pikirané. Kabèh padha ngentèni apa pendapaté Mas Gun, kakangé nyong sing paling kalem,pinter, langka omongé.Sawisé njagong maning terus nginung banyu putih Mas Gun ngomong.
“Sabeneré aku pèngin krungu pendapaté Wondo karo Pram ndhisit”
“Aku tah tutwuri baé Mas.Terserah sedulur-sedulur. Yu Kus jelas ora ndukung. Mas Slamet ya rupané keberatan.”, Mas Wondo njawab kalem.
“Kowen ya kudu ngèin pendapat Pram”, jaré Mas Gun karo mandeng maring enyong. Ditakoni kaya kuwé nyong rada nggragap,soalé nyong ora bisa mbayangna kepribèn kecéwané Bapak angger kabèh anak-anaké padha ora setuju rencanané Bapak arep mbojo maning.
“Kulo abstain Mas”,nyong njawab sakenané.
“Kaya sidang DPR baé, ana abstain ana apa.Ya wis ora apa-apa , wong masalah kiyé kan dudu masalah sepélé.Aku sing mau ya wis nganalisa sing berbagai sudut, tapi durung bisa nyimpulna secara pas. Mung pendapaté aku rada beda.Memang, Bapak kuwé umuré wis 56.Tapi tak sawang-sawang kondisi fisiké tèsih katon séhat.Coba, mau kan padha weruh dhèwèk. Justru Bapak katon luwih nom,kaya wong umur patang puluhan.Sapa weruh sawisé mbojo maning karo Bu Neneng Bapak tambah séhat lan umuré sangsaya dawa.”
“Berarti Gun setuju Bapa mbojo maning?”, Yu Kus nyelani karo mènjep, suwarané dhuwur karo ndregdheg nahan emosi, matané mandeng mancleng maring Mas Gun “Mengko ndisit Yu. Yuné aja emosi. Aku durung ngomong setuju apa ora setuju. Aku mung kepèngin, Bapak uripé bahagia lan umuré dawa.Soalé akèh contoné lho,
dhudha tuwa kaya Bapak ,bareng duwé bojo maning malah awèt nom lan dawa umurè”
”Bener Gun.Tapi kuwé wong tuwa sing dhasaré mlatar.Wong tuwa sing royal.Bapak kan dudu wong mlatar, dudu wong royal. Bapak kuwé wong sederhana. Ora néka-néka.Iya, Mas Met?”, Yu Kus nyrandu omongané Mas Gun karo njaluk dukungan Mas Slamet.
“Bapak pancen dudu wong mlatar.Awit nom mula bapané dhèwèk kuwé wong sing lugu,lempeng,ora tau macem-macem. Mulané uripé kecukupan,bisa mbiayani anak-anaké nganti sekolahé padha tutug”, jaré Mas Slamet rada mbélani Yu Kus.
“Lha bisané bareng wis sepuh Bapak ka dadi kaya wong mlatar”, Mas Wondo sing awit mau meneng baé, ujug-ujug ngomong kaya kuwé.
“Bener Ndo.Kuwé sing kudu dianalisa.Sebagai pendidik kowen mesthiné duwé pandangan dari aspek psikologis sing luwih komprehensip.Sebabé apa Bapak saiki bisa berobah”
Mas Wondo kuwé kakang cer karo nyong.Lagi jenaté Ibu tèsih urip Mas Wondo dikira arep dadi bocah bontot. Mulané jaré wong-wong Mas Wondo kuwé anak sing paling dièman. Awaké lencir kuning persis kaya jenaté Ibu. Jaré tah lagi cilik mas Wondo rada nakal,tapi sekolahé paling pinter.
“Pandangan psikologis ya aku ana Mas.. Tapi tentuné dudu kapasitasé aku nggo nganalisa Bapaké dhèwèk.Sing jelas, Bapak ndèyan butuh ruang utawa tempat kanggo nyaluraken gagasan,ide, ekspresi… lan …..kasih sayang”
“Maksudé kowen apa Ndo?. Tempat nyaluraken kasih sayang?. Kan kasih
sayangé Bapak bisa disaluraken maring anak, maring putu…”, jaré Yu Kus maning.
“Iya, tapi sèjèn Yu. Maksudé disamping Bapak memberikan kasih sayang, Bapak uga butuh perhatian lan kasih sayang sing wong sèjèn”
“Lho, apa selama ini kita tidak memberikan perhatian dan kasih sayang maring Bapak ?. Kowen dhongé kepribèn sih, Ndo. Aku kayong belih mudheng”, Yu Kus mrekabak nahan emosi. Mas Wondo durung kongsi njawab, Mas Slamet nyela.
“Aku paham maksudé Wondo. Angger nyaluraken kasih sayang maring anak putu tah memang sebuah naluri seorang ayah dan kakèk kepada anak cucunya. Sebuah kewajaran.Dadi wis biasa.Tapi Bapak kan bukan sekadar seorang ayah dan seorang kakèk. Bapak juga seorang pria,wong lanang yang masih memiliki …ehm…apa kuwé…libido.. iya Ndo?”
“Tepat Mas Met. Dan itu normal. Artiné Bapak ora berobah dadi wong mlatar.Bapak èsih tetep wong sing sederhana,bertanggung jawab,mencintai anak-anaknya.Masalah Bapak kepengin mbojo maning, dudu karena Bapak ujug-ujug brobah dadi mlatar.Tapi Bapak butuh penyaluran kaya sing diomongna Mas Slamet”
“Berarti kowen setuju Bapak mbojo maning Ndo…kepribèn si dhongé kowen…Aku tah ora paham….”, Yu Kus bener-bener emosi,ngomong karo nudhing maring mas Wondo.
“Tenang Yu, tenang”, Mas Wondo ngarih-arih mbakyuné. “Kiyèh Yu, masalahé dudu setuju apa ora setuju Bapak pan mbojo maning. Tapi ana soal luwih penting sing kudu dibahas ndisit,yakuwé soal Bu Neneng.Kita sing mau mung pethengthengan
mbahas Bapané dhèwèk,tapi langka sing mbahas masalah Bu Neneng. Bu Neneng kuwé sabeneré sapa, wong endi, kabèh durung jelas.Bu Neneng kuwé masih gadis apa randha?”
“Maksudé kowen, Bu Neneng kuwé…prawan tuwa?”, yu Kus takon judhes.
“Sapa weruh yu. Bapak kan durung njelasna . Anggeré randha terus bekas bojoné sapa?. Apa bojoné mati, apa pegatan?.Terus duwé anak apa ora?.Angger duwé anak, anaké pira ?. Terus saiki anaké padha nang endi ?.Informasi mengenai Bu Neneng sangat minim sekali, padahal itu penting. Sangat penting…” Mas Wondo ngomong, artikulasiné jelas,persis kaya guru sing lagi nerangaken pelajaran nang ngarep kelas. Krungu penjelasané Mas Wondo sing kaya kuwé, kabeh padha manthuk-manthuk.
“Tapi sing jelas, Bu Neneng kuwé dudu wong Jawa. Angger nilik arané, mesthi wong Sunda…wong Jawa Barat lah….”, jaré Yu Kus maning.
“Ora masalah Yu, mbuh wong Sunda mbuh wong Padang. Saiki wis tah wis ora ungsum ngomong masalah kaya kuwé”, Mas Wondo njawab karo nglirik maring mas Gun.Rupané Mas Wondo sadar,yèn omongané Yu Kus bisa menyinggung perasaané Mas Gun.Soalé bojoné Mas Gun sing arané Yu Teti kuwé asli wong Karangampel –Indramayu.
“Berarti kita durung bisa mutusaken, Mas Ndo ?”, enyong melu-melu ngomong, maksudé supaya masalah Bu Neneng sing wong Sunda ora kedawan-dawan.
“Jelas durung ooo…Sadurungé kita gawé keputusan,luwih ndhisit latar belakangé Bu Neneng diusut lan dilacak sing temenan. Angggeré wis jelas,lha tembé kita bisa mutusaken. Setuju apa ora. Bener Mas Gun?”
“Oke…oke…Aku setuju golèt keterangan sing jelas lan lengkap mengenai Bu
Neneng.Tapi aja nganggo istilah dilacak utawa diusut. Mbokan Bapak krungu mengko tersinggung.Bu Neneng kan dudu tersangka kriminal. Aku yakin Bapak pasti wis weruh nemen latar belakangé Bu Neneng. Dadi mengko bisa takon maning sajelas-jelasé maring Bapak. Sing penting kepribèn carané supaya Bapak ora tersinggung. Terutama sampéyan Yu Kus, kudu bisa njaga perasaané Bapak”, Mas Gun ngomong alon.
Kabèh padha setuju gagasané Mas Gun. Ora krasa maning wis jam sewelas luwih.Berarti Bapak karo Bu Neneng maring pasar wis sejam luwih. Rundingan masalah rencana Bapak pan adol umah karo mbojo maning ternyata tèsih ngambang.Tapi secara sama-samar,Mas Gun,Mas Slamet karo Mas Wondo ora patia keberatan.Mung Yu Kus sing tetep ora bisa nyetujoni kekarepané Bapak kepèngin mbojo maning.Angger soal adol umah,awit sing lagi omong-omongan nang tèlpon,kabèh ora kepengin melu campur. Sebab selawasé Bapak èsih urip, kuwé haké bapa sapenuhé.Apa maning kakang-kakangé nyong wis pada duwé umah, kejaba enyong karo Mas Wondo..Malah enyong krungu dhèwèk yèn Mas Gun,Mas Slamet karo YuKus ora arep njaluk bagéan. Kabèh padha iklas yèn bagéané diwèkna enyong karo Mas Wondo.
Karo ngentèni Bapak karo Bu Neneng teka sing pasar nyong nerusna ngobrol-ngobrol. Suasana sing mau rada kaku, wis mulai èncèr maning. Tapi nganti jam rolas luwih, Bapak karo Bu Neneng durung teka. Kabèh gelisah. Ujug-ujug keprungu suwara adzan dhuhur sing mushola parek umah. Mas Slamet ngajak solat bareng nang mushola. Mlaku runtung maring mushola, nyong dadi kelingan maring jenaté Ibu.Gemiyen lagi padha cilik-cilik, anggeré krungu adzan langsung Ibu nyurung-nyurung anak-anaké
gagiyan padha maring mushola. Maklum Ibu kuwé keluwarga santri, putuné Kyai Makhmud sing terkenal nang daerah Karanganyar.
Bar sholat ora klalèn nyong kirim donga kanggo Ibu khusyuk nemen. Sawisé ndonga, karo nangis nggrentes nyong wadul, ngresula,ngajak ngomong karo jenaté Ibu sing wis sèda 8 taun kepungkur. Ibu….angger panjenengan tèsih urip tah….ora bakal ana masalah sing ruwed kaya kiyé. Ora bakal Bapak duwé rencana pan adol umah.Apa maning rencana arep mbojo maning. Ora bakal enyong sasedulur dina kiyé nandhang kèder sing ora kira-kira ,gara-gara wong wadon sing arané Bu Neneng. Karo sesambat kaya kuwé,nyong ngglosor nang pojok musola karo nangis ngguguk-ngguguk…
3
Balik sing mushola,durung manjing umah nyong krungu suwarané Yu Kus nangis nggriyeng. Gagiyan nyong kabèh padha mlayu manjing umah.Yu Kus nang kamar tengah lagi turon,rainé ditutupi bantal.Bi Dasmi nang iringané njagong karo mijeti pundhaké. Mas Slamet gagiyan nubruk Yu Kus, karo takon.
“Kenang apa Nok…..kowen kenang apa?”. Sing ditakoni ora semaur.Malah nangisé sangsaya seru.Nyong dadi kuwatir,mbokan ana kabar sing ora apik.
“ Bi Dasmi, kiyé Yuné kenang apa?”, nyong takon maring Bi Dasmi. Bi Dasmi
29
ngomong karo gemeter,suwarané lirih pedhot-pedhot.
“Niku Mas, Nok Kus kuwatos,daning Bapaké kalih Bu Neneng ka ngantos wayamènten dèrèng kondur.Mangké lha wonten alangan nopo kepripun…….”
“Mas Met, aja padha ayem baé…mana sih Bapak digolèti. …Lokèn maring pasar nganti telung jam luwih?”, Yu Kus ngomong karo mèwèk-mèwèk, banyumatané dlawèran. Nyong nembé sadar, yèn Bapak karo Bu Neneng wis suwé nemen maring pasar durung balik-balik.Mas Gun ndeleng arlojiné,terus nyebut : “Astaghfirullah…, hayuh Pram,Bapak dogolèti”. Gagiyan Mas Gun njukut konci mobil, diwèkna nyong, terus mlayu metu. Mas Wondo ora weruh maning wis nyèmplak motoré, langsung ngebut maring dalan gedhé. Nyong karo Mas Gun nututi nang mburiné. Waktu kuwé dalan wis rada sepi.Maklum wis awan, apa maning dina Minggu. Karo nyetir nyong mung meneng thok. Mas Gun tak lirik rainé katon buthek.Embuh apa sing ana nang jero atiné. Nyong ya mung bisa mbatin pitakonan siji sing abot nemen , pitakonan sing ora bisa tak jawab dhèwèk : Ya, dhongé saiki Bapak karo Bu Neneng maring endi?. Nyong ora yakin yèn Bapak karo Bu Neneng tèsih ana nang pasar. Malah saklèbatan ana pikiran ala. Aja-aja mau Bapak cèkcok karo Bu Neneng , gara-gara bareng wis ketemu karo anak-anaké Bapak, Bu Neneng brobah pikiran. Nang bayangané nyong, Bu Neneng ora sida blanja, tapi balik maring umahé. Terus Bapak akhiré mélu maring umahé Bu Neneng. Bapak mbujuk maring Bu Neneng supaya dhèwèké aja mbatalaken rencanané Bapak .Kaya kuwé nang bayangané nyong karo nyetir mobil. Akh, muga-muga baé aja nana kedadiyan sing ora apik….
Nyong karo Mas Gun gaiyan manjing pasar. Pasar wis sepi, wong blanja wis
langka .Mung ana siji loro wong dodol sing durung kukud. Nyong mlaku jlang-jlangan
nang lurung-lurung sing ana nang antara los-los sing jèjèr-jèjèr. Wong dodol sing durung kukud padha ndelengna nyong karo Mas Gun.Ndèyan padha èram, dhongé wong loro lagi pan tuku apa,ka awan-awan padha manjing pasar karo matané jlalatan. Akhiré nyong tekan lawang mburi pasar, terus nyabrang dalan cilik marani kios burung. Jebul Mas Wondo wis nang kono, lagi ngobrol karo salah siji pedagang manuk. Nyong gagiyan marani .
“Mas Gun, kiyé Pak Sa’il. Tukang manuk langganané Bapak” jaré Mas Wondo ngenalna Pak Sa’il maring Mas Gun.
“Pripun Pak,nopo wau Pak Ramelan mriki?”, Mas Gun takon ora sabar.
“Enggih. Wau antawis jam sedoso, Pak Ramelan mriki tumbas pur pakan manuk.Ngantos dangu lenggah teng ngriki. Ketingalipun gelisah.Mlebet teng peken,lajeng medal malih.Mlebet malih,medal malih ngantos ping pinten-pinten”
“Lajeng?”
“Lajeng pamit.Malahan pakan manuké mboten dibekto. Lha niki taksih tak simpen”
“Lajeng, Pak Ramelan kèsah teng pundi?”, Mas Wondo takon ora sabar.Sing ditakoni meneng, ora langsung njawab. Rupané dhèwèké lagi ngèling-èling. Terus ngomong alon-alon, kayong ora pati yakin.
“Menawi mboten lepat …wau nyegat becak, sanjang badhé teng terminal”
“Teng terminal?. Pak Sa’il mboten takèn badhé teng pundi?”
“Maap mas, kulo mboten takèn.Tapi ketingalé kiyambaké buru-buru”
Krungu jawabané Pak Sa’il kaya kuwé, nyong kabèh ngrajug. Mas Gun narik tangané nyong,ngajak gagiyan maring terminal.
“Mengko ndisit Mas. Angger Bapak bener maring terminal, kan ora mesti arep numpak kendaraan umum?. Sapa weruh umahé Bu Neneng kuwé parek terminal…”
“Pokoké gagiyan maring terminal. Filingé aku, Bapak mesthi arep numpak bis…Sapa weruh, Bapak tèsih nang terminal”.
“Mas Gun, terminal Tegal kuwé jurusané telu.Ngétan jurusan Semarang.Ngidul jurusan Purwokerto.Angger ngulon jurusan Cirebon. Terus tujuané Bapak maring endi?” Mas Gun ora njawab. Mas Wondo ndisiti lunga nyèmplak motoré. Nyong karo Mas Gun mlaku cepet-cepet maring ngarep pasar maning,njokot mobil nang parkiran terus nyusul Mas Wondo maring terminal. Manjing terminal nyong nembé sadar, yèn terminal Tegal sing anyar kuwé ambané nemen. Sebagian nang sisih kidul nggo terminal angkot karo tuyul. Tuyul kuwé istilahé wong Tegal angger ngarani bis cilik utawa bis telungprapat. Sing sebagian maning, nang sisih loré kios-kios dinggo terminal bis antar kota. Mas Wondo tak deleng lagi wira-wiri nang terminal angkot. Nyong karo Mas Gun manjing terminal bis antar kota ngliwati ngarepé kios sing jèjèr-jèjèr akèh nemen. Ndeleng bis-bis gedhé sing padha jèjèr pirang-pirang, nyong tambah kèder. Mas Gun ilang-ileng nang sisih kiwa, nyong nang sisih tengen. Saben bis tak longok.Saben ana wong lanang sing kedelengé tuwa, tak pareki. Tapi wis luwih seprapat jam nganti sikilé jèmpèr, nyong ora nemokna Bapak. Akhiré wong loro metu sing terminal nggoleti Mas Wondo. Sing digolèti lagi nginung tèh botol,kringeté dlawèran.
“Dhongé Bapak maring endi ya?”, nyong ngomong dhèwèkan. Aja-aja bener
dugaané nyong. Bapak karo Bu Neneng ora sida blanja tapi malahan tukaran. Aja-aja Bu
Neneng balik maring umahé, terus Bapak nyusul. Tapi umahé nang endi ?. Pitakonan kuwé sing gawé nyong tambah mumet lan panik. Saking paniké,akhiré nyong golèt wartel nelpon maring umah ngabari Mas Slamet. Mas Slamet kongkon wong telu padha balik baé. Mengko dirunding nang umah kepribèn énaké.
Akhiré wong telu balik. Tekan ngumah wis jam telu luwih.. Berarti wis nem jam Bapak ninggalaken umah. Nembé dhog tekan ngumah, Yu Kus nggumbel karo nangis mèwèk-mèwèk.
“Pram…Dhongé Bapak maring endi ya ?. Dhongé kan Bapak bisa telpon ngabari maring umah, Bapak saiki nang endi…Bapak…Bapak….Panjenengan ka ana-ana baé…wong wis sepuh ka ana kepèngin mbojo maning ana apa…akhiré kaya kiyé”
“Wis wis….Yuné meneng, aja nangis. Muga- muga baé Bapak ora kenang apa-apa. Angger kenang apa-apa, mesthi Bapak telpon.”, Mas Gun ngeneng-eneng Yu Kus.Padahal dhèwèké uga katon panik.
“Bisané kowen padha nggoleti Bapak nang terminal si ?” , Yu Kus takon.
“Kaya kiyé Yu..Mau lagi nang pasar, aku olih informasi sing tukang manuk. Menurut tukang manuk langganané bapa sing arané Pak Sa’il, antarané jam sepuluh bapa mondar-mandir manjing metu pasar nggolèti Bu Neneng. Tapi ora ketemu. Akhiré, jaré Pak Sa’il, Bapak numpak becak maring terminal. Terus tanpa pikir panjang aku karo Pram karo Wondo maring terminal. Sapa weruh Bapak esih ana nang kono. Terus wong telu mubeng-mubeng nggolèti.Terminal angkot karo terminal bis tak ubek-ubek.Tetep ora ketemu”, jaré Mas Gun gamblang nyritakna olihé padha nggolèti Bapak awit sing
pasar nganti terminal.
“Coba saiki pada di-analisa… Bapak ngentèni Bu Neneng nang kios burung. Terus Bapak bolak balik manjing metu pasar nggolèti Bu Neneng. Berarti Bu Neneng ora sida blanja tapi lunga ninggalaken Bapak. Terus Bapak nggolèti Bu Neneng maring terminal. Berarti umahé Bu Neneng ora nang Tegal,tapi nang luar kota.Sayang mau ora takon Bapak, Bu Neneng kuwé umahé nang endi…”, Mas Slamet ngomong alon-alon katon gela. Ujug-ujug Yu Kus ngomong seru karo tangané nggeblag méja.
“Kuwèh…jaré aku si apa !. Bu Neneng kuwé jelas dudu wong bener. Masa mangkat bareng maring pasar, janjiné pan masak,ééé…ditinggal Bapak tuku pakan manuk, terus minggat. Wong wadon apa kaya kuwé ?. Tapi aku wa-ni totohan, Bu Neneng mesthi lunga mengulon….”
Yu Kus emosi temenanan. Weruh Yu Kus emosi kaya kuwé,kabèh padha meneng. Kabèh wis padha ngarti, angger YuKus lagi emosi , langka sing wani ngadhepi.Bisa-bisa dadi tukaran lan salin musuh. Mas Gun menyat manjing jero njukut banyu putih sing kulkas,terus njagong maning karo nginung. Mas Wondo nyuled udud. Weruh sedulur-seduluré padha meneng langka sing ngomong,Yu Kus ngomong maning.
“Sing mau, gèn sing mau !. Aku kan mau èsuk ngomong. Wondo ya ngomong. Mari kita lacak dan kita usut latar belakang dan asal usul Bu Neneng…Tapi Si Gun ora setuju. Moniné ora etis. Mbokan Bapak tersinggung.Buktiné ??..Wis saiki kaya kiye baé. Kita kudu cepet golèt informasi.Kalau perlu kamaré Bapak dibuka. Kalau perlu lemariné sisan….”, jaré Yu Kus atos.
“Maksudé?”, Mas Slamet takon.
“Sapa weruh ana surat ….utawa catetan …utawa tulisan. Pokoké apa baé barang
sing bisa nggo petunjuk,Bu Neneng kuwé sejatiné sapa, terus alamaté nang endi…”
Pancèn. Pendapaté Yu Kus masuk akal. Tapi angger kudu mbuka kamar karo lemariné Bapak?. Wah, nyong ya ora pati setuju..Awit cilik mula, awit Ibu tèsih urip, kamaré Bapak karo Ibu ibaraté panggonan sing suci.Maksudè ora sembarang waktu enyong sasedulur manjing mono.Embuh sebabé apa.Tapi sikap kaya kuwé ndèyan wujud rasa hormaté nyong kabèh maring wong tuwa.Rumangsa yèn seduluré ora pati setuju, Yu Kus ngomong maning. Nadané serius karo mandeng sedulur-seduluré siji-siji.
“Mas Met…Gun..,aku dudu kewanén utawa kurang ajar maring wong tuwa.. Tapi kiyé kondisiné darurat. Demi keslamatan bapa, apapun harus kita lakukan”.
Suwasana dadi sepi. Kaku. Mung suwara jam dinding baé sing kayong keprungu. Waktu kuwé wis jam setengah papat.Ujug-ujug Yu Kus gemboran ngundang-undang Bi Dasmi sing lagi nang dapur .Bi Dasmi gagiyan marani.Praèné katon wedi campur bingung.Apa maning awit mau dhèwèké weruh yèn Yu Kus lagi emosi. Bi Dasmi dikongkon njagong nang sebelahé Yu Kus.
“Bi Dasmi !. Kiyèh njagong kéné !.Nyong pan ngomong karo sampéyan. Sampéyan ngarti o ya, saiki lagi ana masalah sing pelik. Masalah sing gawat.Saiki aku arep takon. Bi Dasmi weruh oya, Bu Neneng sering mréné ?”
“Enggih Nok, tapi arang-arang. Sing sering sumerep Si Tarmunah”
“Tar !. Méné !”, Yu Kus ngundang Tarmunah,putuné Bi Dasmi sing lagi nyiram tanduran nang latar. Tarmunah gagiyan mlayu marani. Dhèwèké ora wani manjing, mung ngadeg amping-amping nang pinggir lawang.Weruh wong-wong padha kumpul, apa
maning ndeleng mboktuwané uga ana nang kono, Tarmunah katon wedi. Rainé tegang.
“Kiyèh Tar…Jawab sing bener ya. Kowen sering weruh o ya, Bu Neneng sokan mréné?”. Tarmunah manthuk. “Terus, angger Bu Neneng mréné, kowen weruh o ya,dhèwèké sokan manjing kamaré Bapaké ?”. Tarmunah manthuk maning. “Coba Mas,…wong séjén baé wani-wani manjing kamaré Bapak…lha ka anak-anaké ka langka sing wani ?”, jaré Yu Kus maning, ngèin argumentasi sing pas nemen.
“Tar,kowen weruh umahé Bu Neneng nang endi?”,Mas Slamet ganti sing takon.
“Trosé teng Crebon”
“Nang Cirebon….?”, Yu Kus ngomong setengah njerit. Nyong kabèh padha kaget.Ora ngira babar pisan yèn Bu Neneng umahé nang Cirebon. Tapi Cireboné nang endi?. Apa nang kota,apa nang kabupaten…Terus nang jalan apa..kampung apa..Cirebon kan luas?. Tapi Tarmunah weruhé mung nang Cirebon. Alamaté nang endi , ora ngarti. Yu Kus sangsaya napsu kepèngin ngarti luwih jelas latar belakangé Bu Neneng. Tarmunah dikongkon manjing, terus dikongkon njagong nang ngingsor.Tarmunah diinterogasi persis kaya tahanan sing lagi dipriksa daning pulisi. Tarmunah ditakoni werna-werna ,sing nyangkut hubungané Bapak karo Bu Neneng. Apa baé ditakokna. Nyong ora ngira jebulé akèh nemen hal-hal sing ora tak sangka sing bisa terungkap. Malahan Tarmunah uga crita yèn Bu Neneng uga wis tau nginep. Bu Neneng malah tau crita maring Tarmunah yèn dhèwèké duwé anak loro. Wadon karo lanang. Sing wadon wis kerja dadi artis nang Jakarta. Sing lanang tèsih cilik umuré 5 taun. Tarmunah,bocah wadon sing umuré nembé rolas taun, tèsih murni, njawab apa anané. Apa maning Yu Kus olihé takon ndhedhes-ndhedhes njlimet nemen.
“Kowen ya ngarti yèn Bu Neneng arep dibojo daning Bapaké?”
Tarmunah ora langsung njawab. Nglirik maring mboktuwané. Tapi akhiré ngomong karo ndregdheg.
“Enggih,ngertos. Tapi sing sanjang Bu Neneng piyambak. Bapaké tah mboten naté sajang”.
“Umah kiyé pan didol ya kowen ngarti?”
“Ngertos. Malah trosé Bu Neneng , mangké angger Bapaké sampun nikah badhé dijak pindhah teng Cirebon….”
“Adong wis kawin pan dijak pindhah maring Cirebon ??. Edan !. Dhasar wong wadon ora bener… Mas Met,Gun,Ndo karo Pram…..Krungu dhèwèk oya..rencana busuké Bu Neneng??”, Yu Kus ngomong suwarané dhuwur karo tangané geblag-geblag méja. Tarmunah kewedinen, rainé pucet. Bi Dasmi kagèt.Lambéné gemeter karo ngomong “Tar-Tar…jebulé kowen weruh kabèh.? .Bisané kowen ora tau crita..??” Tarmunah ndhingkluk karo matané dlawèran. Nangis ngguguk-ngguguk.
Saiki kabèh wis gamblang.Cetha wèla-wèla.Informasi ngenani BuNeneng mulai jelas. Tarmunah ora mungkin goroh. Weruh Tarmunah nangis Yu Kus ngongkon metu nerusna nyiram tanduran. Bi Dasmi melu metu terus ngrangkul putu wadoné.
“Berarti bener. Bapak maring terminal pan maring Cirebon.Muga-muga baé Bapak bisa ketemu karo Bu Neneng”, Mas Gun ngomong maring nyong.
“Filing-é aku ya cocog Mas. Bapak mesthi nyusul Bu Neneng. Tapi sing tak kuwatiri Bu Neneng ora balik maring umahé. Bu Neneng sengaja menghindar.Akhiré Bapa mung muter-muter nang Cirebon”, jaré mas Wondo.
“Ya, tapi sing tak suwun muga-muga baé Bapak bisa ketemu Bu Neneng,terus masalahé bisa di-klir-aken. Dadi Bapak bisa cepet-cepet balik”, nyong ngomong nggo ngadhem-ngadhemi sedulur. Tapi Yu Kus ora bisa nrima omongané nyong.
“Tapi aku malah kuwatir. Bareng teka nang umahé Bu Neneng Bapak digandhuli ora olih balik, terus dipaksa nginep”
“Terus maksudé apa Yu ?”
“Pram, Pram…, sapa weruh Bu Neneng duwé rencana jahat. Kiyèh sedulur-sedulur….aku duwé firasat ala. Sing mau kepèngin tak omongna, tapi aku kuwatir sedulu-sedulur ora percaya. Bareng situasiné wis ruwed kaya kiyé, aku kudu ngomong. Sebabé apa Bu Ning ninggalaken bapa nang pasar ?”, Yu Kus ngomong kaya kuwé karo mripaté mendelik, nyawang rainé seduluré siji-siji. Terus ngomong maning, suwarané alon tapi tegas.“Firasaté aku, Bu Neneng menggunakan kesempatan lunga maring pasar kanggo meres Bapak”. Nyong karo kakang-kakang lanang njimprak. Kagèt kaya kesetrum listrik.
“Yuh, disimak maning sing tliti kesaksiané Tarmunah. Bu Neneng kan tau ngomong maring Tarmunah : mengko adhong wis kawin, Bapak arep pindhah maring Cirebon.Apa artiné?. Artiné, angger umah kiyé wis payu,dhuwit sing 45 juta bagiané Bapak ora pan nggo tuku umah cilik sesuai kepènginé Bapak. Tapi Bapak pan ngalih maring Cirebon, mèlu Bu Neneng karo nggawa dhuwit sing semono akèhé…… Terus……angger dhuwit wis dikuwasai Bu Neneng , Bapaké dhèwèk didepak. Wong wadon modèl Bu Neneng kuwé tipu muslihaté macem-macem.Canggih.Sementara, Bapaké dhèwèk kan wongé lugu,jujur,lempeng”
Nyong ora ngira Yu Kus duwé logika lan analisa sing landhep kaya kuwé. Senajan ujung-ujungé nglahiraken kecurigaan sing ala, tapi nang jero ati nyong ngalem maring sedulur wadon sing duwé pemikiran luas kaya kuwé. Mas Slamet awit mau mung meneng nggethem. Mas Gun karo Mas Wondo ya katoné ora wani komentar.Muga-muga kabèh bisa nrima pemikirané Yu Kus. Suwasana balik maning adhem.Kabéh klelep manjing maring angen-angené dhèwèk-dhèwèk. Weruh seduluré mung padha meneng thok, Yu Kus ngomong maning.
“Mulané ,ayo padha mbuka kamaré Bapak. Muga-muga bisa nemokna titik terang apa sing sabeneré terjadi antara Bapak karo Bu Neneng. Sapa weruh ana petunjuk sing bisa njelasaken,nang endi alamat lengkapé Bu Neneng nang Cirebon”
Mas Slamet ndhisiti menyat , kabèh padha mèlu marani kamaré Bapak. Jebulé kamaré Bapak ora dikunci. Wong lima sek-sekan manjing kabèh nang kamaré Bapak. Kamar sing ukurané gedhé, kabèh katon rapi. Dipan jati sing dilapisi formika modhel lawas, sprei karo sarung bantalé batik Pekalongan. Nang pojokan kasur ana slimut lèrèk,sarung plékat sing dilempit rapi. Nang kapstok nduwur dipan ana klambi koko putih karo cindung. Ambu balsem gandapura campur aroma parem beras kencur krasa khas nyogok nang cungur. Ambu sing nandhakna kamaré wong tuwa. Terus ana lemari gèndhong kayu jati,jèjèr karo meja rias. Nang meja rias, ana potrèté Bagus karo Sunu,anak-anaké Mas Slamet. Terus ana maning potrèté anak-anaké Yu Kus, Yayang karo Vina. Anak wadoné Mas Gun sing arané Salsa. Potrèt putu-putuné Bapak, bocah cilik-cilik sing lucu-lucu. Nang pareké potrèt sing dijèjèr-jèjèr ana pomid,lenga wangi klonyo, semir rambut,lenga gandapura,pupuh mata lan barang-barang cilik sèjèné. Nang
dhuwur meja tulis cilik ana mesin tik portabel. Persis nang dhuwuré meja ana potrèté Bapak karo Ibu digantung rada endhep. Dadi angger Bapak lagi nulis utawa ngetik,bisa karo nyawang potret kuwé. Bapak nganggo seragam dines Kabupaten, ibu nganggo seragam Dharma Wanita.Nang jèjèr mesin tik ana tumpukan majalah,koran karo map sing isiné kertas. Mas Slamet mriksa map karo kertas-kertas , terus ujug-ujug dhèwèké kaget karo ndhodhokna 2 lembar surat tik-tikan. Jebulé surat kuwé tik-tikan asli sing fotokopiné dikirim maring enyong karo sedulur-sedulur. Terus sing jero map ana maning kertas fotokopi sertipikat umah karo selembar surat kuwasa.
“Wah..Kiyé ana surat penting nemen. Ternyata Bapa ngéin surat kuasa maring Bu Neneng”, Mas Slamet ngomong serius nemen.
“Bu Neneng dingèin surat kuasa?. Surat kuasa nggo apa ?. Wadhuh,wadhuh,…”, Yu Kus takon kayong ora percaya. Mas Slamet nyekel surat kuwé,terus diwaca.“Tenang Nok…tenang kowen aja ribut ndhisit. Kiyèh rongokna”, Mas Slamet maca alon-alon.
“Yang bertandatangan dibawah ini, Nama…Ramelan Wirjoatmodjo, Umur 56 tahun, pekerjaan Pensiunan Pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal, alamat Jalan Kejambon Tegal…dengan ini memberi kuasa penuh kepada nama, Ny. Neneng Yunengsih, umur 36 tahun ,pekerjaan ibu rumah tangga,alamat….lha kiyé sing penting…Jalan Kilari Nomer 18 RT 7/IV Kelurahan Palimanan, Kecamatan Palimanan Kabupatèn Cirebon. Untuk pertama,menawarkan penjualan sebuah rumah berikut tanah pekarangan yang terletak ..lan saterusé…..terus kedua, melakukan transaksi penjualan atas rumah sebagaimana tercantum…lan saterusé”. Bar maca kertas kuwé Mas Slamet gèdhèg-gèdhèg. Weruh kaya kuwé, Yu Kus balik maning mucu-mucu.
“Anèh…ora masuk akal. Dhongé Bapak diapakaken karo sing arané Bu Neneng. Masa ujug-ujug Bapak ngèin surat kuasa nggo ngadolna umah maring wong wadon sing Cirebon?. Pasti ora sawajaré…aja-aja Bapak wis kena guna-guna .Bener jaré wong-wong. Sing arané wong wadon Cirebon kuwé pinter-pinter ilmuné….”
“Mengko ndhisit Yu. Aja langsung nudhuh sing kaya kuwé”, Mas Gun sing
bojoné wong Karangampel krungu Yu Kus ngomong kaya kuwé rada tersinggung. “Kiyèh..surat kuasa kuwé angger tak saring-saring, pancèn poin-poin-é kayong ora lazim. Coba Mas Slamet,poin kedua diwaca maning. Angger ora salah, moniné…..melakukan transaksi penjualan, .. berarti…….Bu Neneng berhak juga dong, menerima pembayaran…iya Mas Gun?”, Mas Wondo ngomong serius nemen, nggawé sing ngrongokna padha kagèt.
“Dadi …?? Menurut kowen minggaté Bu Neneng, kemungkinan besar disebabna umah wis payu.Sudah terjadi transaksi penjualan, dan uang sudah diterima Bu Neneng Wadhuh, cilaka angger kaya kuwé tah…”,Yu Kus ngomong kethus.
“Tenang si Yu,tenang. Ora segampang kuwé melaksanakan sing arané transaksi jual beli rumah . Aja su’udon ndhisit. Untuk melakukan transaksi penjualan umah karo tanah ,paling ora kudu disetujui karo anak-anaké Bapak. Kuwé kan harta gono-gini-né Bapak karo almarhumah Ibu. Sedangkan Bapak karo Ibu meninggalkan keturunan utawa ahli waris. Dadi ora bisa gampangan kaya kuwé”, Mas Gun ngadhem-ngadhemi Yu Kus karo Mas Wondo.
Rupané Mas Slamet mbatesi pengglèdhan kamar ora nganti mbuka lemari karo ngudhal-udhal laci. Sing penting wis olih informasi soal Bu Neneng. Kabèh padha metu
sing kamar.Nyong sing paling kari.Apèn-apèn mbèrèsi tumpukan kertas, nyong mbuka laci meja tulis sing paling sor.Nyong kagèt weruh ana amplop surat..Mbuh kenang apa, waktu kuwé nyong reflek njukut amplop sing rada kandel kuwé terus tak anjingna sak clana.Nyong gaiyan metu,nggabung maning karo sedulur-sedulur nang ruang tamu.
“Kaya kiyé baé”, Mas Slamet mbuka omongan.”Kita nunggu tekané Bapak nganti jam lima. Sukur-sukur sadurungé jam lima Bapak wis nelpon.Angger nganti jam lima durung ana kabar sing Bapak , Gun karo Pram nyusul Bapak maring Cirebon. Alamaté Bu Neneng kan wis padha weruh… “
Kabèh setuju usulané Mas Slamet. Waktu kuwé wis jam setengah lima.Bi Dasmi karo Tarmunah wis rampung bersih-bersih pekarangan karo nyiram tanduran. .Yu Kus ngandhani Bi Dasmi karo Tarmunah aja balik ndhisit, bareng-bareng ngentèni tekané Bapak. Ngentèni Bapak teka??. Ya, muga-muga baé Bapak teka temenan….
4
Jam 4.50. Soré wis mudhun nang Jalan Kejambon.
Soré sing ngudhunaken rasa gelisah ngrasup maring atiné anak-anaké Bapak.Enyong karo Mas Gun wis tata-tata arep maring Cirebon. Ora bisa mbayangaken apa sing bakalé tak tamoni mengko 2 jam maning angger nyong karo Mas Gun wis tekan Palimanan. Atiné nyong wis mantep yèn nyong kudu bisa ketemu karo Bapak bengi kuwé. Ora mung ketemu, tapi nyong kudu ngarti apa sing wis kedadian antarané Bapak karo Bu Neneng. Terus bisa olih jawaban sebabé apa Bapak karo Bu Neneng pisahan nang Pasar Esuk lan wong loro padha ngilang nganti enyong sasedulur padha ribut dhèwèk..Nang jero ati nyong ora yakin maring penemuné Yu Kus,yèn Bu Neneng kuwé minggat nggawa dhuwit olih hasil mayokna umah.Nyong babar pisan ora percaya.
Lagi pikirané nyong mblayang kaya kuwé, ujug-ujug nyong krungu suwarané Bi Dasmi sing gemboran karo kèprèh-kèprèhan.
“Nok Kus, Mas Met…Mas Gun !. Niki Bapaké…Bapaké kondur….!!”..Wong lima gagiyan padha mlayu metu sing umah. Nang lawang gerbang kedeleng ana becak manjing pekarangan. Tukang becaké mudhun,terus becak disurung tekan ngarep lawang. Yu Kus karo Mas Slamet gagiyan nggandhéng tangané Bapak mudhun sing becak. Bapak dituntun manjing, dijagongna nang dipan sing ana nang ruang tengah,sing biasa nggo lèsèhan karo nonton TV. Kabèh padha ngrubung.Bapak katon lesu nemen,rainé pucet.Bi Dasmi nggawa banyu putih terus dinungna Bapak.
“Bapak sing pundi mawon si Pak…daning ngantos sonten?.Sagedé Bapak mboten telpon…kulo sedoyo kan dadosé panik…?”, Yu Kus takon karo nyikep tangané Bapak. .Bapak meneng ora nyauri.Mung gèdhèg karo ngunjal ambekan..
“Dalem sedaya sami kuwatos Pak. Bapak mboten kènging napa-napa Pak ? Terus saniki Bu Neneng teng pundi?”, nyong takon, maksudé supaya Bapa gagiyan kandha, sebabé apa Bapa lunga nganti suwé nemen.Sawisé nyawang anaké siji-siji,Bapak ngomong alon-alon,suwarané gemeter.
“Embuh Pram, Bapak dhèwèk ora ngarti….Bapak bingung…kèder.Mau ésuk kan aku lunga bareng karo Bu Neneng. Sing umah langka masalah apa-apa. Bapak malahan seneng nemen.Bisa ngenalaken Bu Neneng karo kowen kabèh. Apa maning Bu Neneng kandha arep masak soto kesenengané Bapak.Bareng wis ngater Bu Neneng manjing los
pasar, aku maring kios manuk pan tuku pur karo kroto.Janjiné angger wis rampung blanja, dhèwèké nyamper nang kios burung”. Tekan semono ngomongé Bapak mandheg. Nyong kabèh padha pating pendongong, ora sabar ngentèni crita saterusé .Bapak dhèhèm-dhèhèm. Ambekané rèngosan. Rupané Bapak nahan perasaan sing abot nemen. “Terus Bapak ngentèni nang kios burung.Nganti suwé nemen,.Bu Neneng ora teka-teka.Tarus bapa nggolèti mubeng-mubeng nang jero pasar.Ya ora ketemu. …”
“Lajeng Bapak wangsul malih teng kios burung.Ngentosi teng ngriku ngantos dangu. Lajeng ?”, Mas Wondo nerusna critané Bapak padha karo sing dicritakna tukang burung sing arané Pak Sa’il.
“Bapak ya bingung. Terus Bapak takon-takon karo tukang-tukang becak sing padha mangkal nang kono, mbokan ana sing weruh Bu Neneng. Kebeneran tukang becak langganané bapa sing arané Si Nur kandha yèn dhèwèké mau tes ngaterna Bu Neneng maring terminal”
“Dados Si Nur niku tepang kalih Bu Neneng?”,nyong takon.
“Ya kenal, wong Bu Neneng sering numpak becaké Si Nur. Krungu kandhané Si Nur yèn dhèwèké tes ngater Bu Neneng maring terminal, bapa kagèt nemen. Dhongé Bu Neneng kenang apa?. Bapa bingung. Penasaran. Mulané tanpa mikir maning Bapak gagiyan nyusul maring terminal . Sapa weruh Bu Neneng durung numpak bis”
“Bu Neneng niku griyané teng pundi?”, Mas Gun apèn-apèn takon.
“Lho,dadi durung padha ngarti umahé Bu Neneng ?”
“Dèrèng. Wong Bapak dèrèng ngendika…”
“Bu Neneng kuwé umahé nang Palimanan, sing Cirebon ngulon.Kurang luwih pitulas kilometer. Bareng nyong tekan terminal Bu Neneng wis ora nana. Ya wis, aku langsung numpak bis jurusan Bandung maring Palimanan”
“Lajeng?. Bapak kepanggih BuNeneng teng griyané ?”
Suwé Bapak ora njawab. Karo ngunjal ambekan jero nemen,akhiré Bapak ngomong.
“Tekan kana, Bu Neneng ora nana. Malahan umahé kuncinan. Jarè tangganè, Bu Neneng lunga awit wingènané. Ya wis…Bapak tambah mumet”
“Lajeng Bapak kondur dhateng Tegal malih?”
“Iya. Bapak nganti kesel nemen..kesel…Aku kesel…”. Bapak ngomong alon-alon, suwarané lirih, mèh ora keprungu. Bar ngomong kaya kuwé, matané Bapak merem. Ketara yèn dhèwèké bener-bener kesel kentongan tenaga.Rupané ora mung fisiké sing loyo tapi mentalé Bapak uga anjlog. Yu Kus sing njagong nang iringané Bapak ora mampu nahan perasaané. Kontan dhèwèké nangis ngguguk-ngguguk , rainé nang pangkuané Bapak. Mas Gun karo Mas Wondo ndhodhok nang ngisor padha nyekel sikilè Bapak. Mas Slamet ngadeg sedhakep karo mbrebes mili. Nyong sing njagong nang korsi ora tegel nyaksèni adegan sing ngenes kaya kuwé. Nyong ora ngira babar pisan yèn rencanané Bapak akhiré mung ndadèkna Bapak nemoni kesedhihan sing jero nemen. Ora mung Bapak sing menderita remuk ancur lair kelawan batin. Tapi anak-anaké Bapak sing mauné duwé pengarep-arep sing gedhé nemen. Pengarep-arep olihé padha kepèngin weruh uripé Bapak luwih bahagia nganti tutup yuswa. Bayangna…wolung jam luwih , awit jam sanga ésuk nganti wayaméné nyong kabèh terlibat maring konflik batin lan adu pendapat karo sedulur sing ora genah ujung pangkalé.Adu pendapat sing kaya-kaya bisa
gawé renteng wutuhé seduluran sing wis dipupuk awit tesih padha cilik-cilik. Saiki mung bisa nyaksèni Bapak sing tak kira tèsih sehat perkasa, jebulé mung sosok tuwa sing wis loyo , lèmpoh ora duwé daya…..
Suwara watuké Bapak mecahna suwasana soré sing sintru nang ruang tengah.Bapak mbuka mripaté. Yu Kus njenggèlèk terus nyekel tangané Bapak.
“Bapak siram rumiyin nggih Pak. Bapak kedah istirahat. Bapa kan dèrèng dhahar?. Monggo Pak, siram toya anget, terus mangké dhahar sareng-sareng”
Yu Kus ngajak bapa manjing kamar salin pakéan. Terus dituntun maring kamar mandi. Tarmunah nggawa èmbèr banyu panas. Bapa adus ditunggoni YuKus nang ngarep kamar mandi.
Mas Slamet ngajak nyong ,Mas Gun karo MasWondo maring ruang tamu.Kabèh katon rainé padha pesuh. Mas Slamet njaluk pendapaté adhi-adhiné gandhèng karo kondisiné Bapak.Terus takon kapan pan padha balik.Soalé ngèsuk dina Senen mesthiné kabèh kudu padha manjing kerja.Akhiré disepakati ,ana sing balik,ana sing kudu ditinggal nunggoni Bapak sing kesehatané nguwatiraken. Rencanané Mas Slamet arep balik maring Semarang bubar subuh. Mas Wondo sing umahé parek nang Pemalang pan balik engko bengin-bengian. Dhèwèké ora tega ninggalna bojoné karo bayi sing nembé telung wulan. Mas Gun ya rencanané balik rada awan jam wolunan.Nyong karo Yu Kus sing ditinggal nganti kondisiné bapa stabil..
“Aja klalèn kowen disempatna golèt informasi mengenai Bu Neneng. Palimanan kan parek sing Indramayu”, Mas Slamet ngomong rada wisikan maring Mas Gun.”Tapi aja sampé yang bersangkutan ngarti.Pokoké sing rapi”
“Kebeneran aku duwé kanca nang Palimanan. Aku bisa takon-takon utawa kongkonan kanca nggo nyelidiki Bu Neneng. Pokoké bèrès. Mengko kabèh tak ngèin kabar”
“Muga-muga background-é Bu Neneng bisa diungkap sajelas-jelasé Mas.Aku ya berusaha ngarti sapa anak wadoné Bu Neneng sing nang Jakarta. Sukur-sukur nyong bisa kenal dadi luwih lengkap”, nyong ngomong karo ndukung nemen gagasané sedulur-sedulur. Nyong dadi kèlingan amplop surat sing tak jukut sing laci meja tulisé Bapak. Amplop kandel sing nganti saiki tèsih tak sak durung kober tak waca.
“Aku sing mau kepikiran maring pekerjaan Bu Neneng sing ditulis nang surat kuwasa. Ibu Neneng Yunengsih, umur 38 taun , pekerjaan Ibu rumah tangga. Berarti dudu randa dong?”, jaré Mas Wondo.
“Ibu rumah tangga kuwé bisa bersuami juga bisa janda. Pati-pati arep nikah karo Bapak berarti ya randa”, Mas Slamet nyelani.
“Sing jelas, dhèwèké relatif tèsih katon nom. Tèsih katon ayu,terpelajar.Terus saiki arep dikawin seorang pensiunan sing umuré sèket nem .Anaké lima, putuné nem. Akh…Kayong ora manjing akal. Kecuali ana sesuatu hal sing istimewa. Pribén jaré sampéyan Mas Met?”, MasWondo ngomong wisikan karo matané sadhèlat-sadhèlat nglirik maring lawang, mbokan Yu Kus metu..
“Wis, masalah kuwé aja dibahas ndhisit.Sing penting saiki kepribèn memulihkan kondisiné Bapak. Mulané mengko angger Bapak wis dhahar karo istirahat,dirembug sing alus.”
Ora let suwé keprungu Adzan Maghrib sing mushola.Buru-buru enyong kabèh padha adus terus sholat bareng nang pesholatan. Bapak karo Yu Kus ya mèlu sholat. Mas Slamet sing ngimami. Embuh wis pirang taun nyong sasedulur ora sokan diparingi kesempatan sholat bareng kaya kuwé. Rasa sedih,bangga,terharu campur adhuk dadi siji mujudaken suwasana khusyu’ sing luar biasa. Kabèh sujud temungkul, pasrah nang ngarsané Gusti Allah. Maghrib kuwé nyong sholat karo mbrebes mili. Sawisé salam nyong sasedulur ora mung ngambung tangané Bapak, tapi padha sujud nyembah nang dhengkulé Bapak. Terus kabèh padha rerangkulan,sikep-sikepan. Bapak rupané terharu,ndeleng anak-anaké tetep padha rukun . Tak deleng Bapak ngusapi mripaté sing
ngecembong banyu mata.
Suwasana rukun ,padha saling éman lan bebrayan, diterusna maning nang acara mangan bengi. Yu Kus ngusulna bengi kuwé mangan nang jaba. Kabèh padha setuju ngajak Bapak mangan soto Sedep Malem nang Talang.. Nganggo mobilé Mas Gun wong nem mangkat maring Talang. Kanggo sawetara kabèh kepèngin padha ngilangakèn masalah ruwed sing ujug-ujug teka ngglibed nang keluawargané nyong. Embuh wis pirang taun nyong karo sedulur-sedulur ora tau kumpul njajan soto bareng kaya bengi kuwé. Maklum bareng wis padha rumah tangga lan manggon pisah-pisahan, kabèh padha sibuk urusané dhèwèk-dhèwèk. Mulané bengi kuwé nyong kabèh kepèngin padha seneng-seneng, terutama nyenengna atiné Bapak sing katoné tèsih kecewa daning peristiwa mau awan. Mas Slamet nyoba nggawé suwasana supaya gembira.
“Aku dadi kèlingan lagi pertama olih bayaran. Sebagai karyawan honorer nang kantor P dan K nang Semarang , bayaranku mung 16 èwu.. Leres nggih Pak ?”. Bapa ora
njawab mung mèsem thok.
“Terus mas Met ngajak nyoto.. o ya..?. Waktu kuwé sapa baé ya?”, Yu Kus kèlingan..
“Waktu kuwé kabèh mèlu kepèngin ditraktir.Persis kaya saiki…..”, nyong sing njawab.
“Iya,ya.Lucuné,bareng arep mbayar jebulé dhuwité kurang. Akhiré Bapak sing nombok…nggih Pak..?”. Mas Slamet gemuyu ngakak.Wong semobil gemuyu kabèh.
“Dadi kiyé mengko sapa sing mbayar?. Mas Met maning apa Mas Wondo?”, nyong nyoba nglucu.
“Aja….Pegawé negri ora olih nraktir.Sing mbayar…bos urang baé”, jaré Mas Wondo nglèdèk Mas Gun. Kabèh gemuyu ger-geran..Mas Gun, sedulur paling sugih sing sering dijuluki bos urang mung manthuk-manthuk karo gemuyu.
Balik sing nyoto suwasana wis rada èncèr. Bengi kuwé nang ruang tamu padha ngobrol sing lucu-lucu, mbagi pengalamané masing-masing, kayong rakhat nemen.Yu Kus nyedhiakna tèh poci karo martabak Lebaksiu olih tuku nang pasar Banjaran. Ditambah pilus karo krupuk anthor Ujungrusi olih nggawané Bi Dasmi ndadèkna obrolan sangsaya luged. Sadurungé padha ngomong rencana kapan pan padha balik, Bapak wis ndhisiti takon. Bareng krungu rencanané Mas Slamet karo Mas Gun arep balik mbesiki, Mas Wondo pan balik mengko bengi-bengian,nyong karo YuKus sing arep balik kèri, bapa ngomong.
“Lhah, daning rundingan rencanané Bapak durung rampung wis pan padha balik”. Rada suwé ora nana sing njawab. Yu Kus langsung rainé brobah.Mas Gun
njagongé mulai gelisah.Mas Wondo nyuled udud. Bapak ngomong maning.
“Sabeneré Bapak ora kepènak karo kowen kabèh. Apa sing mauné tak bayangaken bakal nggawé bungah,jebulé malah dadi padha susah.Aku gela nemen.Tapi muga-muga baé kapan-kapan bisa dirunding maning nganti mateng”
“Maksudipun Bapak…..?”, Yu Kus takon.
“Ya,muga-muga baé Bu Neneng gagiyan teka mréné. Bapak kepèngin ngarti sing sabeneré. Mulané pan tak entèni sedina loro.Aku yakin Bu Neneng pasti teka mréné.”
“Dados Bapak saèstu mboten ngertos sebabé nopo Bu Neneng ngantos ninggalaken Bapak teng peken ?. Nopo Bapak kalih Bu Neneng wau mboten cekcok, utawi salah paham,utawi tersinggung..nopo kadospundi?. Dados, saèstu panjenengan mboten ngaertos sebabé?”
“Ora ngarti babar blas, Nok. Mulané aku penasaran. Aku wis paham nemen wateké Bu Neneng .Bu Neneng kuwé selalu terbuka maring Bapa Dadi ora mungkin dhèwèké duwé pikiran sing macem-macem. Pasti ana sesuatu masalah sing banget-banget penting. Embuh masalahé apa …Bapa justru kuwatir maring Bu Neneng, mbokan kenang apa-apa”
Krungu jawabané Bapak kaya kuwé nyong dadi kèlingan amplop surat sing tak jukut saka laci meja tulisé Bapak. Amplop sing nganti saiki durung kober tak waca. Mung nyong sempet mbuka sadhèlat,isiné surat-surat sing Bu Neneng. Malahan ana fotoné Bu Neneng karo anak-anaké.Ah, ndéyan angger nyong wis sempat maca surat-suraté Bu Neneng tah nyong bisa ngarti, apa bener Bu Neneng kuwé kaya sing diomongna Bapak. Nyong malah kuwatir, aja-aja Yu Kus bakal ngomong, yèn kabèh
wis padha weruh sapa sejatiné Bu Ning kuwé. Dhèwèké umuré 38, anaké loro, terus nyekel surat kuwasa adol umah lan saterusé. Bisa-bisa angger pribadiné Bu Neneng kaya sing diomongna Tarmunah diungkap nang ngarepé Bapak, Bapak malah tambah frustasi. Untung Mas Slamet tanggap situasi.Dhèwèké langsung ngomong.
“Dados rencanané Bapak salajengé kados pundi?”
“Bapak tetep arep ngentèni Bu Neneng.Bapak kepèngin klarifikasi.Angger nganti rong dina ora mréné, Bapak pan nggoleti nang umahé maning.Bapak kan weruh wong tuwané karo sanak familiné kabèh. Lha mengko angger wis jelas duduk perkarané,Bapak ngabari kowen kabèh”
“Lajeng perkawis sadé griyo ?. Nopo Bapak sampun kepanggih langsung kaliyan calon pembeli?. Nopo nganggé calo utawi perantara ?”, Yu Kus takon. Enyong ngarti arah omongané Yu Kus. Mas Slamet,mas Gun karo mas Wondo kayané mbadhèk, yèn Yu Kus bakal mbuka omongan perkara surat kuwasa sing dicekel Bu Neneng.Mulané tak deleng rainé padha tegang. Padha kuwatir mbokan bapa tersinggung.Tapi jebulé ora. Ditakoni Yu Kus kaya kuwé Bapak malahan mèsem. Sawisé ngunjal ambekan dawa nemen Bapak ngomong.
“O ya, Bapak durung sempat njelasna. Sabeneré, antara penjualan umah karo rencana pernikahané aku karo Bu Neneng kuwé ana hubungané. Ana gandhèng cèwèngé. Saling berkaitan satu sama lain”
“Maksudipun Bapak ?”, Mas Gun takon.
“Dadi kaya kiyé. Mauné Bapak babar pisan ora duwé pikiran arep ngadol umah. Lha bareng sangsaya parek hubungan karo Bu Neneng,terus duwé
rencana kepèngin urip bareng, suwé-suwé timbul niat pan adol umah”
“Nuwun sèwu Pak……”, Yu Kus ujug-ujug ngandheg omongané bapa.”Rencana sadé griyo niku,saleresé inisiatifé Bapak nopo Bu Neneng?”
“Inisiatifé wong loro.Inisiatifé Bapak timbul saka pemikiran-pemikiran kaya sing tak tulis nang surat.Umah kiyé wis kurang manfaat tumrapé Bapak.Bapak ora butuh umah sing saméné gedhéné.Ibaraté, umah kiyé malah dadi beban. Lha Bu Neneng duwé pemikiran sing apik. Apik nemen. Bu Neneng rumangsa ora kepènak angger wis nikah karo Bapak, terus manggon nang umah kiyé. Mesthiné kowen ya padha keberatan. Umah kiyé kan tinggalané jenaté ibumu. Dadi supaya mbésuk-mbésuk aja dadi masalah, umah kiyé apiké didol. Sebagian nggo Bapak kanggo tuku umah maning sing luwih cilik.Sebagian arep tak serahna kowen kabèh”
Penjelasané Bapak sing rada ngalem maring Bu Neneng ,ndadèkna nyong sangsaya penasaran maring sosok sing arané Bu Neneng. Disamping kuwé, ana pitakonan sing muncul, bisané Bu Neneng sing dingèin surat kuasa nggo ngadol umah kiyè?. Tapi nyong ora wani takon maring Bapak. Kabèh kakangé nyong ya padha baé. Langka sing wani nakokna masalah surat kuasa.Padhahal kabèh mesthi kepèngin weruh apa sebabé. Maning-maning mung Yu Kus sing wani takon, senajan takoné mlipir-mlipir ora langsung maring sasaran.
“Lajeng, Bapak pados pembeli piyambak nopo nganggé perantara?”
“Mmm…kebeneran bu Neneng kuwé akèh relasiné. Pejabat-pejabat pemerintahan, mantan pejabat, pengusaha-pengusaha….akèh sing kenal. Dadi
Bapak njaluk tulung Bu Neneng tak kongkon masarna. Angger sing mayokna Bu Neneng
kan ora kudu ngèin komisi……”, jaré Bapak karo gemuyu tapi cemplang. “Malah wis ana calon pembeliné , kaya sing wis tak omongana. Arané Pak Tomas , distributor pabrik jamu sing Solo. Minggu mau Pak Tomas karo staf-é wis ngontrol mréné.Langsung cocog.Jaré tah arep nggo mes karyawan karo gudang. Pak Tomas kuwé sing nganyang 120 juta. Tapi bapa tetep njaluk 125 juta”.
“Tapi nuwun séwu Pak. Biasané kan menawi tiyang dados perantara kedah nganggé surat kuasa,lajeng mbekto fotokopi sertifikat. Nopo Bapak nggih maringi surat kuwasa dateng Bu Neneng?”, yu Kus takon maning, tapi nada suwarané ketenger curiga.
“O ya..Apa maning bu Neneng kan wong berpendidikan.Dadi ora gelem sembara-ngan. Sabeneré Bu Neneng kuwé dudu perantara lho.Dudu maklar. Dadi ya ora nganggo komisi-komisian. Niyaté mung kepèngin mbantu Bapak supaya umah gelis payu”, Bapak njawab pitakoné Yu Kus. Krungu omongané Bapak karo Yu Kus sing kurang énak kaya kuwé, Mas Gun nyoba nengahi.
“Yuné kepribèn si, Bapak kan pensiunan pegawé Pemda.Wis tau dadi Mantri Pulisi.Dadi peraturan jual beli tanah wis paham nemen.Nggih Pak ?.Terus kaya kiyé Yu. Mengko adhong transaksi nang kecamatan utawa PPAT, dhèwèk ya mesthi nyaksèni. Dadi Yuné ora usah kuwatir. Leres Pak?”. Bapak meneng baé mung manthuk-manthuk.Yu Kus ngomong maning semadan ngèyèl.
“Aku dudu kuwatir masalah surat kuasa Gun. Tapi sing tak kuwatirna justru wong sing nyekel surat kuasa kuwé, sing arané Bu Neneng. Wongé saiki nang endi ?.”
Krungu Yu Kus karo Mas Gun ngomong rada pethengthengan, apa maning nganti nyinggung-nyinggung masalah Bu Neneng, Bapak kayong ora bombong. Kedeleng
carané Bapak njagong, saiki rada mundur,gigiré nyèndhèh karo tangané sedhakep. Suwasana ndadak dadi kaku. Nyong ora ngarti kudu kepribèn. Kabèh dadi serba salah. Nyong ya maklum,sabeneré Yu Kus ora kepèngin nyinggung atiné Bapak. Omongané Yu Kus sing nggawé Bapak semadan ora pas, sejatiné mung didorong rasa prihatin lan rasa éman maring wong tuwa. Rasa èman sing jero nemen.
“Bapak mau wis ngomong. Soal Bu Neneng nyekel surat kuwasa ora perlu digawé kuwatir. Mulané , Si Nok karo Pram aja balik ndhisit. Dadi angger ngésuk mbuh mbèn dhong urusané Bu Neneng wis klir, kowen bisa weruh dhèwèk…Bapak yakin, kabèh bakal bèrès”, jaré Bapak optimis nemen. Bapak nglirik jam dinding. Jam sepuluh luwih.Suwasana nang jaba wis sepi.
“Saiki wis bengi. Ngèsuk Slamet karo Gun arep padha balik. Dhongé Wondo ya aja balik saiki. Padha istirahat baé ”, bapa ngomong alon-alon. Tapi Mas Wondo maksa arep balik, moniné melas sing nang umah. Bojoné langka kancané. Apa maning anaké sing èsih cilik angger bengi sokan rèwèl.Sawisé pamitan,ngambung tangan karo nyikep Bapak kenceng nemen, Mas Wondo metu diterna nyong karo Yu Kus tekan lawang gerbang. Bapak nutupi gorden
karo matèni lampu ruang tamu, terus manjing kamar. Sawetara suwara motoré Mas Wondo keprungu sangsaya adoh – sangsaya adoh , bengi sangsaya sepi.
5
Dina Senen èsuk tanggal 13 Maret 1994. Nembé jam nem,tapi dalan Kejambon wis molai ramé.Ora kaya dina-dina sèjèné,dina Senen pancèn dina sing khusus kanggoné pegawé pemerentah lan bocah sekolah. Biasané saben dina Senen èsuk nang sekolahan dianakna upacara bendera. Mulané dalan Kejambon sing ciut nemen dikebeki kendaraan,awit sing mobil,angkot,motor,sepeda,becak lan bocah-bocah sekolah sing padha mlaku.Kabèh runtung-runtung cepet-cepetan marani panggonan pegawéan lan sekolahan.Apa maning nang ujung wètan dalan Kejambon, parek karo turunan
brug Perpil karo pasar wedhus Langon, rombongan pegawé karo bocah sekolah sing perumahan Mejasem katon welur nemen.
Karo manasi mobilé Mas Gun, nyong nyawang dalan Kejambon ngarep umah sing lagi ramé-raméné. Kelingan lagi sekolah nang SMA Negeri sing ana nang Tegalsari,angger dina Senen nyong kebirit-birit mangkat sekolahé.Soalé angger nganti telat tekan sekolahan, terus upacara wis molai, lawang gerbang sekolah ditutup. Sing tekané padha telat kudu ngadhep guru pembimbing, dingèin pengarahan. Angger nganti telat ping telu, wong tuwané dikirimi surat kongkon teka nang sekolahan,dingèin peringatan. Ndeleng ana bocah SMA sing nganggo seragam putih abu-abu numpak motor boncèngan lanang wadon , nyong dadi kèlingan pacaré nyong sing arané Dewi . Dewi Agustina sing saiki kuliah nang Australia. Kèlingan maring bapané Dewi, pemborong paling sugih sa Tegal,sing ora seneng anaké pacaran karo nyong.Gara-garané waktu kuwé Dewi sering tak jak latihan teater.Biasa,angger bocah teater padha sok seniman.Dewi ya melu-melu kaya seniman. Latihan nang Gedung Wanita nganti bengi, pakéané kumel, nganggo sandal jepit karo nyangklèk tas klasa.. Akhiré nyong diancam daning bapané supaya putus karo Dewi. Malahan bapané Dewi kongkonan preman nggo nggertak nyong. Diancam kaya kuwé nyong wedi nemen. Hubungané nyong karo Dewi apèn-apèn putus. Tapi terus pacaran umpet-umpetan. Istilahé backstreet. Akhiré bareng lulus SMA Dewi langsung dikirim maring luar negeri, kuliah nang Melbourne. Akh…angger kèlingan lagi jaman SMA. Urip kayong manis nemen. Tapi lamunan lagi waktu sekolah ora nganti kedawan-dawan.Mas Gun sing wis tata-tata arep balik maring Indramayu marani karo ngomong.
“Pram, kowen dundang Yu Kus nang ruang makan”
Nyong gagiyan marani Yu Kus. Weruh rainé Yu Kus rada sepet,nyong kaget.Ana apa maning hèh?. Srog, nyong njagong nang sebelahé. Mas Gun ya mèlu jagong.
“Pram, aku kuwatir maring Bapak. Nganti wayamènè durung tangi. Padahal wis tak gawèkna susu , nganti susuné adhem”, Yu Kus ngomong alon-alon.
“Iya Pram. Sing mau kamaré tak dhodhog-dhodhog, aku arep pamit, ya Bapak meneng baé”, jaré Mas Gun. Dikandhani kaya kuwé nyong dadi runtag.
“Waduh, aja-aja Bapak lara.Nyong ya mau bengi weruh dhèwèk Bapak
ora saré - saré. Nyong kan turu nang ruang tengah nggelar karpet.Nganti jam siji Bapak tèsih melek. Malahan Bapak bolak balik metu sing kamar terus nelpon.Tapi rupané sing dihubungi telponé ora diangkat.Tak takoni nelpon sapa, bapa meneng baé”,nyong ngomong lirih.
“Paling-paling ya nelpon Bu Neneng, si nelpon sapa maning. Hh, aku tah kayong sèwot. Bener bener, Bu Neneng kuwé arep gawé rusak Bapaké dhèwèk. Coba Gun…angger Bapak nganti sakit parah tuli pribèn ?. Dasar wong Cerbon…akèh mistikè….”, yu Kus ora nerusna omongané.Rupané dhèwèké sadar, yèn bojoné mas Gun sing arané Yayu Teti uga asli wong Indramayu sing èsih klebu wong Cirebon. Krungu Yu Kus ngala-ala wong Cirebon kaya kuwé nyong rada kuwatir aja-aja Mas Gun tersinggung. Tapi Mas Gun malah mèsem. Rupané mas Gun ngarti yèn mbakyuné lagi emosi, dadi kelepasan omong kaya kuwé. Ora let suwé krungu suwara Bapak dhèhèm – dhèhèm. Krungu suwara dhèhèmé bapa, Yu Kus ngomong maning.
“Mana Pram…gagiyan manjing. Matur Bapak, Gun arep pamit”.
Nyong gagiyan manjing kamaré Bapak. Jebulé Bapak lagi nulis. Weruh nyong manjing Bapak mandheg olihé nulis, terus mandeng maring rainé nyong. Dipandeng Bapak kaya kuwé atiné nyong mak tratab. Pandengané Bapak ora kaya biasané. Pandengané katon adhem nemen, kosong ora nana ekspresi babar pisan. Nyong njagong nang pinggir ranjang, cangkemé nyong kayong ngunci ora ngarti mbuh pan ngomong apa. Ujug ujug Bapak menyat sing korsi terus njagong nang jèjèré nyong. Tangané ngranggèh tangané nyong terus nyekel rada kenceng.Tangan sing kriput,gering,tak rasakna atis nemen.
“Pram…”, bapa ngomong alon-alon suwarané serak.
“Dalem Pak”
“Si Nok karo Gun lagi apa?”
“Teng wingking.Saweg badhé sarapan. Tapi ngentosi Bapak diaturi dhahar sarapan sareng-sareng. Mas Gun nggih badhé pamitan” . Bapak nglirik jam. Jam setengah wolu. Bapak menyat terus ngajak metu. Nyong nginthil nang mburiné.Tapi nyong apèn-apèn kèri. Bapak tak kongkon metu ndhisit.Alesané nyong pan mbèrèsi peturoné sing pating slayah. Pancén sarung karo andhuké Bapak nglambruk nang pojok. Gagiyan nyong nglempiti sarung karo klambiné Bapak. Terus lhes…cepet nemen amplop surat sing tak gèmbal-gèmbol nang sak clana tak balèkna maning nang laci meja tulisé Bapak. Nyong ngrasa blong, akhiré nyong bisa mbalèkna amplop surat sing wingi tak jokot lagi nyong bareng-bareng ngglèdhah kamaré Bapak . Muga-muga baé Bapak ora ngarti yèn surat-suraté Bu Neneng sing disimpen nang laci wis tau tak jukut lan tak waca. Gagiyan nyong metu maning karo nggawa andhuk lan slimuté Bapak ,terus tak pé nang péméan.
Bapak marani meja makan terus njagong adhep-adhepan karo Yu Kus karo Mas Gun . Nyong njagong nang jèjèré . Nang meja makan pepek nemen ,ana kopi susu, teh manis, kamir,ketan gemblong,sega lengko karo jajan sèjèné. Kabèh padha nyawang maring Bapak sing katon lesu,rainé pucet,beda nemen karo Bapak sing wingi. Wingi tah padha bungah ndeleng Bapak sing katon seger,gembira lan katon luwih nom.
“Daning durung padha sarapan”, Bapak mbuka omongan karo nyruput kopi susu.
“Nggih , sami ngentosi Bapak. Kepèngin sarapan sareng kaliyan Bapak”. Yu Kus ngomong karo nyediakana sega lèngko Pi’an kesenengané Bapak. Kabèh padha mangan.Meneng langka sing ngomong.Yu Kus sing biasané ngomongé cemruwèt ya meneng baé.Embuh padha nduwé perasaan sing kepribèn maring Bapak. Tentuné kabèh padha prihatin maring kondisiné Bapak sing kaya kuwé.
Bar pada sarapan bareng , Mas Gun pamitan. Nuruti penjaluké Bapak, Yu Kus karo enyong ora arep balik ndhisit, tapi nunggu sedina mbuh rong dina maning. Maksudé supaya bisa weruh perkembangan kedadian sing wingi, sebabé apa Bu Neneng lunga ninggalaken Bapak ora pamit, terus saiki Bu Neneng nang endi. Apa maning sedulur sedulur padha ngarti yèn Bu Neneng dingèin kuwasa sing Bapak kanggo adol umah. Nyong uga luwih penasaran maning sawisé maca surat-suraté Bu Neneng sing tak jukut nang laci meja tulisé Bapak. Apa maning Yu Kus, ketara yèn dhèwèké ora sabar nemen olihé gagiyan kepèngin ngarti kepribèn tutugé kedadian sing wingi awan. Sing gawé luwih penasaran maning, Bapak tèsih tetep ngarep-arep Bu Neneng teka maning. Padahal nyong ngarti mau bengi Bapak bolak balik interlokal, ndèyan pan ngubungi Bu Neneng, tapi ora bisa nyambung.
Nganti jam wolu, senanjan Mas Gun wis pamitan tapi rupané tèsih kepèngin ngobrol bareng. Sepisan maning Mas Gun negesaken maring Bapak yèn nyong kabèh wis setuju Bapak arep adol umah. Terus padha ndongakaken muga-muga Bapak sehat lan masalahé Bu Neneng bisa cepet rampung. Malahan Mas Gun takon apa dhèwèke olih mampir maring umahé Bu Neneng nang Palimanan, soalé angger maring Indramayu Mas Gun sokan liwat Palimanan. Dadi ngiras ngirus. Mulané Mas Gun apèn-apèn njaluk alamat lengkapé Bu Neneng. Tapi Bapak ora ngidini. Jaréné ora kepèngin ngrèpoti mas Gun. Urusané Bu Neneng bèn Bapak baé sing ngrampungaken.
Lagi ngobrol kaya kuwé sing ngarep umah keprungu suwara mobil mandheg terus suwara wong thothok thothok lawang. Nyong gagiyan mengarep.Jebulé ana tamu wong loro, takon Bapak. Wong sing siji,sing katon gagah ngaku arané Pak Tomas. Dheg, nyong kèlingan maring omongané Bapak yèn sing arep pan tuku umah arané Pak Tomas. Sawisé tak manggakaken njagong, nyong manjing maning ngomong karo Bapak, yèn ana tamu Pak Tomas. Bapak gagiyan menyat karo ngomong.
“Pak Tomas karo stafé sing arané Agus. Sing arep tuku umah. Kebeneran Gun durung mangkat. Ayuh ditemoni bareng”
“Mangké rumiyin Pak. Pak Tomas niku sampun nganyang pinten”, jaré Mas Gun.
“Tomas kuwé nembé nganyang 120 juta. Bapak kan pasang harga 125 juta. Kepribèn jaré kowen.Apa diwèkna 120 , apa tetep njaluk 125”.
“Menawi Bapak sampun mathok regi 125 ,nggih sampun kirang. Pokoké 125 juta bersih, sampun nyukani komisi teng perantara. Iya Gun?”, jaré Yu Kus. Mas Gun
meneng baé.
“Gun… Kowen aja meneng baé o”, yu Kus ngomong maning rada sèwot.
“Terserah Bapak lah”,mas Gun semaur.
“Wis wis..aja ribut. Ayo ditemoni bareng-bareng”, Bapak ngomong kayong kurang bombong. Wong papat metu maring ruang tamu.Pak Tomas karo Agus ngadeg terus ngajak salaman. Bapa ngenalna anaké siji-siji.
“Bagaimana Pak Ramelan ?. Sehat? Ibu mana?”, Pak Tomas langsung takon maring Bapak. Ditakoni kaya kuwé Bapak katon kaget,ora njawab mung mung mèsem thok. Enyong sasedulur ora kurang kurang kagèté. Ibu ?. Bisané Pak Tomas takon : “ibunya mana?”. Wong telu padha pandeng pandengan.Bapak rupané tanggap.Karo dhèhèm-dhèhèm bapa ngomong.
“Anu Pak Tomas…kemaren kan anak anak pada kumpul semua. Lima limanya datang. Tapi yang dua sudah pulang. Maklum mereka PNS. Yang satu di Semarang, satunya di Pemalang”
“O, jadi sudah musyawarah keluarga…Bagus..bagus.. kalau begitu…”
“Iya Pak Tomas. Saya anak nomer dua ,perempuan satu-satunya. Saya tinggal di Purwokerto, suami saya dosen Unsud.Saya dan saudara-saudara sudah sepakat untuk menjual rumah ini”, jaré Yu Kus.
“O,ya…trimakasih…”
“Tinggal masalah harga saja. Saya kira mumpung kami yang tiga orang masih disini,sekarang bisa dirundingkan..Ngoten nggih Pak ?”, Yu Kus ngomong maning karo nglirik maring Bapak .Bapak manthuk-manthuk setuju. Tapi Pak Tomas karo Agus katon
bingung ,lingak-linguk.
“Maaf, …Bu…?”, pak Tomas ngomong maring Yu Kus.
“Saya Bu Kusrini”
“Bu Kusrini,maaf ya. Maksud Ibu,masalah harga yang bagaimana?”
“Lho katanya Pak Tomas baru menawar 120 juta”
“Betul. Waktu itu saya menawar 120 juta. Saya kira sudah cukup tinggi.Begitu ya Pak Ramelan?”, ditakoni kaya kuwé Bapak manthuk, terus ngomong kaya kiyé.
“Saya sudah sampeken anak-anak saya.Mereka keberatan harga segitu”
“Lho, kok keberatan bagaimana?. Apa Bapak nggak keliru?. Gus,coba mana kwitansinya”
Agus mbuka tas terus njukut salembar kwitansi, diserahna maring pak Tomas.Bapak karo nyong sasedulur ngrajug.
“Pak Ramelan,ini kan kwitansi tanda jadi. Hari Saptu kemaren Ibu sudah setuju melepas rumah ini dengan harga 120 juta.Kemudian sebagai tanda jadi Ibu minta persekot 20 juta sebagai tanda jadi. Dan sesuai janji Ibu, hari ini saya akan mengajak Pak Ramelan dan anak-anak Bapak ke Notaris…Ini kwitansinya” Pak Tomas nyerahna kwitansi maring Bapak .Bapak nampani karo tangané gemeter.Kwitansi diwaca, diwolak-walik,diwaca maning,dileng-ileng. Lambéné gemeter. Yu Kus sing njagong nang iringané Bapak melu maca. Ujug-ujug dhèwèké njerit, karo ngrebut kwitansi sing tangané Bapak.
“Ya Allaaah….,Pak…daning kados niki……Gun,kiyé kepribèn..kiyé..??”
Weruh kaya kuwé, rainé Pak Tomas karo Agus katon tegang,wong loro pandeng-
pandengan.Kwitansi diserahna maring Mas Gun,nyong ya mèlu-mèlu maca.Sakal nyong kagèt ora kira-kira,kaya keprungu suwarané bledheg nang waktu awan sing padhang njingglang. Kwitansi sing nang ngingsoré ditempèli meterai isiné kaya kiyé.
“Telah terima dari Sdr. Tomas Setiawan ,alamat Wonogiri Solo, uang sebanyak Rp.20.000.000 (Duapuluh Juta Rupiah ) ,untuk pembayaran sebagai uang muka penjualan sebuah rumah berikut pekarangan yang terletak di Jalan Kejambon no…Kotamadya Tegal.dari harga yang disepakati sejumlah Rp.120.000.000,-,-(Seratus Duapuluh Juta Rupiah). NB.Sisanya akan dilunasi pada tanggal 13 Maret 2000”
Nang ngingsor kiwa jelas ditulis angka Rp.20.000.000,- nang sisih tengen sing ditempeli meterai ana tandatangan karo aran jelas Neneng Yunengsih.
“Bagaimana Pak Ramelan?. Betul kan, Ibu sudah mengambil persekot?”, Pak Tomas takon maning. Bapak meneng baé, nyopot kacamatané, terus tangan loroné nutupi rainé, istighfar karo ngunjal ambekan dawa nemen.
“Pak Tomas…Bu Neneng itu bukan Ibu kami.Ibu kami kan sudah lama meninggal”, Mas Gun coba njelasaken.
“Sudah meninggal?. Lha waktu datang kekantor saya menawarkan rumah kan Bu Yunengsih mengaku rumah ini milik beliau. Terus waktu saya dan staf saya Agus ini datang kemari untuk memeriksa rumah ini, Bu Yunengsih juga ada disini. Malahan beliau juga ikut menerima kami dan ikut menunjukkan sertifikat asli rumah ini. Yang minta harga 125 juta juga beliau. Betul kan Pak Ramelan?. Makanya waktu hari Saptu dia datang kekantor saya mengatakan
bapak dan anak-anak setuju rumah ini dilepas dengan harga 120 juta, terus beliau minta uang muka tanda jadi 20 juta, ya saya percaya.”. jaré Pak Tomas, èsih katon bingung. Bapak ora njawab. Mung Yu Kus sing nangis karo nggumbel Bapak,ngomong karo mèwèk-mèwèk.
“Kadospundi si Pak ?. Sing leres kados pundi..??”. Bapak èsih meneng baé, sirahé sangsaya nundhuk mengingsor. Weruh kaya kuwé nyong dadi runtang campur bingung. Bisané, Bu Neneng ka duwé pokal sing kaya kuwé?. Ora maido yèn Yu Kus dadi emosi . Mas Gun uga katon bingung lan kecewa. Agus sing awit mau mung meneng thok,akhiré mèlu ngomong.
“Begini Bu Kusrini dan Pak Gun. Kami tadinya percaya sekali dengan Pak Ramelan.Tapi kalau akhirnya begini kan kami merasa ditipu”
“Jadi pak Agus menuduh Bapak saya penipu ?.Pak Agus, sudah saya jelaskan Bu Neneng Yunengsih itu bukan ibu kami.Juga bukan istri Bapak kami.Kami baru kenal kemaren.Itupun tidak lebih dari sepuluh menit. Jadi Bapak kami tidak pernah menerima uang persekot sepeserpun…”, jaré mas Gun.
“Lha terus Ibu Yunengsih itu sekarang dimana?. Pak Ramelan !. Bagaimana ini ??..” Agus ora nerusna omongané, sebab ujug-ujug Bapak nglumpruk,njagongé mlorod nganti arep tiba nang jogan.Mas Gun gagiyan tangi nyikep sikilé Bapak. Tangané Bapak nglamprèh, lemes dhedhes ora duwé daya.Kabéh padha panik.Nyong karo Pak Tomas mèlu-mèlu nggotong Bapak maring kamar. Bapak diturokna nang ranjang. Yu Kus nangis sangsaya seru karo terus ngundang-undang Bapak. Mas Gun karo nyong panik campur kèder ora ngarti pan kudu kepribèn. Pak Tomas kongkon nyong golèt balsem
mbuh lenga kayuputih.Untungé nang meja rias ana obat macem-macem, ana balsem,minyak angin,minyak gandapura karo kayuputih. Enyong mijeti sikilé Bapak tak gosok-gosok balsem.Mas Gun mijeti jempol karo èpèk-èpèk tangan, Yu Kus nggosoki awak nganggo lenga kayu putih.Ngemèk sikilé Bapak sing atis nemen kaya bancèt, terus nyawang rainé sing pucet,mripaté merem, ambekané pedhot-pedhot ora teratur,nyong dadi lemes dhedhes ora karuan.Bayangané nyong sing ora-ora. Sènggané…sènggané Bapak nganti keterusan ilang nyawané….Akh…Bapak…Bapak……panjenengan ka melasi neme.Dhongé Gusti Allah arep maringi cobaan apa maning maring Bapané nyong sing wis tua kiyé ?. Ya Allah, mbokan Bapak duwé kesalahan maring jenaté Ibu, ya muga-muga Ibu sing wis ana nang ngarsané Panjenengan gelem ngapura Ya Allah…., nyong mung bisa nyenyuwun, karo nangis sajeroning ati. Maning-maning nyong kèlingan maring Bu Neneng..kèlingan maring surat-suraté sing maring Bapak …surat-surat sing mung nyong dhèwèk sing tau maca…surat surat sing isiné durung nganti tak bahas karo sedulur-seduluré nyong…akh Bapak….Bapak…bisané bareng wis sepuh..ka panjenengan diparingi kudu nglakoni riwayat sing kaya kiyé…??.
Nganti sawetara waktu Bapak durung sadar.Nyong karo Mas Gun ora mandheg-mandheg istighfar,karo nyebut maring Gusti Allah. Pak Tomas karo Agus metu sing kamar. Rupané ora kepènak ndeleng suwasana sing sedih kaya kuwé. Wong loro njagong maning nang ruang tamu.Embuh pirang menit suwéné Bapak ora sadar. Yu Kus terus ngambungi rainé Bapak karo terus nangis ngguguk-ngguguk.
Bareng wis rada suwé, ujug-ujug bapa dhèhèm,terus tangané nyekel sirahé Yu Kus. Yu Kus mandheg olihé ngambungi Bapak,terus padha nyawang maring rainé Bapak.
Alon-alon Bapak mbuka mripaté sing katon jero nemen karo tangané grayangan nggolèt kacamatané. Yu Kus njukut kacamata sing didokon nang meja rias. Bapak nglirik ngiwa nengen,ndeleng maring anak-anaké sing lagi padha njagong nang pinggiré. Alkhamdulillah,Bapak rupané wis sadar.
“Pak, Bapak mboten nopo-nopo Pak…?” Yu Kus takon karo mingseg-mingseg. Bapak meneng mung mripaté baé sing kedhèp-kedhèp. Tapi weruh Bapak wis sadar kaya kuwé nyong bungah ora kira-kira.Rada suwé rupané Bapak ngumpulna angen-angené. Terus Bapak njagong. Mas Gun ngongkon Yu Kus gawé wedang kopi anget. Bareng wis dininungi kopi rong cegukan, Bapak ngomong alon-alon.
“Bapak ora apa-apa. Kowen ora usah kuwatir masalah Bu Neneng”
“Nggih Pak..mboten kuwatos..Sing penting Bapak sampun gerah”, jaré Mas Gun.
“Ora. Aku ora lara, mung bingung, kesel..lemes…”
Yu Kus arep mèlu ngomong tapi Mas Gun ngèin kode supaya Yu Kus meneng ndhisit. Mas Gun rupané kuwatir mbokan Yu Kus nakokna urusané Bu Neneng sing wis nrima dhuwit persekot umah 20 juta sing Pak Tomas.Nyong ya kuwatir mbokan Bapak dadi syok maning angger nyingung-nyinggung masalah kuwé. Apa maning Pak Tomas karo Agus èsih padha njagong nang ruang tamu. Kèlingan maring Pak Tomas karo Agus nyong menyat terus metu maring ruang tamu.
“Bagaimana dik?. Bapak sudah sadar?”, Pak Tomas takon.Enyong njawab goroh Bapak tèsih durung sadar.Mulané nyong njaluk masalah jual beli umah ditunda ndhisit. Tapi Pak Tomas ora gelem.Maksa supaya dirampungaken waktu kuwé uga. Nyong takon, arep dirampungna kepribèn?.Wong nyatané Bapak ora nrima dhuwit, tapi sing nrima Bu
Neneng. Padahal wis dijelasaken yèn Bu Neneng kuwè dudu apa-apané keluwargané nyong. Bu Neneng kuwé wong sèjèn dudu sanak dudu kadang, apa maning bojoné Bapak ,luwih-luwih ibuné nyong.
“Ya, tapi mengapa Pak Ramelan dulu sering menyebut Ibu kepada Bu Yunengsih ?.Ini yang saya anggap Pak Ramelan ikut bersekongkol menipu kami.Uang 20 juta itu tidak sedikit lho dik.Dan itu bukan uang kami.Itu uang perusahaan.Kami hanya menjalankan tugas mencari rumah di Tegal untuk kantor dan gudang. Tapi kok akhirnya begini..Seharusnya Pak Ramelan ikut bertanggung jawab.Setidaknya bisa menunjukkan dimana Bu Yunengsih sekarang”
Tak pikir bener uga pendapaté Pak Tomas karo Agus. Tapi nyong lagi kuwatir mikirna kondisiné Bapak. Lagi bingung kaya kuwé Mas Gun metu. Pak Tomas ngomong maning masalah dhuwit persekot 20 juta sing wis ditrima Bu Neneng.Malahan maring Mas Gun, Pak Tomas ngomongé rada ngancam.Angger ora dirampungna waktu kuwé uga arep lapor polisi.
“Tenang dulu Pak Tomas.Saya kira masalah ini bisa diselesaikan dengan baik-baik,tanpa harus melibatkan yang berwajib. Pram…kamu masuk saja. Tungguin Bapak supaya tenang. Urusan ini biar aku yang tèkel”, Mas Gun ngomong kalem kaya biasané. Nyong mauné kepèngin mèlu-mèlu rundingan,tapi Mas Gun tetep nglarang.Akhiré nyong manjing maning.Bapak èsih njagong silah nang ranjang. Yu Kus njagong nang korsi karo rainé temungkul. Weruh nyong manjing, Yu Kus arep ngomong,tapi nyong ngèin isarat aja ngomong maning.Nyong njukut korsi njagong nang jèjèré Yu Kus. Rainé nyong tak gawé sumèh, karo mèsem nyong ngajak ngobrol , masalah sèjèné. Bapak tak
slimur supaya ora kèlingan maring Bu Neneng karo Pak Tomas.
“Bapak mangké siang kepèngin dhahar nopo, Pak?. Dalem mangké badhé medal tumbas latopia kaliyan kacang asin kanggé angsal-angsal keluwargané Mas Gun ”.
“Aku lagi ora kepèngin mangan apa-apa. Terserah kowen baé, pan mangan apa”.
“Dalem tah kepènginé soto Sokaraja. Yu Kus bisa o ya, nggawé soto Sokaraja?”, nyong terus ngomong ngalor ngidur supaya Bapak keslimur.Yu Kus rupané paham maksudé nyong . Dhèwèké uga mèlu-mèlu ngomong werna-werna. Tapi Bapak mung api-api ora, njawab sekadaré baé. Lagi kaya kuwé keprungu suwara mobilé Mas Gun disetater. .Nyong gagiyan metu kepèngin weruh ana apa. Jebulé Pak Tomas karo Agus wis ora nana. Nyong gagiyan ngudag Mas Gun sing wis ana nang njero mobilé. Mas Gun mung ngomong cepetan karo njalana mobilé metu sing pekarangan.
“Kowen nunggoni Bapak baé. Angger Bapak takon,moni baé aku lagi tuku bensin !”
Mobilé Mas Gun nginthil nang mburiné mobilé Pak Tomas, runtung-runtung embuh pan padha maring endi. Nyong manjing maning maring kamar. Rupané Yu Kus ya padha baé bingung krungu suwarané mobilé Mas Gun metu maring dalan gedhé. Yu Kus nglinguk maring enyong, nyong mung bisa ngangkat pundak.
Rupané Bapak ngarti nyong karo Yu Kus sing lagi kéder, Bapak njaluk mudun metu maring ruang tamu. Dituntun Yu Kus, Bapak mlaku alon-alon. Katon yén awaké lemes nemen. Enyong kagèt campur kuwatir, kepribèn reaksiné Bapak angger weruh Pak Tomas karo Agus wis ora nana. Apa maning Mas Gun uga lunga mbuh pan maring endi.Bener baé. Durung njagong nang korsi,Bapak wis takon.
“Pak Tomas karo Agus maring endi?”.
Nyong karo yu Kus ora njawab,kèder mbuh pan ngomong apa.Srog Bapak njagong nang korsi panjang sing mau dijagongi.Nyong karo Yu Kus njagong nang iringané Bapak.
“Pak Tomas karo Agus si padha maring endi?!”
“Kadosé wangsul,Pak”, nyong njawab saolihé.
“Balik?. Kan urusan dhuwit persekot sing ditrima Bu Neneng durung rampung?.”
“Nggih Pak. Tapi niku kan urusané Bu Neneng kaliyan Pak Tomas.Sanès urusané Bapak. Nyatané Bu Neneng sasampuné nampi yatra 20 juta terus minggat…..”, Yu Kus nyauri,nada suwarané ketara nyalahna Bu Neneng.
“Nok !. Kowen dhongé kepribèn si?”, Bapak ngomong nyentak,karo mripaté mendelik , lambéné gemeter. Nyata yèn bapa bener-bener dhugal maring Yu Kus. Disentak kaya kuwé Yu Kus kagèt.Rainé mrekabak,terus nangis.
“Kowen kuwé bisané mung nyalah-nyalahna. Nyalahna Bapak…nyalahna Bu Neneng…!. Angger Pak Tomas ora trima,terus nglaporna Bu Neneng maring pulisi, kan Bapak uga mèlu di-kèlèr-kèlèr…Nok , Nok....kowen apa ora melas karo Bapak?”. Bapak ngunjal ambekan jero nemen terus ngomong maning.Suwarané lirih,ngrintih memelas nemen.
“Ya Allaaaah…Gusti…Kepribèn dhongé….nasibé aku ka kaya kiyé temen… Neneng..Neneng…kowen nang endi sih…?.Bisané kowen ka ora teka teka…Angger nganti Pak Tomas lapor pulisi terus kepribèn ?. Aku isin…isin maring anak-anakku… Apa maning mengko wong-wong padha weruh
masalah kiyé…Ya Allah Gusti..kulo isin…isiiin….”, suwarané Bapak sangsaya lirih sangsaya nelangsa karo nangis ngguguk-ngguguk.Ambekané krungu sangsaya alon…terus ujug-ujug breg..Bapak niba ngglosor nang jogan.Yu Kus njerit. Enyong panik.Sakuwat kuwat tenaga nyong karo Yu Kus nggotong Bapak maring kamar. Sawetara kuwé nyong ora ngarti Mas Gun embuh lunga maring endi.
6
Paviliun Nusa Indah Rumah Sakit Umum Kardinah Tegal
sing ana nang sisih lor wis sepi nyenyet. Jam siji luwih. Bengi kuwé wis manjing dina Jum’at. Dalan Sultan Agung sing ana nang sisih wètan rumah sakit uga sepi nemen, langka wira wiriné lalu lintas. Sepisan pisan mung ana siji loro bis malam jurusan Tegal-Purwokerto sing liwat.Prapatan Kejambon sing ana nang pojok kidul wetan, sing angger awan raméné por, bengi kuwé uga ora katon sepi. Kios-kios sing ana nang pojok pasar Kejambon mung ana siji loro sing tèsih buka .Pancèn akèh becak sing padha mangkal nang ngarep rumah sakit,tapi tukang bécaké padha ngringkuk kemulan sarung nang bécaké dhèwèk-dhèwèk.
Nang salah siji kamar, Bapak wis patang dina dirawat. Kondisiné wis molai
pulih. Ketara turuné lali angler nganti keprungu ngoroké seru nemen. Jam 9 mau dokter Bambang sing ngontrol wis ngidini mbesiki Bapak olih balik. Patang dina nang rumah sakit Bapak wis ngresulah ora betah . Sabeneré Bapak ora lara apa-apa.Jaré dokter Bapak mung “stress berat lan kecapean”. Sawisé istirahat patang dina lan pikirané tenang ,Bapak wis normal maning. Yu Kus sing olih telung dina telung bengi nginep nunggoni Bapak, ngangluh masuk angin. Mulané bengi kuwé turu nang umah dikancani Bi Dasmi. Mas Gun awit Bapak manjing rumah sakit dina Senen èsuk persasat ora tau istirahat. Wingènané balik maring Indramayu,nginep sawengi,esuké wis teka maning. Pancèn sasuwéné patang dina mung wong telu thok sing sibuk nunggoni Bapak . Awit Bapak manjing rumah sakit, Mas Gun langsung nyekel tanggung jawab kabèh masalah lan urusané Bapak. Ora mung urusan biaya rumah sakit, tapi ana sing luwih penting,yakuwé masalah Bu Neneng sing ngilang sawisé njokot panjer 20 juta sing Pak Tomas. Pancèn masalah kuwé sing ndadèkna Bapak syok nganti kudu dirawat nang rumah sakit. Sing ngagètna, Mas Gun njaluk persetujuané Yu Kus karo nyong, supaya masalah Bu Neneng aja nganti metu nang jaba. Maksudé aja nganti keweruhan wong sèjèn. Malahan dirawaté Bapak nang rumah sakit, Mas Slamet karo Mas Wondo ora perlu dikabari. Mesthi baé Yu Kus mencak-mencak ngganyami Mas Gun saporèté.
“Dhongé kowen kepribèn si Gun. Masa wong tuwa lara manjing rumah sakit, ora ngabari Mas Slamet karo Wondo. Lha mengko angger ana apa-apané kepribèn?”
“Tenang Yu. Yuné percaya maring aku, Bapak ora apa-apa. Bapak mung perlu istirahat. Bapak ora kepèngin masalah Bu Neneng karo Pak Tomas nganti metu nang njaba. Termasuk keluwargané dhèwèk ya aja padha ngarti.
Cukup wong telu baé sing ngarti. Aku, Yuné karo Si Pram. Poma rong poma masalah kiyé aja nganti metu nang njaba”, jaré Mas Gun waktu kuwé.
Jelas Yu Kus ora setuju. Kepènginé Yu Kus kabèh anak-anaké Bapak karo keluwargané padha ngarti yèn Bapak lagi dirawat nang rumah sakit. Amgger bisa malah padha kumpul. Jaré Yu Kus angger Bapak ditunggoni anak-mantu karo putu-putuné,atiné Bapak bakal bungah lan bisa ndadèkna gelis waras. Yu Kus ora bisa nrima gagasané Mas Gun. Yu Kus kepèngin larané Bapak diuwar-uwarna supaya saben wong padha ngarti. Angger perlu saben wong kudu dingèin weruh yèn larané Bapak disebabaken daning polahé wong wadon siji sing arané Bu Neneng. Nang matané Yu Kus, Bu Neneng kuwé wong wadon sing ora bener, sing arep ngancuraken uripé Bapak. Wong wadon sing jahat, busuk,penipu lan saterusé. Mulané Yu Kus sing atiné keras, ora bisa nrima babar blas sikapé Mas Gun. Apamaning bareng Mas Gun usul yèn biaya rumah sakit arep ditanggung Mas Gun dhèwèk, Yu Kus tambah tersinggung. Karo mrengut Yu Kus ngomong maring enyong.
“Pram, aku tah sèwot maring si Gun. Kadiran sugih dhèwèk. Iloken pantes,wong tuwa lagi lara ngatang-ngathang nang rumah sakit, anaké ana sing ora dingèin weruh. Wis kaya kuwé, jaré biaya rumah sakit arep ditanggung dhèwèk thok. Lha aku, Mas Slamet, Wondo terus dianggep apa. Pribèn mbuh pribèn kabèh kan anaké Bapak. Kecuali angger kabèh wis ora mampu, lha pantes njaluk sokongan maring sing sugih….”
Krungu omongané Yu Kus sing kethus kaya kuwé,nyong mung meneng ora komentar.Weruh sikapé kakang-kakangé nyong kaya kuwé ndadèkna nyong prihatin nemen. Nyong nyoba nengahi,ngomong alon-alon maring Yu Kus.
“Pancèn Yu,larané Bapak disebabna daning tingkah polahé Bu Neneng.Bapak lara jalaran kecewa. Kecewa berat.Wong wadon sing mauné dialem-alem jebulé mung gawé kecewa, malahan gawé isin.Tapi Yuné kudu kèlingan, sadurungé Bapak pingsan lagi dina Senen èsuk ,sesambaté Bapak kan kaya kiyé : Aku isin,isin maring anak-anakku. Anggeré mengko Pak Tomas lapur pulisi terus kepriben.Apa maning nganti wong-wong padha weruh…Aku isin Ya Allah…aku isin. Yuné kèlingan oya…Bapak sesambat maring Gusti Allah kaya kuwé”
Sethithik – sethithik rupané Yu Kus bisa nrima kenangapa Mas Gun nganti wanti-wanti persoalan kiyé supaya disidhem, aja nganti keweruhan sapa-sapa. Tapi senajan Yu Kus bisa nrima, rupané tèsih ana sing ngganjel nang atiné mbakyuné nyong sing sipaté keras. Yu Kus tetep nakokna kelanjutan hubungané Bapak karo Bu Neneng. Terus kelanjutané dhuwit panjer umah 20 juta sing digawa minggat Bu Neneng. Terus umpamané Pak Tomas lapur pulisi lan Bapak kudu dadi saksi, kepribén?.Kan masalahé bakal dadi dawa lan ramé?. Waktu Yu Kus takon kaya kuwé nyong ora bisa njawab.
Wengi nang paviliun Nusa Indah Rumah Sakit Kardinah sangsaya nglangut, sangsaya sepi. Lagi turu-turu ayam, antarané turu karo melèk, nyong sing lagi njongkot dhèwèkan nang jaba kamar keprungu suwara dhèhèmé Bapak. Nyong gagiyan manjing.Jebulé Bapak lagi njagong.
“Bapak daning tangi. Badhé teng wingking Pak?”,nyong takon mbokan Bapak arep maring kamar mandi.Biasané angger arep maring kamar mandi njaluk dituntun.
“Ora.Wis jam pira Pram?”
“Jam setengah kalih langkung”, nyong njawab karo nglirik jam dinding sing ana
nang dhuwur lawang.
“Wis bengi nemen.Daning kowen durung turu?”
“Nggih. Namung ngantuk wau teng jawi”
Biasané angger nunggoni Bapak nyong sokan turu nang ngingsor nggelar kasur cilik, gentenan karo Yu Kus.Tapi bengi kuwé nyong sengaja mung njagong nang jaba dhèwèkan. Mas Gun ya rupané kesel dadi turu nang umah. Rada suwé Bapak meneng mung nyawang rainé nyong,kayong ana sing kepèngin diomongna.Pancèn.Salawasé nang rumah sakit,nyong rumangsa yén Bapak sering katon kepèngin ngomong dhèwèkan karo nyong. Tapi rupané nembé bengi kuwé ana kesempatan nyong mung dhèwèkan karo Bapak. Mulané nyong
gagiyan narik korsi terus njagong parek nang ngarepé Bapak.
“Bapak badhé sanjang nopo Pak ?”. nyong takon lirih.Bapak meneng ora nyauri.Ujug-ujug tangané ngrangkul nang pundhaké nyong.
“Pram,sabeneré akèh nemen sing kepèngin tak omongna maring kowen.Tapi omongané Bapak akèh sing sipaté wadi utawa rahasia”
“Rahasia?. Maksudé Bapak?”, nyong kagèt campur èram.
“Mesthiné kowen wis ngarti maksudé Bapak.Malah luguné kowen ya wis weruh kabèh…..sapa sabeneré Bapakmu….”, suwarané Bapak gemeter. Dheg. Nyong kèlingan maring surat-surat sing tak “colong” sing laci mejatulis nang kamaré Bapak, malikané sedulur-seduluré nyong ngglédhah kamaré Bapak pirang dina kepungkur.
“Nuwun sèwu ….dalem mboten sengaja…maos serat-seraté Bu Neneng”
“Ora apa-apa. Aku malahan seneng kowen wis maca surat-surat kuwé. Aku
seneng.Apa maning kowen wis bisa nyimpen nganti primpen apa-apa sing kowen weruhi sapa sejatiné Bapakmu,lan sapa sejati Bu Neneng. Kowen duwé watek persis kaya jenaté ibumu.Bisa nyimpen wadiné wong liya,ora gampang ngumbar alané wong sèjèn”.
Krungu omongané Bapak kaya kuwé nyong mung ndomblong thok.Nyong ora ngira babar pisan yèn sabeneré Bapak ngarti yèn surat-surat pribadiné Bu Neneng wis tak waca kabèh. Surat-surat sing tak gèmbal-gèmbol nang sak clana , kadang-kadang tak selipna nang jero kaos, tak waca karo umpetan nang kamar mandi. Surat – surat sing nggawé nyong bingung,ora percaya, sedih,getun lan nelangsa….ééé…ora ngira…jebulé bapané nyong duwé rahasia sing kaya kuwé….….Kadhang-kadhang atiné nyong njerit,nyong protes,bisané ka bapané nyong sing wis tuwa,sing katoné wis ayem – tentrem olihé bakal ngentongnya umuré, kudu nglakoni lelakon sing babar pisan ora tak nyana-nyana.
Kadhang-kadhang nyong kepèngin ngomong maring sedulur-sedulur,apa sing sabenenré tak weruhi sawisé nyong maca surat-suraté Bu Neneng. Tapi nyong kèder kepribèn cara ngomongé. Apa maning angger kudu ngomong maring Yu Kus,akh,nyong ora bisa mbayangna kepribèn reaksiné mbakyuné nyong sing wis wanci nemen nganti ceri cemeri maring Bu Neneng. Tapi bengi kuwé,nyatané Bapak dhèwèk sing mbuka masalah surat-suraté Bu Neneng.
“Pram, sabeneré ora mung kowen sing wis ngarti hubungan sing sabeneré antarané Bapak karo Bu Neneng….Masmu Gun uga wis ngarti…..” Krungu omongé Bapak kaya kuwé sapisan maning nyong mendongong, ora ngarti kudu ngomong apa. Jebulé Mas Gun wis ngarti?. Lha terus, sing wis padha ngarti sapa baé?. Mas Wondo,Mas Slamet?. Angger Yu Kus tah ora mungkin.Weruh sikapé Yu Kus sing bener-bener
antipati maring Bu Neneng,ora mungkin Yu Kus uga wis ngarti wadi pribadiné Bapak.Weruh nyong mendongong kaya wong kèder,Bapak ngomong maning..
“Aku ya bangga maring Gun.Gun ya wateké kaya jenaté ibumu.Cerdas,sabar,ulet. Angger ana masalah cepet dirampungna”.
“Dados Mas Gun nggih sampun ngertos?”
“Ora mung ngarti.Tapi rupané Gun sing paling tanggap bisa mrantasi masalahé Bapak. Masalah sing ruwed nemen. Bapak bangga lan bahagia kabèh wis bisa diatasi karo Gun”, Bapak ngomong kaya kuwé karo ngunjal ambekan.Suwarané lirih.Tak sawang mripaté Bapak ngruwicèh.
“Nuwun sèwu Pak. Lajeng perkawis Bu Neneng kaliyan Pak Tomas ?. Teras perkawis arto 20 juta ingkang sampun dipendhet Bu Neneng?.
“Alkhamdulillah…Jaréné Gun wis ora nana masalah. Sing penting Bapak sehat. Muga-muga sawisé kedadiyan kiyé suasana keluargané dhèwèk bisa balik maning tentrem kaya sing uwis-uwis”
“Insya Allah Pak. Nanging ketingalipun Yu Kus taksih dèrèng saged nampi gagasanipun Mas Gun.Yu Kus taksih nakèkaken perkawis Bu Neneng, Pak Tomas,arto 20 juta….”
“Iya. Mbakyumu pancèn atiné keras. Gun ora mungkin bisa nglumèraken atiné Kus. Sing bisa nglumèraken atiné Kus ya mung Slamet…..”
“Nanging Mas Slamet kan dèrèng ngertos perkawis Bu Neneng lan Pak Tomas. Nopo Mas Gun wantun ngaturi wawasan dateng Mas Slamet?”
“Gun mesthi ora wani karo Slamet. Sing wani karo Slamet ya mung Bapak….
Dadi mengko Bapak sing bisa ngandhani Slamet ….”
“Lajeng Mas Wondo?”
“Wondo tah gampang.Angger Kus wis nurut,Wondo ya nurut”
Krungu omongané Bapak kaya kuwé nyong mung bisa menthuk-manthuk. Omongané Bapak bener kabèh. Nyong tembé sadar, yèn sabeneré nyong sasedulur èsih tetep rukun lan èsih padha saling ngormati antara sing nom maring sing luwih tuwa.Kesadaran sing ndadèkna nyong luwih tresna lan luwih hormat maring Bapak lan maring kakang-kakangé nyong kabèh. Ora krasa maning nyong temungkul nganti bathuké nyong niba nang dhengkulé Bapak.Sawetara tangané Bapa krasa anget ngelus - elus githok. Embuh nganti sapira suwéné nyong klelep nang perasaan haru lan bahagia sing campur adhuk, nganti lamat-lamat keprungu suwara wong ngaji sing masjid-masjid lan musola sing parek rumah sakit.Gragap nyong tangi,ucek-ucek mata,kagèt ora kira-kira. Weruh-weruh mas Gun karo Mas Wondo wis ana nang kamar. Kagèté nyong durung ilang, ujug-ujug Mas Gun ngomong.
“Pram, Ndo….gagiyan barang-barangé Bapak dibèrèsi. Bapak pan kondur saiki. Monggo Pak..”
Kagèt krungu omongané Mas Gun kaya kuwé, enyong karo Mas Wondo lingak-linguk karo pandeng-pandengan. Tapi Bapak mung mèsem thok. Bapak mudhun sing dipan terus salin nganggo clana. Karo bèrès-bèrès sandhangané Bapak, enyong takon maring Mas Gun,bisané baliké saiki,apa ora kesalahan.
“Lho, Bapak kan wis waras. Enggih Pak?. Dokter Bambang ya wis ngijini balik. Biaya perawatan lan sèjèn-sèjèné ya wis tak lunasi…Aku ya wis pamit karo dokter Bambang lan perawat sing jaga”
Kebeneran barang-barangé Bapak ora akèh, mung sa-tas thok. Sadurungé metu sing kamar,Mas Gun ngrogoh sak clana, ngetokna kunci cilik terus diwèkna Bapak.
“Niki kunci laci meja tulisé Bapak”, jaré Mas Gun karo nglirik maring enyong. Nyong kaget,satlérapan kèlingan maring surat-surat pribadiné Bu Neneng sing disimpen nang laci meja tulisé Bapak. Nang ati nyong takon,bisané ka salawasé Bapak dirawat kunci laci ana nang tangané Mas Gun. Pitakonan sing ora perlu dijawab. Sing penting bungahé nyong ora kira-kira, èsuk kuwé Bapak wis metu sing paviliun Nusa Indah Rumah Sakit Kardinah Tegal. Bapak digandhèng karo Mas Wondo, di-iringna Mas Gun karo nyong sing nyangklèk tas. Wong papat mlaku gancang ngliwati lurung-lurung rumah sakit sing sepi. Pas anjog nang plataran parkir sisih wètan, keprungu adzan subuh sing mesjid Baiturrahiem sing ana nang kidul prapatan Kejambon….(Ana tutugé)
Sebabé apa Bu Neneng minggat ?
Terus minggaté maring endi ?
Sapa sabeneré Bu Neneng ?
Tunggu baé nang Episode 2 : "Bu Neneng....Oh Bu Neneng"
Langgan:
Entri (Atom)